Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Nomor Punggung 22 Tottenham sebelum Conor Gallagher

ilustrasi suasana di luar Stadion Tottenham Hotspur
ilustrasi suasana di luar Stadion Tottenham Hotspur (unsplash.com/Omri Yamin)
Intinya sih...
  • Brennan Johnson kehilangan peran utama setelah pergantian manajer
  • Pierluigi Gollini hanya berperan sebagai pelapis di Tottenham Hotspur
  • Kesempatan bermain Paul Gazzaniga sangat terbatas selama membela Tottenham Hotspur
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Conor Gallagher dibeli Tottenham Hotspur dari Atletico Madrid pada musim dingin 2026. Harganya terbilang tinggi. Tepatnya mencapai 34 juta pound sterling (sekitar Rp769 miliar).

Gallagher sendiri akan mengenakan nomor punggung 22. Menariknya, nomor ini baru saja kosong setelah Brennan Johnson pindah ke Crystal Palace pada bursa transfer musim dingin 2026. Termasuk Johnson, berikut lima pengguna terakhir nomor 22 Tottenham Hotspur sebelum Conor Gallagher.

1. Pergantian manajer membuat peran Brennan Johnson perlahan memudar

Brennan Johnson awalnya jadi andalan di Tottenham Hotspur. Dia kerap menjadi kartu as ketika lini depan mengalami kebuntuan. Pemain Wales itu bahkan pernah menjadi top skor klub pada 2024/2025 dengan torehan 18 gol. Namun, kedatangan manajer anyar, Thomas Frank, perlahan melunturkan perannya di skuad utama.

Pada 2025/2026, Johnson jarang tampil starter. Dia hanya mencatatkan enam kali saat bermain pada menit awal. Hal itu pun membuat Johnson akhirnya memilih angkat kaki setelah 3 musim membela Spurs. Dia menerima pinangan Crystal Palace dengan mahar 35 juta pound sterling (sekitar Rp791 miliar).

2. Pierluigi Gollini hanya berperan sebagai pelapis

Tottenham Hotspur tampaknya cukup akrab dengan kiper asal Italia. Salah satunya adalah Pierluigi Gollini. Spurs meminjamnya dari Atalanta pada 2021/2022. Memang, kedatangan Gollini diplot sebagai pelapis Hugo Lloris, mengingat kiper lain saat itu masih tergolong muda.

Sesuai peran tersebut, kesempatan bermain Gollini pun sangat terbatas. Dia hanya mencatatkan sepuluh laga di semua ajang bersama Spurs. Semuanya terjadi di ajang kompetisi piala, sementara di English Premier League (EPL), Gollini tidak pernah sekalipun dimainkan.

3. Kesempatan bermain Paul Gazzaniga sangat terbatas

Masih dari posisi penjaga gawang, kali ini ada Paul Gazzaniga. Kiper asal Argentina ini membela Tottenham Hotspur selama 4 musim. Itu terjadi pada 2017–2021.

Selama periode tersebut, peran Gazzaniga lebih sering menjadi pilihan kedua. Alhasil, jumlah laga yang dia dapatkan pun terbatas. Dia hanya mencapai 37 laga di semua ajang.

Dia sebenarnya sempat tampil cukup banyak pada 2019/2020. Saat itu, Hugo Lloris sedang mengalami cedera. Namun, setelah sang kiper utama pulih, posisinya kembali tersisih.

4. Cedera menjadi penghambat karier Nacer Chadli di sana

Pada musim panas 2013, Tottenham Hotspur mendatangkan kurang lebih tujuh pemain dari hasil penjualan Gareth Bale ke Real Madrid. Salah satu pemain yang datang adalah Nacer Chadli. Winger asal Belgia itu diboyong The Lilywhites usai tampil impresif bersama FC Twente. Namun, kiprahnya selama di London Utara itu tidak sepenuhnya berjalan mulus.

Chadli kerap dibekap cedera. Hal ini membuat performanya kurang maksimal. Akan tetapi, dia tetap bertahan selama 3 musim bersama Spurs dengan mencatatkan 25 gol dan 14 umpan dari 119 laga di semua ajang.

5. Gylfi Sigurdsson gagal menunjukkan performa terbaiknya

Gylfi Sigurdsson menjadi pemain pertama yang didatangkan Andre Villas-Boas pada 2012. Namun, kebersamaan keduanya tidak berjalan mulus. Gelandang asal Islandia itu dinilai kurang cocok dengan strategi manajer asal Portugal itu. Akibatnya, kontribusi Sigurdsson tidak keluar maksimal di sana.

Situasi tersebut membuatnya mempertimbangkan untuk pindah klub. Tottenham Hotspur pun menyetujui kepergiannya. Terlebih, Swansea City menunjukkan minat besar terhadap gelandang kreatif itu. Spurs akhirnya melepas Sigurdsson dengan skema transfer yang melibatkan tambahan Ben Davies dalam kesepakatan tersebut pada 2014. Alhasil, dia hanya mencatatkan 13 gol dari 83 laga di semua ajang bersama The Lilywhites.

Keinginan Conor Gallagher untuk bergabung dengan Tottenham Hotspur akhirnya terwujud. Kini, tinggal bagaimana gelandang asal Inggris itu membuktikan kualitasnya di lapangan. Apakah akan berhasil, atau justru akan nihil? Menarik untuk dinantikan kiprahnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us

Latest in Sport

See More

Respons Cuek Juergen Klopp Soal Rumor Latih Real Madrid

20 Jan 2026, 13:42 WIBSport