Taktik Kaku Ruben Amorim yang Bikin Manchester United Mandek

- Pelatih Ruben Amorim tetap kukuh dengan skema 3-4-3
- Fleksibilitas taktik menjadi kunci utama dalam pertandingan
- Optimisme pemain harus diiringi dengan perubahan strategi dan eksekusi
Manchester United lagi-lagi menjadi buah bibir di kalangan penggemar mengenai penampilan buruk mereka saat melawan Fulham pada pekan kedua English Premier League (EPL) 2025/2026. Laga yang berlangsung di Craven Cottage itu berakhir imbang 1-1, yang membuat tim asuhan Pelatih Ruben Amorim belum meraih kemenangan dalam dua pertandingan pembuka. Hasil tersebut memperpanjang tekanan publik terhadap sang pelatih yang terkenal kukuh dengan sistem taktik pilihannya.
Banyak pihak menyoroti keputusan Amorim yang tetap bertahan dengan skema 3-4-3 meskipun menghadapi kebuntuan di lapangan. Analisis dari berbagai sumber menunjukkan, pendekatan taktik yang tidak fleksibel, pengelolaan momen krusial yang kurang tepat, dan kecenderungan mempertahankan ideologi bermain menjadi titik lemah utama. Namun, di balik kekecewaan, terdapat juga secercah optimisme yang bisa menjadi modal perbaikan bagi Manchester United ke depan.
1. Pelatih Fulham mampu memanfaatkan kekakuan taktik Ruben Amorim
Ruben Amorim dikenal sebagai pelatih yang memegang pakem 3-4-3 dan menganggapnya sebagai satu-satunya jalan. Ia menolak menyesuaikan formasi meskipun skuad Manchester United merupakan campuran pemain dari enam era kepelatihan berbeda yang belum terbiasa dengan pendekatan tersebut. Hal ini menimbulkan risiko besar karena lawan bisa membaca pola permainan dan menemukan celah untuk mengeksploitasinya.
Fulham di bawah arahan Pelatih Marco Silva memberikan contoh nyata bagaimana skema Amorim bisa diantisipasi. Silva memutuskan meniru susunan tiga bek Setan Merah dan menambahkan keunggulan jumlah di lini tengah dengan formasi 3-5-1-1. Strategi ini membuat Alex Iwobi menjadi pemain bebas di lini tengah dan memimpin serangan yang menghasilkan gol penyeimbang melalui Emile Smith Rowe.
Meskipun Manchester United memimpin terlebih dahulu melalui gol bunuh diri Rodrigo Muniz pada menit ke-58, mereka tidak mampu mempertahankan kontrol permainan. Amorim tidak mengubah struktur dasarnya secara signifikan meskipun Fulham meningkatkan tekanan pada babak kedua. Pelajaran utama dari situasi ini yaitu, fleksibilitas taktik merupakan kunci, bukan sekadar mempertahankan formasi yang diyakini benar.
2. Sistem Ruben Amorim gagal menyesuaikan taktik lawan pada momen kritis
Setelah unggul pada babak kedua, Manchester United justru kehilangan kendali permainan dan membiarkan Fulham mengembangkan serangan. Ruben Amorim mengakui dalam wawancara usai laga, timnya lupa bagaimana bermain setelah mencetak gol dan terlalu fokus bertahan. Akibatnya, momentum pertandingan berubah dan Fulham berhasil mencetak gol penyeimbang hanya beberapa menit kemudian.
Situasi ini memperlihatkan perlunya pengelolaan momen kritis yang lebih baik. Amorim seharusnya melakukan penyesuaian cepat, baik melalui instruksi taktik maupun pergantian pemain yang tepat waktu. Hal ini mengingatkan kepada final Liga Europa 2024/2025 melawan Tottenham Hotspur pada Mei 2025, ketika Amorim dikritik karena terlambat melakukan pergantian hingga menit ke-71.
Pengambilan keputusan yang terlambat juga membuat pemain tidak bisa memberikan dampak maksimal di lapangan. Pada pertandingan melawan Fulham, meskipun Mason Mount tampil mengesankan, Manchester United gagal menjaga ritme permainan setelah unggul. Amorim perlu belajar pengelolaan pertandingan bukan hanya tentang sistem, melainkan juga soal bagaimana bereaksi terhadap perubahan dinamika di lapangan secara cepat dan tepat.
3. Optimisme Ruben Amorim harus diiringi fleksibilitas strategi dan eksekusi
Meski belum mencatatkan kemenangan di dua laga awal Premier League 2025/2026, penampilan individu beberapa pemain memberikan alasan untuk tetap optimistis. Mason Mount, misalnya, memperlihatkan kapasitasnya dalam menghubungkan lini tengah dan serangan dengan kontribusi defensif yang solid. Namun, potensi ini akan sia-sia jika Ruben Amorim tetap keras kepala kepada satu pendekatan tanpa mempertimbangkan keseimbangan skuad dan dinamika pertandingan.
Bruno Fernandes, yang minim kontribusi dalam dua laga terakhir, layak mendapat perhatian khusus. Terlepas dari kegagalannya mengeksekusi penalti, Amorim seharusnya lebih tegas mengganti pemain yang tampil di bawah standar, termasuk Fernandes yang selama ini menjadi pusat permainan tim. Pendekatan yang lebih realistis dapat mencegah hilangnya momentum akibat kesalahan satu individu di lapangan.
Optimisme dapat menjadi modal berharga hanya jika disertai perubahan nyata dalam strategi dan eksekusi. Amorim harus mampu menyeimbangkan idealisme taktiknya dengan kebutuhan praktis di lapangan. Jika tidak, Manchester United berisiko mengulang tren negatif yang terus membayangi mereka sejak musim lalu.
Hasil imbang melawan Fulham memberikan pelajaran penting bagi Pelatih Ruben Amorim mengenai keyakinan taktik tanpa fleksibilitas yang menjadi bumerang. Kini, perbaikan segera diperlukan agar Manchester United tidak terus menelan hasil buruk tiap pertandingan.