Kasus yang melibatkan Kaishu Sano terjadi pada Juli 2024. Ia ditangkap bersama dua rekannya setelah seorang perempuan mengaku jadi korban pemerkosaan kepada kepolisian Tokyo. Pelaku seks tanpa persetujuan itu salah satunya teridentifikasi sebagai Sano yang baru saja menandatangani kontrak dengan klub Jerman, FSV Mainz 05. Setelah ditahan kurang lebih 2 minggu, Sano dibebaskan tanpa tuntutan. Ia kemudian tampil ke publik menyatakan permintaan maaf formal kepada korban dan publik Jepang secara umum karena telah membuat masalah.
Beberapa media melaporkan kasus Sano ditutup lewat pembayaran kompensasi. Hal ini cukup lumrah dalam hukum Jepang, termasuk dalam kasus kekerasan seksual. Seperti yang diungkap Gavan Gray dalam jurnal Gender Violence, the Law, and Society pada 2022 dengan judul ‘Legal Responses to Sexual Violence in Japan: First Steps in a Lengthy Process of Rehabilitation’. Jidan istilahnya, semacam ganti rugi yang dibayarkan untuk menyelesaikan sebuah konflik. Sano, setelah dinyatakan bebas dari tuntutan, terbang ke Jerman dan melanjutkan kariernya tanpa masalah.
Ketika Jepang mengumumkan daftar skuad mereka untuk Piala Dunia 2026, nama Kaishu Sano tercantum. Keputusan itu sempat menuai kritik. Namun, Direktur Timnas Jepang, Masahiro Yamamoto, dilansir media Jepang, Soccer Diggest, menyatakan tiga alasan yang mendasari keputusan tersebut. Pertama, Sano sudah meminta maaf dan membuat kesepakatan damai dengan korban. Kedua, ia sudah menyesali perbuatannya. Dan yang terakhir, tuntutan atas dirinya sudah digugurkan dan tidak akan dilanjutkan.
Pelatih Hajime Moriyasu juga menegaskan pilihannya. Ia menyebut Sano sebagai keluarga dan memaafkan kesalahannya. Begitulah, pada 14 Juni 2026, kurang lebih 2 tahun setelah kekerasan seksual yang dilakukannya, Sano berhasil debut pada Piala Dunia pertamanya di Dallas, Amerika Serikat.