Para Pelaku Kekerasan Seksual di Piala Dunia 2026

- Kaishu Sano, meski pernah ditangkap atas kasus pemerkosaan di Jepang, tetap dipanggil ke Timnas Jepang untuk Piala Dunia 2026 setelah kasusnya diselesaikan lewat kompensasi dan permintaan maaf publik.
- Thomas Partey menghadapi tujuh tuntutan kekerasan seksual di Inggris namun tetap bermain untuk Ghana di Piala Dunia 2026; ia ditolak masuk Kanada tetapi diterima Amerika Serikat.
- Kasus Sano dan Partey mencerminkan budaya permisif dalam industri olahraga terhadap pelaku kekerasan seksual, diperkuat oleh relasi kuasa, dukungan federasi, serta sikap publik yang mudah melupakan skandal.
Lumrah bila dalam turnamen olahraga, kita fokus kepada pertandingan dan performa tim. Namun, ada beberapa hal yang seharusnya ikut jadi sorotan, yakni keikutsertaan sejumlah pelaku kekerasan seksual di beberapa tim peserta Piala Dunia edisi ini. Kaishu Sano di Timnas Jepang dan Thomas Partey di Timnas Ghana adalah sosok yang dimaksud.
Miris, meski sempat masuk berita dan jadi perbincangan hangat di media, karier keduanya tak banyak terdampak. Bahkan dua pemain itu dipanggil mewakili timnas masing-masing di turnamen yang katanya elite tersebut. Apa artinya? Mengapa kita begitu permisif kepada pelaku kekerasan seksual?
1. Kaishu Sano nikmati debutnya di Piala Dunia
Kasus yang melibatkan Kaishu Sano terjadi pada Juli 2024. Ia ditangkap bersama dua rekannya setelah seorang perempuan mengaku jadi korban pemerkosaan kepada kepolisian Tokyo. Pelaku seks tanpa persetujuan itu salah satunya teridentifikasi sebagai Sano yang baru saja menandatangani kontrak dengan klub Jerman, FSV Mainz 05. Setelah ditahan kurang lebih 2 minggu, Sano dibebaskan tanpa tuntutan. Ia kemudian tampil ke publik menyatakan permintaan maaf formal kepada korban dan publik Jepang secara umum karena telah membuat masalah.
Beberapa media melaporkan kasus Sano ditutup lewat pembayaran kompensasi. Hal ini cukup lumrah dalam hukum Jepang, termasuk dalam kasus kekerasan seksual. Seperti yang diungkap Gavan Gray dalam jurnal Gender Violence, the Law, and Society pada 2022 dengan judul ‘Legal Responses to Sexual Violence in Japan: First Steps in a Lengthy Process of Rehabilitation’. Jidan istilahnya, semacam ganti rugi yang dibayarkan untuk menyelesaikan sebuah konflik. Sano, setelah dinyatakan bebas dari tuntutan, terbang ke Jerman dan melanjutkan kariernya tanpa masalah.
Ketika Jepang mengumumkan daftar skuad mereka untuk Piala Dunia 2026, nama Kaishu Sano tercantum. Keputusan itu sempat menuai kritik. Namun, Direktur Timnas Jepang, Masahiro Yamamoto, dilansir media Jepang, Soccer Diggest, menyatakan tiga alasan yang mendasari keputusan tersebut. Pertama, Sano sudah meminta maaf dan membuat kesepakatan damai dengan korban. Kedua, ia sudah menyesali perbuatannya. Dan yang terakhir, tuntutan atas dirinya sudah digugurkan dan tidak akan dilanjutkan.
Pelatih Hajime Moriyasu juga menegaskan pilihannya. Ia menyebut Sano sebagai keluarga dan memaafkan kesalahannya. Begitulah, pada 14 Juni 2026, kurang lebih 2 tahun setelah kekerasan seksual yang dilakukannya, Sano berhasil debut pada Piala Dunia pertamanya di Dallas, Amerika Serikat.
2. Thomas Partey diterima di Amerika Serikat, ditolak di Kanada
Nasib agak lain menghampiri Thomas Partey, pemain Timnas Ghana yang juga membela Villareal. Pada 2025, Partey dituntut atas 5 kasus pemerkosaan dan 1 kasus pelecehan seksual. Keenamnya ia respons dengan pernyataan tidak bersalah. Pada 2026, tuntutan atas dirinya bertambah lagi, yakni 2 kasus pemerkosaan yang lagi-lagi ia respons dengan pernyataan tak bersalah. Ketujuh tuntutan tersebut terjadi di Inggris saat ia masih berstatus pemain Arsenal dan ditangani kepolisian setempat. Namun, sampai sekarang peradilannya masih dalam proses.
