Saya selalu percaya bahwa teknologi sering kali bekerja paling baik ketika kita hampir tidak menyadari keberadaannya. Bagi banyak kreator, alat kerja terbaik bukan sekadar yang paling canggih, tetapi yang paling mudah menyatu dengan proses berpikir dan berkarya. Hal itu juga yang saya rasakan ketika mendengar cerita di balik produksi film "Pelangi di Mars" karya sutradara Upie Guava.
Upie punya visi yang menarik kala membicarakan proses kreatif "Pelangi di Mars". Selayaknya anak yang terpapar oleh film-film Sci-Fi di akhir 80-an dan awal 90-an, Upie mengatakan bahwa ia sangat terpengaruh oleh film-film seperti "Back to the Future" hingga "Star Wars". Dari film-film tersebut kemudian terbesit ide untuk membuat film bertema Sci-Fi namun dengan Indonesia sebagai poros utamanya. Lahirlah "Pelangi di Mars"
Untuk mewujudkan visi kreatifnya tersebut, Upie mengandalkan ekosistem Apple, mulai dari Mac, iPhone, hingga Final Cut Pro. Sebagai pengguna perangkat Apple sejak MacBook White, Upie menyebut bahwa ekosistem Apple sangat bisa andalkan untuk menjaga alur kerja tetap fleksibel dari tahap ide sampai editing akhir.
