Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Profil Gabriel Heinze, Asisten Baru Mikel Arteta di Arsenal

ilustrasi stadion sepak bola
ilustrasi stadion sepak bola (IDN Times/Mardya Shakti)
Intinya sih...
  • Gabriel Heinze adalah bek terbaik Argentina dengan 72 caps, 3 gol, dan 2 assist serta pengalaman bermain di klub top Eropa.
  • Heinze telah menukangi lima klub sebagai kepala pelatih, termasuk membawa Argentinos Juniors promosi dan meningkatkan posisi Velez Sarsfield.
  • Mikel Arteta memilih Heinze karena koneksi kuat mereka sebagai rekan setim di Paris Saint-Germain dan kesamaan ide serta prinsip dalam sepak bola.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Arsenal bukan hanya merekrut pemain pada musim panas 2025. The Gunners turut mendatangkan personel baru untuk staf pelatih. Gabriel Heinze diumumkan secara resmi sebagai asisten anyar Mikel Arteta pada 8 Juli. Pria asal Argentina ini dipilih untuk menggantikan Carlos Cuenca yang dipinang Parma.

Kehadiran Heinze di London Colney bisa dibilang sebagai sebuah tambahan amunisi yang mewah. Sebabnya, sosok yang lahir pada 19 April 1978 tersebut memiliki rekam jejak yang mentereng. Ia berkualitas dan berpengalaman sebagai pemain maupun pelatih. Heinze pun diharapkan bisa membantu Arsenal meraih trofi yang mereka idam-idamkan.

1. Gabriel Heinze bergelimang trofi saat masih bermain

Gabriel Heinze merupakan salah satu bek terbaik yang pernah dimiliki Argentina. Ia tercatat mengoleksi 72 caps, 3 gol, dan 2 assist. Pemain kidal ini merupakan bagian dari skuad yang berhasil meraih medali emas di Olimpiade 2004. Saat itu, Heinze selalu bermain dalam enam pertandingan dari fase grup hingga final. Ia hanya tidak tampil secara penuh pada perempat final kala mereka menang telak 4-0 atas Kosta Rika.

Sementara, di level klub, Heinze memulai karier seniornya bersama Newell’s Old Boys. Ia lantas direkrut Real Valladolid pada awal 1997/1998. Klub Spanyol tersebut kemudian meminjamkannya kepada Sporting CP semusim berselang dan menjualnya kepada Paris Saint-Germain pada awal 2001/2002. Di klub Prancis ini, nama Heinze benar-benar mencuat. Ia membantu mereka menjuarai Piala Intertoto UEFA 2001/2002 dan Coupe de France 2003/2004.

Setelah 3 musim, performa impresif Heinze membuat Manchester United bersedia menebusnya dengan harga cukup mahal. Hebatnya, pada musim pertamanya (2004/2005), Heinze terpilih sebagai pemain terbaik MU. Ia hengkang pada akhir 2006/2007 setelah membawa Setan Merah meraih trofi English Premier League (EPL). Heinze kembali ke Spanyol usai dibeli Real Madrid dengan mahar yang lebih tinggi.

Heinze hanya membela Real Madrid selama 2 musim dengan raihan trofi LaLiga Spanyol 2007/2008 dan Copa del Rey 2008/2009. Setelah itu, ia melanjutkan kariernya bersama Olympique Marseille. Heinze mengangkat trofi Ligue 1 Prancis 2009/2010 serta Coupe de la Ligue Prancis 2009/2010 dan 2010/2011. Marseille lantas melepasnya secara gratis kepada AS Roma pada awal 2011/2012. Namun, Heinze hanya singgah semusim di Italia.

Penggawa setinggi 1,78 meter tersebut pulang ke Argentina dengan bergabung bersama Newell’s Old Boys. Heinze mengakhiri karier bermainnya bersama klub masa kecilnya ini. Ia mempersembahkan trofi Liga Argentina 2013. Setahun berselang, Heinze pun resmi pensiun. Menurut Transfermarkt, pria berambut gondrong ini membuat 513 penampilan, 30 gol, dan 12 assist selama berprofresi sebagai pemain.

2. Gabriel Heinze sudah menukangi lima klub sebagai kepala pelatih

Setahun setelah pensiun sebagai pemain, Gabriel Heinze langsung memulai karier kepelatihannya. Ia mendapat kesempatan untuk menukangi Godoy Cruz. Namun, Heinze hanya bertahan singkat di klub ini. Ia dipecat akibat catatan 6 kekalahan, 2 keimbangan, dan 2 kemenangan.

