Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

HP Lama Kamu Bisa Jadi Data Center, Jangan Keburu Dibuang

HP Lama Kamu Bisa Jadi Data Center, Jangan Keburu Dibuang
ilustrasi HP bekas (unsplash.com/Eirik Solheim)
Intinya Sih
  • Peneliti UC San Diego bersama Google mengubah ribuan smartphone bekas menjadi data center ramah lingkungan untuk menekan emisi karbon dan memanfaatkan kembali kemampuan komputasi perangkat lama.
  • Smartphone yang sudah tidak digunakan diubah menjadi server cloud dengan melepas baterai, mengganti sistem operasi ke Linux, serta dikelola menggunakan Kubernetes agar efisien dalam klaster komputasi.
  • Proyek ini menargetkan 2.000 unit Pixel bekas untuk mendukung kegiatan akademik, membuktikan bahwa smartphone dapat menggantikan puluhan server modern dengan konsumsi energi dan biaya lebih rendah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Saat membeli smartphone baru, banyak orang langsung menyimpannya di laci, memberikannya kepada adik atau kerabat, bahkan membuang perangkat lama mereka. Padahal, di balik layar yang retak, baterai yang mulai melemah, atau spesifikasi yang dianggap ketinggalan zaman, sebuah smartphone sebenarnya masih menyimpan kemampuan komputasi yang sangat besar. Di tangan para peneliti, smartphone yang sudah pensiun ternyata bisa memiliki "kehidupan kedua" sebagai bagian dari data center ramah lingkungan.

Inilah yang sedang dibuktikan oleh para peneliti dari University of California San Diego (UC San Diego) yang mendapat dukungan dari Google. Mengutip Google Research, Selasa (16/6/2026), mereka tengah mengembangkan proyek unik yang mengubah ribuan smartphone bekas menjadi sebuah data center atau pusat komputasi berbasis cloud yang lebih ramah lingkungan. Proyek ini menunjukkan bahwa perangkat yang selama ini dianggap usang masih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan komputasi modern dengan dampak lingkungan yang lebih rendah.

1. Smartphone bekas masih punya tenaga besar

ilustrasi perbaikan smartphone
ilustrasi perbaikan smartphone (unsplash.com/Joel Rohland)

Rata-rata pengguna mengganti smartphone setiap empat tahun. Pergantian ini umumnya bukan karena perangkat sudah tidak bisa digunakan, melainkan karena hadirnya model baru dengan fitur yang lebih menarik. Padahal, sebagian besar smartphone lama masih memiliki prosesor, memori, penyimpanan data, dan akselerator komputasi yang berfungsi dengan baik.

Dalam beberapa pengujian, performa per inti (single-threaded) prosesor smartphone modern dapat mendekati atau bahkan melampaui sebagian server multicore generasi lama. Namun, server tetap unggul dalam kapasitas memori, jumlah inti prosesor, serta kemampuan menangani beban kerja skala besar. Perbedaan utamanya terletak pada skala.

Sebuah server memiliki puluhan inti prosesor dan kapasitas memori yang jauh lebih besar, sedangkan smartphone hanya memiliki beberapa inti prosesor dan memori sekitar 8 hingga 12 GB. Namun, ketika banyak smartphone digabungkan dalam satu sistem, kemampuannya menjadi jauh lebih menarik.

2. Smartphone bekas disulap menjadi server cloud

ilustrasi baterai lithium
ilustrasi baterai lithium (unsplash.com/Tyler Lastovich)

Agar lebih efisien sebagai perangkat komputasi, smartphone bekas tersebut tidak digunakan dalam kondisi utuh. Pelepasan baterai juga membantu mengurangi risiko degradasi, pembengkakan, maupun gangguan keamanan ketika perangkat dioperasikan terus-menerus selama berbulan-bulan sebagai server. Yang dipertahankan hanyalah motherboard, karena di situlah seluruh kemampuan komputasi utama berada.

