Mengapa Hasil Swafoto Redmi Note 15 Pro+ Terasa Kurang Natural?

- Redmi Note 15 Pro+ 5G unggul di sensor utama, tetapi lemah di kamera pendukungDi sektor kamera belakang, Redmi Note 15 Pro+ 5G masih mengandalkan sensor utama 200 MP sebagai daya tarik utama. Lensa ini mampu menghasilkan detail tinggi setelah proses pixel-binning ke resolusi 12 MP.
- Beauty mode yang aktif secara default membuat hasil swafoto terlihat cukup dipolesMasuk ke kamera depan, Redmi Note 15 Pro+ 5G dibekali sensor 32 MP dengan aperture f/2.2. Secara teknis, peningkatan resolusi ini berhasil mendongkrak detail swafoto dibanding generasi sebelumnya.
- Keterbatasan kamera depan Redmi Note
Redmi Note 15 Pro+ 5G hadir sebagai varian tertinggi dari seri Redmi Note 15. Smartphone ini membawa sederet peningkatan, terutama dalam hal spesifikasi kamera. Salah satu sorotan terbesar adalah kamera utama beresolusi 200 MP yang mengandalkan sensor Samsung ISOCELL S5KHPE. Berdasarkan ulasan Stuff tv, sensor tersebut menjadi andalan utama Redmi Note 15 Pro+ 5G untuk mendongkrak kemampuan fotografi.
Sayangnya, angka resolusi dan ukuran sensor besar tidak serta-merta berbanding lurus dengan pengalaman penggunaan. Meski kamera utama mampu menghasilkan detail tinggi, performa kamera secara keseluruhan masih menyisakan catatan. Hal serupa juga terjadi pada kamera depan yang kini ditingkatkan menjadi 32 MP. Alih-alih sepenuhnya memuaskan, hasil swafoto justru memicu perdebatan karena karakter pemrosesan gambar yang terlalu agresif. Inilah yang membuat hasil selfie Redmi Note 15 Pro+ 5G dinilai kurang natural oleh sebagian pengguna.
1. Redmi Note 15 Pro+ 5G unggul di sensor utama, tetapi lemah di kamera pendukung

Di sektor kamera belakang, Redmi Note 15 Pro+ 5G masih mengandalkan sensor utama 200 MP sebagai daya tarik utama. Lensa ini mampu menghasilkan detail tinggi setelah proses pixel-binning ke resolusi 12 MP. Warna yang dihasilkan terlihat jelas, terutama pada merah dan hijau, meski terkadang sedikit lebih mencolok dibanding kondisi aslinya. Dynamic range juga tergolong baik berkat HDR yang mampu menyeimbangkan area terang dan gelap.
Namun, performa tersebut tidak sepenuhnya diikuti oleh kamera pendampingnya. Lensa ultrawide 8 MP masih menunjukkan keterbatasan, mulai dari noise yang cukup terasa hingga detail halus yang kurang terjaga. Algoritma kamera cenderung mengamankan bagian terang, sementara area gelap sering tampak datar dan kurang berdimensi. Jika dibandingkan kompetitor yang sudah menawarkan kamera sekunder beresolusi lebih tinggi dan autofocus, pendekatan Redmi di sektor ini terasa tertinggal.
2. Beauty mode yang aktif secara default membuat hasil swafoto terlihat cukup dipoles

Masuk ke kamera depan, Redmi Note 15 Pro+ 5G dibekali sensor 32 MP dengan aperture f/2.2. Secara teknis, peningkatan resolusi ini berhasil mendongkrak detail swafoto dibanding generasi sebelumnya. Kamera depan ini juga sudah mendukung fitur HDR, panorama, dan perekaman video hingga 1080p pada 30 dan 60 fps. Untuk kebutuhan dasar seperti video call atau selfie kasual, spesifikasinya terlihat cukup solid.
Masalah utama justru muncul dari sisi pemrosesan gambar. Beauty mode pada kamera depan diaktifkan secara bawaan, sebagaimana disoroti oleh Stuff tv Akibatnya, hasil selfie terlihat terlalu halus dan dipoles, sementara tekstur wajah berkurang dan kesan artifisial menjadi cukup dominan. Bagi pengguna yang menginginkan tampilan wajah apa adanya, karakter seperti ini bisa terasa mengganggu dan memerlukan penyesuaian manual sejak awal.
3. Keterbatasan kamera depan Redmi Note 15 Pro+ 5G kian terasa di sisi videografi

Selain karakter foto yang terlalu dipoles, keterbatasan kamera depan Redmi Note 15 Pro+ 5G juga terasa di sisi videografi. Kamera selfie ini belum mendukung perekaman video 4K dan masih mentok di resolusi 1080p hingga 60 fps. Melihat banyak konten video dan kebutuhan vlogging yang semakin meningkat, keterbatasan ini menjadi catatan penting. Terlebih, kamera belakang justru sudah mampu merekam video 4K.
Perbedaan kapabilitas ini membuat kamera depan terasa kurang fleksibel untuk pengguna aktif media sosial. Resolusi yang lebih tinggi seharusnya bisa dimaksimalkan untuk kualitas video yang lebih baik. Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan. Hal ini kembali menegaskan bahwa peningkatan hardware tidak selalu diimbangi oleh peningkatan pengalaman penggunaan secara menyeluruh.
Pada akhirnya, alasan mengapa hasil selfie Redmi Note 15 Pro+ 5G terasa kurang natural bukan terletak pada kemampuan sensornya. Kamera depan 32 MP sebenarnya sudah mampu menangkap detail yang baik dan menawarkan fitur yang cukup lengkap di kelasnya. Namun, pendekatan pemrosesan gambar yang terlalu agresif membuat hasil akhir tidak selalu sesuai dengan ekspektasi semua pengguna. Selera visual yang beragam menjadikan pendekatan ini terasa kurang universal.
Penyesuaian manual memang dapat membantu menghasilkan foto yang lebih seimbang dan natural. Namun, bagi pengguna yang menginginkan hasil siap pakai tanpa banyak pengaturan, karakter bawaan kamera selfie Redmi Note 15 Pro+ bisa menjadi kelemahan tersendiri. Smartphone ini tetap kompetitif di kelas mid-range. Namun, untuk urusan selfie, pendekatannya masih menyisakan ruang untuk perbaikan.


















