“Kami meluncurkan Motorola Edge 70 Fusion, yang dirancang dengan desain paling tipis di kelasnya tanpa mengorbankan performa. Bersama dengan ekosistem aksesori moto kami yang terus berkembang, peluncuran ini menandai langkah maju lainnya dalam menghadirkan teknologi yang berkelas, premium, dan terhubung secara sempurna bagi konsumen di Indonesia,” ujar Bagus Prasetyo, Country Head, Motorola Indonesia.
Motorola Edge 70 Fusion Rilis, Tipis tapi Kameranya Menarik

- Motorola resmi merilis Edge 70 Fusion di Indonesia, mengusung desain ultra-tipis 5,99 mm dan bobot ringan tanpa mengorbankan performa maupun daya tahan baterai.
- Smartphone ini dibekali baterai silikon-karbon 7000mAh dengan pengisian cepat 68W TurboPower, menawarkan keseimbangan antara gaya tipis dan ketahanan penggunaan harian.
- Edge 70 Fusion menjadi perangkat pertama dengan sensor Sony LYTIA 710 beresolusi 50MP, didukung fitur AI Photo Enhancement untuk hasil foto tajam dan natural di berbagai kondisi cahaya.
Desain tipis sering kali identik dengan kompromi. Entah itu baterai yang kecil, kamera yang biasa saja, atau performa yang tidak maksimal. Tapi di tengah tren tersebut, muncul pendekatan baru: bagaimana jika smartphone tetap tipis, tapi tanpa harus mengorbankan hal-hal penting?
Motorola mencoba menjawab pertanyaan itu lewat Motorola Edge 70 Fusion. Smartphone ini hadir dengan satu ide utama yaitu menggabungkan desain ultra-tipis dengan kemampuan kamera dan daya tahan baterai yang tetap serius.
Super tipis, tapi bukan sekadar gaya

Hal pertama yang langsung terasa dari Edge 70 Fusion adalah desainnya. Dengan ketebalan hanya 5,99 mm dan bobot 159 gram, perangkat ini menjadi salah satu yang paling tipis di kelasnya. Desain quad-curve yang digunakan juga membuatnya terasa lebih nyaman di tangan, tanpa sudut tajam yang mengganggu. Material premium dengan sentuhan tekstur seperti linen dan nilon juga memberi kesan berbeda, tidak hanya terlihat elegan, tapi juga terasa unik saat digunakan.
Salah satu hal paling menarik dari Edge 70 Fusion ada di sektor baterai. Meski tipis, perangkat ini membawa baterai silikon-karbon 7000mAh. Kapasitas ini tergolong besar bahkan untuk smartphone yang lebih tebal sekalipun. Dukungan 68W TurboPower juga memastikan pengisian daya tetap cepat, sehingga pengguna tidak perlu menunggu lama untuk kembali beraktivitas.
Motorola Edge 70 Fusion tidak hanya mencoba tampil menarik secara visual. Perangkat ini dirancang untuk pengguna yang ingin smartphone stylish, tetapi tetap bisa diandalkan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari membuat konten, multitasking, hingga penggunaan intensif sepanjang hari. Dengan kombinasi desain tipis, kamera kuat, dan baterai besar, perangkat ini terasa seperti mencoba mematahkan asumsi lama tentang smartphone tipis.
Kamera Sony LYTIA, fokus di low-light

Di balik bodinya yang tipis, Edge 70 Fusion justru membawa kekuatan utama di sektor kamera. Perangkat ini menjadi smartphone pertama yang menggunakan sensor Sony LYTIA 710. Sensor ini dirancang untuk menghasilkan foto dengan detail tinggi, terutama di kondisi minim cahaya. Didukung kamera utama 50MP dengan OIS, ultrawide + macro 13MP, serta kamera depan 32MP, perangkat ini cukup fleksibel untuk berbagai kebutuhan konten. Akurasi warna yang telah diverifikasi PANTONE juga membuat hasil foto terlihat lebih natural.
Motorola juga menyematkan moto AI Photo Enhancement Engine. Fitur ini bekerja untuk memastikan hasil foto tetap konsisten di berbagai kondisi, baik siang maupun malam. Pengguna tidak perlu banyak melakukan penyesuaian manual karena sistem sudah membantu mengoptimalkan hasil secara otomatis. Pendekatan ini membuat pengalaman fotografi terasa lebih praktis, terutama bagi pengguna yang ingin hasil bagus tanpa ribet.
Harga dan ketersediaan

Motorola Edge 70 Fusion hadir di Indonesia dengan harga Rp5.999.000 untuk varian 8GB/256GB. Dengan positioning ini, perangkat ini berada di segmen mid-range premium, bersaing dengan smartphone yang biasanya mengedepankan performa atau kamera sebagai fokus utama. Perangkat ini mencoba membuktikan bahwa smartphone bisa tetap ramping sekaligus powerful. Dan jika pendekatan ini berhasil, bukan tidak mungkin standar smartphone tipis ke depan akan berubah, dari sekadar estetika, menjadi kombinasi antara gaya dan fungsi yang seimbang.


















