Mengapa Joao Pedro Tak Masuk Skuad Brasil di Piala Dunia 2026?

- Joao Pedro tampil gemilang di Chelsea dengan 15 gol dan 8 assist, bahkan dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Klub 2025/2026 berkat kontribusinya membawa tim juara Piala Dunia Antarklub.
- Meski bersinar di level klub, Joao Pedro gagal menunjukkan ketajaman bersama Timnas Brasil karena belum mencetak gol dari delapan penampilan, membuat kepercayaan Ancelotti menurun.
- Carlo Ancelotti mencoret Joao Pedro demi keseimbangan taktis dan memilih Neymar serta striker lain seperti Igor Thiago, Rayan, dan Endrick untuk mengisi lini depan Brasil di Piala Dunia 2026.
Timnas Brasil telah mengumumkan 26 pemain yang dibawa untuk Piala Dunia 2026. Carlo Ancelotti selaku pelatih Selecao membuat keputusan yang menuai pro-kontra dengan tak memanggil ujung tombak Chelsea, Joao Pedro. Ini mengingat pemain berusia 24 tahun tersebut tampil gemilang bersama The Blues dengan mengemas 15 gol dan 8 assist dari 34 laga di English Premier League (EPL) 2025/2026.
Keputusan Ancelotti tersebut kian memicu perdebatan lantaran lebih memilih memanggil Neymar Jr kembali setelah absen lama. Menarik sekaligus ironis, selang beberapa hari pengumuman skuad final Brasil, Joao Pedro justru dinobatkan sebagai Chelsea Player of the Season 2025/2026. Lantas, apa alasan Ancelotti tak membawa Joao Pedro kendati menunjukkan performa apik musim ini?
1. Joao Pedro mencatatkan sejarah di Chelsea hingga dianugerahi Pemain Terbaik Klub 2025/2026
Chelsea mendatangkan Joao Pedro dari Brighton & Hove Albion dengan nilai transfer senilai 60 juta pound sterling (Rp1,423 triliun) pada musim panas 2026. Tak butuh waktu lama untuk beradaptasi, ia langsung mengantarkan klubnya menjuarai Piala Dunia Antarklub 2026. Selain mencetak gol di final, ia juga berperan sebagai aktor utama kala mencetak 2 gol kemenangan pada semifinal melawan Fluminense.
Dilansir Goal, Pedro sukses mengukir sejarah sebagai pemain keenam klub yang mampu mencatatkan minimal 20 keterlibatan gol pada musim debut. Pencapaian sensasional ini menyejajarkannya dengan para legenda seperti Eden Hazard dan Diego Costa. Ia mengalami evolusi pada karakteristik bermainnya dari peran number 10 menjadi false 9 dan penyerang tengah murni yang mematikan.
Data The Athletic mencatat efisiensi luar biasa dari perubahan gaya main Joao Pedro. Ia menorehkan tingkat konversi tembakan nonpenalti mencapai 22 persen dan peningkatan akurasi sundulan dari 13 persen musim lalu menjadi 27 persen musim ini di Premier League. Ia secara sadar mulai membatasi eksekusi jarak jauh dari luar kotak penalti demi memfokuskan kemampuan menyerangnya di dekat gawang lawan.
Kontribusi gemilang Joao Pedro mengantarkannya sebagai Chelsea Men's Player of the Season dari para pendukung. Ia memenangi jajak pendapat daring setelah mendominasi lebih dari 60 persen suara pemilih dari berbagai fans penjuru dunia. Dirinya mengungguli rekan setimnya yang memiliki reputasi global seperti Enzo Fernandez dan Moises Caicedo dalam pemungutan suara.
2. Cemerlang di level klub, Joao Pedro justru gagal bersinar saat membela Timnas Brasil
Performa nyata Joao Pedro di level klub justru berbanding terbalik dengan statistiknya ketika membela Timnas Brasil. Ia harus menghadapi kenyataan pahit di panggung internasional karena belum sanggup mengemas satu gol pun bagi negaranya. Kegundahan publik Brasil mengiringi catatan minor sang penyerang setelah mengoleksi delapan caps bersama Selecao.
Absennya sumbangsih gol secara langsung dari seorang penyerang tengah menjadi rapor merah yang memberatkan penilaian akhir Carlo Ancelotti. Sang pelatih sebenarnya sudah memberikan kesempatan bermain kepada Joao Pedro dalam lima laga internasional di bawah asuhannya. Namun, ia tak mampu menjawab kepercayaan Ancelotti hingga melemahkan posisi tawarnya secara signifikan menjelang tenggat waktu penentuan komposisi resmi skuad.
Tim kepelatihan nasional terdahulu sebetulnya sudah mendeteksi hambatan karier internasional Joao Pedro sejak tahun lalu. Mereka tidak menyertakan nama penyerang Chelsea itu ke daftar skuad resmi untuk Copa America 2024. Ketiadaan jam terbang di turnamen besar membuat Ancelotti meragukan kematangan mental serta ketahanan sang ujung tombak dalam menghadapi tekanan tinggi kompetisi dunia.
3. Kebutuhan taktis mendasari keputusan Carlo Ancelotti tak memanggil Joao Pedro
Carlo Ancelotti secara terbuka mengakui dilema mendalam saat terpaksa mencoret Joao Pedro dari daftar resmi skuad Brasil menuju Piala Dunia 2026. Pelatih kawakan itu sampai-sampai menyampaikan permintaan maaf kepada sang pemain melalui sesi konferensi pers di hadapan awak media. Ia menegaskan kelayakan performa impresif sang penyerang di Eropa untuk berada di dalam daftar skuad utama.
Tingkat persaingan internal di lini serang Selecao memaksa jajaran pelatih mengambil langkah pragmatis demi menjaga keseimbangan taktis elemen tim. Ancelotti mengutamakan reputasi besar serta kepemimpinan matang dengan memanggil kembali sosok Neymar Jr yang kini berumur 34 tahun. Bintang senior itu memperoleh tempat khusus meskipun belum pernah memperkuat tim nasional sejak Oktober 2023 akibat masalah kebugaran.
Tim pelatih menilai dampak positif serta karisma Neymar dapat menghidupkan atmosfer ruang ganti selama turnamen berlangsung. Badai cedera parah di lini serang juga memaksa Ancelotti mengubah skema taktis utama Brasil secara mendadak. Penyerang sayap andalan, Rodrygo Goes, menderita cedera anterior cruciate ligament (ACL), sedangkan talenta muda Chelsea, Estevao Willian, gagal pulih tepat waktu dari cedera hamstring.
Kehilangan para pemain sayap cepat memaksa Ancelotti memprioritaskan karakteristik individu yang lebih spesifik untuk menyusun komposisi skuad. Brasil akhirnya menjatuhkan pilihan utama kepada Igor Thiago dari Brentford karena mengungguli Joao Pedro dalam torehan gol Premier League musim ini. Sang pelatih turut menyertakan penyerang eksplosif seperti Rayan dari AFC Bournemouth serta Endrick dari Olympique Lyon untuk melengkapi kebutuhan rotasi menyusul penurunan performa domestik Joao Pedro pada periode tertentu.
Pencoretan nama Joao Pedro dari Timnas Brasil menjadi bukti nyata betapa kejamnya persaingan internal sepak bola level internasional jelang Piala Dunia 2026. Ketidakhadiran sang penyerang di turnamen akbar ini justru memberikan berkah tersendiri berupa keuntungan kebugaran fisik bagi Chelsea dalam mempersiapkan kekuatan musim depan.


















