Piala Dunia 2010 Afrika Selatan tidak cuma dikenang karena suara vuvuzela yang membahana. Para penonton menyaksikan tim-tim unggulan pulang lebih cepat, bukti bahwa reputasi besar tidak menjamin kemenangan. Siapa saja tim-tim tersebut? Apa saja drama yang terjadi?
6 Tim Favorit Juara yang Gugur Cepat di Piala Dunia 2010

- Piala Dunia 2010 diwarnai kejatuhan tim-tim besar seperti Prancis, Italia, Inggris, Portugal, Brasil, dan Argentina yang gagal memenuhi ekspektasi meski datang dengan status unggulan.
- Prancis tersingkir akibat konflik internal, Italia tumbang di fase grup sebagai juara bertahan, sementara Inggris terpuruk karena kontroversi gol Frank Lampard yang tak disahkan wasit.
- Portugal, Brasil, dan Argentina sama-sama kandas di babak gugur; kekalahan mereka menandai akhir era pelatih legendaris serta memicu refleksi besar dalam strategi sepak bola masing-masing negara.
1. Bukannya bertanding, Prancis malah sibuk berselisih dengan sesama anggota tim
Prancis datang ke Afrika Selatan sebagai finalis Piala Dunia 2006. Mereka membawa deretan pemain berkelas dunia seperti Thierry Henry dan Franck Ribery. Sayang, sepak terjang mereka berakhir memalukan. Dilansir The Guardian, skuad asuhan Raymond Domenech ini berantakan usai para pemain mogok latihan jelang melawan Afrika Selatan.
Tindakan ini dipicu keputusan Domenech mencoret Nicolas Anelka, ditambah perselisihan Patrice Evra dengan pelatih kebugaran, Robert Duverne. Akibat konflik, Les Bleus tersingkir tanpa meraih satu pun kemenangan. Situasi makin runyam saat Domenech menolak bersalaman dengan pelatih Timnas Afrika Selatan, Carlos Alberto Parreira, setelah kalah 1-2 di laga terakhir fase grup.
2. Italia jadi korban kutukan juara bertahan dan belum mampu bangkit hingga sekarang
Dilansir FIFA.com, kapten Italia saat itu, Fabio Cannavaro, menyebut timnya datang sebagai juara bertahan, tetapi hancur lebur pada fase grup. Mereka gagal menunjukkan taring di hadapan lawan-lawan yang seharusnya lebih lemah. Tim asuhan Marcello Lippi tersebut kurang menggigit sebab hanya mampu meraih dua poin, hasil dari imbang melawan Paraguay dan Selandia Baru.
Mereka sebenarnya bisa lolos ke babak 16 besar andai menekuk Slovakia di laga terakhir. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Italia kalah dengan skor 2-3. Ini memastikan Gli Azzuri pulang lebih cepat. Sejak saat itu, prestasi mereka terus merosot hingga sekarang, padahal sempat menjuarai Euro 2020.
3. Kontroversi gol hantu Frank Lampard langsung meruntuhkan mental pemain Inggris
Performa Inggris kurang meyakinkan sejak babak penyisihan. Tim asuhan Fabio Capello itu lolos ke babak gugur sebagai peringkat kedua, sebab hanya meraup 3 poin dari 3 pertandingan. Namun, langkah The Three Lions dihentikan rival abadi mereka, Jerman, di laga babak 16 besar yang penuh drama.
Pertandingan tersebut diwarnai gol Frank Lampard yang tidak disahkan wasit. Padahal, menurut tayangan ulang, bola sudah melewati garis gawang. Mental para pemain Inggris runtuh setelah insiden tersebut hingga akhirnya dibantai Der Panzer dengan skor 1-4. Goal menyebut, laga ini memicu desakan penggunaan teknologi di pertandingan sepak bola (goal-line technology dan video assistant referee).
4. Cuma garang saat fase grup, lini depan Portugal tak berkutik di hadapan Spanyol
Tergabung di grup neraka bersama Brasil dan Pantai Gading, Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan diharap bisa melaju jauh. Namun, performa lini depan Selecao das Quinas tidak konsisten sebab gagal mencetak gol dalam 3 dari total 4 laga. Satu-satunya momen kegarangan Portugal adalah saat membantai Korea Utara dengan skor 7-0 pada fase grup.
Sayang, ketajaman tim asuhan Carlos Queiroz langsung menguap saat berhadapan dengan Spanyol. Portugal kelabakan menghadapi Spanyol yang bertahan secara kompak. Mereka takluk lewat gol tunggal David Villa. Dilansir The Guardian, Cristiano Ronaldo mengaku hancur dan benar-benar terpukul akibat kekalahan tersebut.
5. Petaka kartu merah Felipe Melo membuyarkan mimpi Brasil meraih gelar juara kelima
Brasil yang saat itu dilatih Dunga tampil meyakinkan sejak awal turnamen. Mereka lolos ke fase gugur sebagai juara grup berkat 2 kali menang dan 1 kali imbang, lalu menekuk Chile 3 gol tanpa balas pada babak 16 besar. Namun, langkah mereka berhenti pada perempat final setelah kalah di tangan Belanda dengan skor tipis 1-2.
Kartu merah yang diterima Felipe Melo pada babak kedua memperparah situasi di lapangan sekaligus mengubur mimpi Selecao merengkuh gelar juara keenam. Namun, sebagian pengamat menyalahkan Dunga yang tak menerapkan prinsip joga bonito alias bermain indah. Bleacher Report bahkan menyebut skema bermain pragmatis jadi biang kerok kegagalan Brasil.
6. Masa kepelatihan Maradona di Argentina berakhir tragis di tangan Der Panzer
Argentina, yang saat itu dibesut Diego Maradona, sempat menjadi tim yang menghibur. Permainan menyerang membuat mereka diyakini bisa melaju jauh. Argentina lolos ke fase gugur sebagai juara grup berkat tiga kemenangan serta sukses menundukkan Meksiko dengan skor 3-1 pada babak 16 besar.
Namun, La Albiceleste punya barisan pertahanan yang kurang kokoh. BBC menyebut kelemahan ini dieksploitasi habis-habisan oleh Jerman pada perempat final. Argentina kalah telak 0-4 sekaligus jadi akhir yang sangat menyesakkan bagi Lionel Messi dan kawan-kawan. Tak lama setelah itu, Maradona meletakkan jabatan sebagai kepala pelatih Timnas Argentina.
Sejumlah tim di daftar ini akhirnya bangkit. Prancis juara di Piala Dunia 2018 Rusia dan Inggris sukses mencapai semifinal pada edisi yang sama. Portugal menjadi kampiun Piala Eropa 2016 dan Argentina juara Piala Dunia 2022 Qatar. Brasil masih terhenti pada perempat final dua edisi terakhir, tetapi Italia justru lebih tragis: gagal lolos Piala Dunia tiga kali beruntun.















