5 Mitos Soal Smartwatch yang Sebaiknya Jangan Dipercaya

- Smartwatch tidak sesulit yang dibayangkan karena antarmukanya mirip dengan HP, dan semakin mudah digunakan seiring kebiasaan pemakaian harian.
- Radiasi dari smartwatch tergolong aman karena menggunakan gelombang radio non-ionisasi berdaya rendah yang telah memenuhi standar keamanan internasional.
- Akurasi data kesehatan smartwatch masih terbatas dibanding alat medis profesional, namun tetap berguna untuk memantau pola dan tren kondisi tubuh.
Seiring brand smartwatch terus merilis model baru dengan fitur yang makin beragam, pengguna memang mendapat lebih banyak kemudahan dan fungsi tambahan. Namun seperti teknologi lain, smartwatch juga dikelilingi berbagai mitos yang sering membuat pengguna salah paham. Ada yang membuat smartwatch jadi terlihat kurang berguna dan ada juga yang justru melebih-lebihkan kemampuannya.
Untuk itu, penting untuk mengetahui fakta di balik mitos-mitos tersebut, sehingga kedepannya pengguna jadi bisa lebih bijak menentukan apakah smartwatch incaran mereka benar-benar cocok untuk dibeli. Berikut ulasan lengkapnya.
1. Smartwatch merupakan perangkat yang sulit dipahami

Antarmuka smartwatch seperti watchOS milik Apple atau Wear OS dari Google pada dasarnya mirip dengan yang ada di HP, mulai dari ikon hingga penggunaan warna, meski harus disesuaikan dengan ukuran layar yang jauh lebih kecil. Karena itu, belajar menggunakannya sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan. Memang butuh waktu untuk terbiasa, sama seperti ketika beralih dari mengemudikan mobil manual ke otomatis atau pindah dari iOS ke Android. Seiring pemakaian, semuanya akan terasa lebih intuitif. Karenanya, smartwatch disarankan untuk digunakan selama mungkin setiap hari, bukan hanya untuk mengumpulkan data kesehatan, tapi juga agar pengguna semakin cepat terbiasa dengan navigasi dan fitur-fiturnya.
2. Smartwatch memancarkan radiasi yang berbahaya
Smartwatch memang memancarkan radiasi, tapi tidak berbahaya seperti yang sering dikhawatirkan. Smartwatch menggunakan gelombang radio berdaya rendah (non-ionisasi) untuk berkomunikasi dengan HP, jenis radiasi yang sama seperti pada perangkat elektronik sehari-hari dan umumnya aman bagi tubuh pada level rendah. Meskipun paparan radiasi tinggi bisa menimbulkan panas dan berisiko, jumlah yang dihasilkan smartwatch sangat kecil dan telah dibatasi oleh standar keamanan seperti yang ditetapkan FCC. Jadi, meskipun digunakan terus-menerus di pergelangan tangan, smartwatch tidak menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan.
3. Baterai smartwatch cepat habis

Smartwatch memang lebih kecil dari HP dan memiliki baterai yang tentunya juga lebih kecil, tapi anggapan bahwa dayanya cepat habis itu tidak sepenuhnya benar. Selama baterainya masih sehat, ada banyak cara untuk membuatnya lebih awet tanpa harus bolak-balik mengisi daya, seperti menurunkan kecerahan layar, membatasi notifikasi, menutup aplikasi di latar belakang dan tidak menggunakan banyak fitur sekaligus. Salah satu fitur yang paling boros daya adalah GPS, sehingga mematikannya ketika tidak diperlukan bisa sangat membantu menghemat baterai. Selain itu, smartwatch modern juga semakin efisien, contohnya seperti Apple Watch Ultra 3 yang bisa bertahan hingga 72 jam dalam mode hemat daya.
4. Smartwatch menjadi sumber risiko keamanan siber
Smartwatch memang menawarkan kemudahan seperti pembayaran tanpa kontak lewat Apple Pay, Google Wallet, atau Samsung Wallet, tapi banyak pengguna khawatir soal keamanan karena perangkat ini juga menyimpan data sensitif seperti kesehatan, lokasi, hingga pola tidur.
Sebenarnya, risikonya tidak jauh berbeda dari HP atau PC, dan selama pengguna rutin meng-update sistem, menggunakan password kuat dan memanfaatkan fitur keamanan seperti biometrik, risiko keamanan siber bisa ditekan. Risiko baru benar-benar meningkat ketika perangkat sudah tidak lagi mendapat pembaruan keamanan karena celah keamanan baru tidak lagi ditambal, sehingga di titik itu pengguna sebaiknya mulai mempertimbangkan untuk meminang smarwatch anyar.
5. Smartwatch selalu akurat dalam mendiagnosa masalah kesehatan

Smartwatch memang bisa mengumpulkan banyak data kesehatan seperti jumlah langkah, detak jantung, kalori, kualitas tidur, hingga VO2 max, tetapi angka-angka ini tidak selalu akurat. Meski teknologinya terus berkembang, sensor pada perangkat wearable masih memiliki keterbatasan dibandingkan alat medis profesional.
Misalnya, VO2 max hanya dihitung sebagai perkiraan berdasarkan aktivitas dan detak jantung, bukan diukur langsung. Karena itu, sebaiknya jangan terlalu percaya pada angka pastinya. Namun, data dari smartwatch tetap berguna untuk melihat pola atau tren kondisi tubuh. Misalnya, jika detak jantung pengguna terus meningkat dari waktu ke waktu, itu bisa jadi sinyal untuk memeriksakan diri ke dokter.
Itulah tadi ulasan mengenai beberapa mitos soal smartwatch yang sebaiknya jangan dipercaya. Semoga ulasan di atas bermanfaat dan bisa membantumu mengetahui fakta di balik mitos-mitos terkait smartwatch.




