Dilansir The Athletic, proses peradilan kasus Partey baru akan dimulai pada akhir November 2026 dan ada kemungkinan ditunda sampai 2027. Sembari menunggu proses itu, Partey bisa berkarier tanpa hambatan. Ia diturunkan secara reguler, meski tak selalu starter, di Villareal dan dipercaya jadi salah satu penggawa Timnas Ghana untuk Piala Dunia 2026. Semua berjalan lancar, Partey bahkan bisa lolos ketatnya imigrasi Amerika Serikat dan berpartisipasi dalam sesi latihan timnya di Rhode Island.
Masalah baru muncul saat Ghana akan berlaga di Toronto, Kanada, untuk laga perdana fase grup melawan Panama. Kanada menolak Partey masuk ke teritorinya karena kasus kekerasan seksual tersebut. Hal ini bikin Timnas Ghana geram dan meminta Kanada untuk meninjau ulang keputusan mereka. Kanada bersikeras kepada sikap mereka, didukung FIFA yang menyatakan itu hak prerogatif tiap negara. Dengan begitu dipastikan Partey tak bisa ikut ketika timnya berlaga di Toronto. Namun, tenang, Ghana masih punya setidaknya dua jadwal pertandingan fase grup di luar Kanada yang kansnya besar untuk ia ikuti. Jika tidak ditolak Kanada, mungkin orang juga akan cenderung melupakan kasusnya seperti kita melupakan kasus yang menyangkut Sano.
3. Fenomena 'biasa' dalam industri olahraga
Melihat dua nasib pelaku kekerasan seksual yang secara umum aman-aman saja posisinya itu rasanya cukup familier. Kalau kamu sempat tahu, ada kasus lima pemain timnas hoki pria Kanada yang dibebaskan setelah melalui proses peradilan dramatis atas kasus pemerkosaan terhadap seorang perempuan. Dilansir ESPN, salah satu alasan mengapa mereka bisa bebas adalah inkonsistensi kesaksian korban. Kesimpulan ini amat sering terjadi dalam kasus pemerkosaan. Ini karena kasus tersebut umumnya minim bukti fisik, karena korban menunda visum akibat malu atau terguncang secara psikis, serta saksi mata karena tindak pidana kerap terjadi di ruang tertutup dan bertumpu pada memori korban.
Para pengacara secara umum sepakat kalau kekerasan seksual adalah salah satu kasus kriminal yang paling sulit dibuktikan. Bahkan, di Jepang sempat ada klausul yang menyatakan penuntut harus bisa membuktikan bahwa, “korban kesulitan menolak atau melawan”. Pada revisi 2023, klausul yang sering bikin pelaku bebas itu dihapus dan kini penuntut cukup membuktikan ketiadaan persetujuan.
Perbaikan undang-undang saja belum bisa menciptakan keadilan yang sebenar-benarnya. Kita harus sadar adanya ketimpangan relasi kuasa yang memungkinkan atlet profesional dengan status elite mendapat dukungan terbaik. Conor McGregor, atlet seni bela diri campuran (MMA) yang dituduh memperkosa Nikita Hand dinyatakan bersalah, tetapi tidak divonis hukuman penjara. Ia hanya perlu membayar kompensasi dan kini sudah aktif lagi.
Dari kasus Partey dan Sano, kita juga bisa melihat betapa getolnya federasi sepak bola masing-masing membela mereka. Membayar kompensasi atau ganti rugi dan perwakilan hukum terbaik juga bukan masalah buat mereka. Tak pelak, sampai sekarang kita bakal tetap bisa melihat atlet yang pernah tersandung skandal melenggang tanpa masalah. Apalagi, menurut sejumlah riset, pria sebagai gender yang mendominasi fans olahraga punya kecenderungan permisif terhadap kasus kekerasan seksual. Kasus itu akan mudah dilupakan asal mereka bermain cemerlang di lapangan. Bukankah begitu kecenderungannya?

















