Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Profil Sebastien Pocognoli, Pelatih Muda yang Resmi Tukangi Skotlandia

Profil Sebastien Pocognoli, Pelatih Muda yang Resmi Tukangi Skotlandia
ilustrasi pertandingan sepak bola (unsplash.com/Alfonso Scarpa)
  • Sebastien Pocognoli, 39 tahun, resmi menjadi pelatih kepala Timnas Skotlandia dengan kontrak dua tahun, setelah membangun reputasi sebagai pelatih muda potensial di Eropa.
  • Mantan bek kiri Belgia ini pernah membela Genk, AZ Alkmaar, Standard Liege, Hannover, West Brom, Brighton, dan Union Saint-Gilloise; ia mengoleksi 13 penampilan bersama timnas senior Belgia.
  • Karier kepelatihannya dimulai di tim junior sebelum membawa Union Saint-Gilloise juara liga Belgia 2024/2025 setelah 90 tahun, lalu sempat menangani AS Monaco hingga Juni 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sepak bola Britania Raya dikejutkan dengan penunjukan Sebastien Pocognoli sebagai pelatih kepala baru Tim Nasional Skotlandia pada Senin (17/8/2026) kemarin. Di usianya yang baru menginjak 39 tahun, ia dipercaya memimpin The Tartan Army dengan kontrak berdurasi dua tahun. Penunjukan ini menegaskan statusnya sebagai salah satu juru taktik muda paling potensial di Eropa. Penasaran bagaimana perjalanan kariernya dari masih aktif merumput di lapangan hingga banting setir sebagai pelatih? Yuk, simak rekam jejaknya berikut!

  1. 1. Meraih trofi pertamanya di usia 21 tahun bersama AZ Alkmaar di musim 2008/2009

    Dilansir situs resmi Ligue 1, pemilik nama lengkap Sebastien Jean Pocognoli itu lahir di Seraing, Belgia, pada 1 Agustus 1987. Berposisi sebagai bek kiri, ilmu sepak bola mulai dipelajarinya ketika masuk ke akademi Standard Liege (2000-2004). Namun, ia klub pertama dalam kariernya sebagai pemain profesional adalah KRC Genk (2004-2007). Setelahnya, ia kemudian digaet klub Belanda, AZ Alkmaar (2007-2010) yang saat itu diasuh Louis van Gaal, dan ikut mempersembahkan gelar Eredivisie 2008/2009 di usia 21 tahun.

    Sempat kembali ke kampung halaman untuk membela Standard Liege (2010-2013), ia kembali merantau. Kali ini ia memilih Liga Jerman yakni klub papan tengah, Hannover 96 (2013-2014), sebagai pelabuhan keempat dalam kariernya. Setelah merasakan Bundesliga, Pocognoli memutuskan merantau lebih jauh ke Inggris dengan berseragam West Bromwich Albion (2014-2017).

  2. 2. Sempat merasakan kerasnya sepak bola Inggris bersama West Brom dan Brighton & Hove Albion

    Meski tiga musim berseragam West Brom, Pocognoli juga sempat merasakan persaingan fisik di kasta kedua sepak bola Inggris. Dilansir BBC, ini terjadi saat dirinya dipinjamkan ke Brighton & Hove Albion di awal musim 2016/2017. Bersama klub berjuluk The Seagulls tersebut, ia tampil sebanyak 21 kali di semua ajang dan ikut menyumbang dua gol.

    Setelah dilepas West Brom pada Juni 2017, Pocognoli kembali ke Belgia untuk kembali membela Standard Liege periode kedua (2017-2020). Pada masa bakti keduanya tersebut, dirinya turut andil dalam keberhasilam mengantar Liege menjuarai Piala Belgia 2017/2018. Pocognoli akhirnya pensiun di usia 33 tahun setelah berseragam Union Saint-Gilloise musim 2020/2021.

    Lebih jauh, Pocognoli adalah merupakan langganan Timnas Belgia di berbagai kelompok umur (U-16 hingga U-21). Ini termasuk tampil di ajang Euro U-21 2007, dan catatkan enam penampilan di Olimpiade Beijing 2008. Usai dipanggil ke tim senior untuk pertama kalinya pada Mei 2008, ia mencatatkan debut sebagai starter saat melawan Italia pada 30 Mei 2008. Ia bermain sebanyak 13 kali untuk Timnas Belgia dari tahun 2008 hingga 2014.

  3. 3. Awali karier kepelatihan setelah gantung sepatu dengan menukangi sejumlah tim junior

    Usai gantung sepatu pada Juli 2021, Pocognoli tetap berkecimpung di dunia sepak bola. Namun, dirinya memilih menjadi pelatih alias mendampingi tim dari tepi lapangan. Ia memilih merintis karier kepelatihannya secara bertahap dari bawah dengan memegang tim Union Saint-Gilloise U-21.

    Dilansir ESPN, kinerjanya yang impresif menarik minat Genk yang kemudian mempercayakannya mengarsiteki Genk U-18. Tak hanya di tingkat klub, pemahaman taktik serta keahliannya dalam menggembleng talenta muda membuat federasi Belgia memanggilnya untuk melatih Timnas Belgia kelompok umur (U-16 dan U-18) hingga 2024. Praktis, tiga tahun awal karier kepelatihan Pocognoli berfokus pada pembinaan talenta muda Belgia.

  4. 4. Membawa Union Saint-Gilloise memutus puasa gelar selama 90 tahun di musim 2024/2025

    Dilansir situs resmi Scottish FA, Pocognoli baru benar-benar melesat dipercaya menjadi pelatih tim senior Union Saint-Gilloise (USG) pada musim panas 2024. Di luar dugaan, ia sukses mengakhiri dahaga gelar liga selama 90 tahun bagi USG dengan menjuarai Belgian Pro League 2024/2025, atau di musim pertamanya menjadi pelatih. Tak cuma itu, USG turut diantar meraih Belgian Super Cup 2024, kemudian menjalani debut di fase grup Liga Champions Eropa 2025/2026.

    Keberhasilan bersama USG turut mengantar Pocognoli merengkuh penghargaan Belgian Coach of the Year 2025. Deretan capaian membuat klub Ligue 1 Prancis, AS Monaco, merekrutnya pada Oktober 2025. Sayangnya, Monaco harus finis di peringkat 7 Ligue 1 2025/2026. Lantaran agal memenuhi target lolos ke Liga Champions Eropa, Pocognoli kemudian dilepas Monaco pada awal Juni 2026 lalu.

    Meski baru menukangi dua klub, Asosiasi Sepak Bola Skotlandia jelas kepincut dengan reputasi Sebastien Pocognoli sebagai salah satu pelatih muda menjanjikan di Eropa saat ini. Meski intensitas tekanan di tim nasional tak sebesar ketika menukangi klub, juru taktik 39 tahun tersebut harus berhadapan dengan harapan besar suporter. Skotlandia sedang memiliki deretan pemain berkualitas, dan tugas Pocognoli kini adalah memacu mereka tetap bersaing di level tertinggi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More