Sempat rehat selama setahun, ia kembali ke kursi pelatih dengan memimpin klub kasta kedua di Argentina, Argentinos Juniors. Heinze mampu membawa mereka promosi pada musim pertamanya (2016/2017). Menariknya, ia justru memilih untuk mengundurkan diri setelah kesuksesan tersebut.

Heinze menghadirkan progres serupa di Velez Sarsfield. Ditunjuk pada awal 2018, ia melatih mereka selama 3 musim. Heinze membawa Velez meningkat dari posisi 14, ke posisi 6, dan meninggalkan klub di posisi 3. Ia hengkang akibat kontrak yang habis.

Pada awal 2021, Heinze bekerja di luar negeri untuk pertama kalinya dengan melatih Atlanta United. Namun, ia gagal memberikan hasil yang memuaskan. Heinze dipecat setelah 17 pertandingan dengan catatan 4 kemenangan, 8 keimbangan, dan 5 kekalahan.

Dua tahun menganggur, Heinze kembali melatih pada 2023. Ia dipercaya untuk memimpin klub masa kecilnya, Newell’s Old Boys. Heinze hanya melatih Newelll’s Old Boys selama setahun. Ia memilih untuk mengundurkan diri karena gagal mempersembahkan trofi.

3. Gabriel Heinze dan Mikel Arteta memiliki koneksi yang kuat

Salah satu alasan Mikel Arteta memilih Gabriel Heinze sebagai pengganti Carlos Cuenca adalah karena koneksi kuat yang dimiliki mereka. Arteta dan Heinze merupakan rekan setim di Paris Saint-Germain pada paruh kedua 2001/2002. Saat itu, Arteta datang ke Paris sebagai pemain pinjaman dari Barcelona. Meski hanya bermain bersama selama 6 bulan, keduanya dilaporkan menjalin hubungan yang cukup dekat.

Dilansir The Athletic, Arteta menyebut Heinze sebagai salah satu sosok yang memberikan bantuan paling besar ketika berada di PSG. Ini wajar mengingat Arteta saat itu masih berusia 18 tahun. Sementara, Heinze berumur 5 tahun lebih tua darinya. Arteta menganggap Heinze sebagai inspirasi karena menjadi contoh baginya untuk bertindak sebagai pemain profesional dan juga memahami permainan sepak bola secara lebih utuh.

Keduanya memang tidak pernah lagi mendapat kesempatan seperti itu. Namun, mereka sempat bermain di Premier League pada periode yang sama. Setelah Heinze bergabung dengan Manchester United pada awal 2004/2005, Arteta menyusul 6 bulan berselang usai direkrut Everton dari Rangers. Tiga tahun kemudian, Heinze meninggalkan Inggris. Sementara, Arteta bertahan sampai pensiun di Arsenal pada 2016.

Meski terhitung singkat, pengalaman Heinze di sepak bola Inggris tersebut jelas menjadi alasan lain Arteta mengajaknya untuk kembali bekerja sama. Selain itu, pujian yang disampaikan Arteta untuk Heinze di atas juga mengindikasikan adanya kesamaan akan ide dan prinsip mengenai sepak bola. Setidak-tidaknya, itu terlihat dari skema 4-3-3 yang dipakai mereka.

Sebagai pelatih, Heinze mungkin tidak bergelimang prestasi seperti ketika masih bermain. Namun, kinerjanya sejauh ini menunjukkan potensi tersebut. Lagi pula, Arteta tentu merekrutnya bukan hanya karena faktor kemampuan dalam melatih. Jika melihat rekam jejaknya, alasan lain yang membuat Arteta mengajak Heinze untuk berkolaborasi adalah karena karakter dan mental pemenangnya.

Ini jelas sangat sesuai dengan hasil yang diraih Arsenal selama 3 musim terakhir. Mereka selalu gagal menjadi juara English Premier League karena terhenti sebagai runner-up. Apa yang dibutuhkan Arsenal untuk melewati adangan terakhir tersebut mungkin bukan hanya perbaikan dari sisi permainan, melainkan juga mentalitas. Gabriel Heinze diharapkan bisa membantu mereka memenuhi syarat tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Gagah N. Putra
EditorGagah N. Putra
Follow Us