Hal ini penting karena sebagian besar emisi karbon dalam produksi smartphone berasal dari proses pembuatan komponen elektronik utama, terutama motherboard yang menjadi pusat pemrosesan perangkat. Setelah itu, sistem operasi Android diganti dengan distribusi Linux yang lebih cocok untuk kebutuhan komputasi server. Melalui cara ini, smartphone bekas dapat menjalankan berbagai aplikasi cloud seperti halnya server konvensional.

Untuk mengelola ribuan perangkat sekaligus, para peneliti memanfaatkan Kubernetes, sebuah platform yang biasa digunakan untuk mengatur aplikasi dalam lingkungan cloud modern. Smartphone-smartphone tersebut kemudian dikelompokkan menjadi klaster berisi 25 hingga 50 perangkat yang bekerja bersama sebagai satu unit komputasi.

3. UC San Diego menyiapkan data center dari 2.000 smartphone Pixel bekas

Ponsel Google Pixel berwarna hijau diletakkan di atas permukaan oranye dengan latar gulungan biru sebagai elemen dekoratif.
ilustrasi HP Google Pixel (unsplash.com/Đào Hiếu)

Proyek yang sedang dikembangkan UC San Diego menargetkan pembangunan data center yang terdiri dari 2.000 smartphone Pixel bekas. Data center ini nantinya akan digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan akademik, mulai dari pengajaran ilmu komputer, sistem pemrograman, hingga penelitian komputasi paralel. Banyak layanan akademik berbasis cloud sebenarnya tidak memerlukan sumber daya komputasi yang besar.

Para peneliti mencontohkan backend penilaian tugas otomatis yang sering dijalankan menggunakan instance cloud kecil seperti AWS t3.micro dengan 2 vCPU dan 1 GB RAM. Kebutuhan komputasi yang relatif ringan ini membuat smartphone bekas masih sangat mampu menjalankan berbagai layanan tersebut. Kemampuan tersebut telah dibuktikan melalui uji coba awal.

Menurut hasil eksperimen para peneliti, sebuah klaster yang hanya terdiri dari 20 smartphone sudah mampu menangani beban tugas dari kelas yang berisi lebih dari 75 mahasiswa, bahkan dengan latensi penilaian yang lebih rendah dibandingkan backend AWS yang digunakan sebelumnya. Jika target 2.000 perangkat tercapai, sistem tersebut diperkirakan dapat mendukung sekitar 100 kelas secara bersamaan. Berdasarkan estimasi peneliti, kapasitas komputasi agregatnya dapat mendekati kemampuan sekitar 50 server modern untuk jenis beban kerja tertentu, terutama aplikasi pendidikan dan penelitian yang tidak terlalu intensif.

4. Solusi baru untuk mengurangi sampah elektronik

ilustrasi jejak karbon CO2
ilustrasi jejak karbon CO2 (freepik.com/freepik)

Selain menghemat biaya, pendekatan ini menawarkan manfaat lingkungan yang besar. Industri teknologi selama ini menghadapi tantangan serius terkait emisi karbon dari proses produksi perangkat keras baru. Setiap server yang diproduksi membutuhkan bahan baku, energi, dan proses manufaktur yang menghasilkan emisi.

Kebutuhan untuk memproduksi perangkat baru dapat dikurangi dengan memperpanjang umur pakai smartphone yang sudah tidak digunakan. Artinya, lebih sedikit bahan tambang yang perlu diekstraksi dan lebih sedikit emisi yang dilepaskan ke atmosfer. Proyek ini juga menjadi eksperimen penting untuk mengetahui apakah perangkat konsumen seperti smartphone mampu bekerja secara andal dalam jangka panjang layaknya perangkat server profesional.

Jika pendekatan ini terbukti andal dalam skala besar, jutaan smartphone bekas yang saat ini tersimpan di laci rumah berpotensi berubah menjadi sumber daya komputasi baru. Alih-alih menjadi sampah elektronik, perangkat-perangkat tersebut dapat mendukung layanan pendidikan, penelitian, hingga berbagai aplikasi cloud dengan jejak karbon yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa akhir masa pakai sebuah smartphone tidak selalu berarti akhir dari kegunaannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More