ilustrasi Xiaomi, perusahaan teknologi, ponsel, gadget, android, smartphone (unsplash.com/Amanz)
Meskipun pengiriman smartphone turun, posisi Xiaomi di sejumlah pasar internasional masih cukup kuat. Pada kuartal II 2026, Xiaomi berada di peringkat kedua di Asia Tenggara dengan pangsa pasar 19,3 persen, serta di peringkat kedua di Amerika Latin dan Timur Tengah. Xiaomi juga menempati posisi ketiga di Eropa dan Afrika, sementara di India berada di peringkat keempat. Secara keseluruhan, Xiaomi masuk tiga besar di 53 pasar dan lima besar di 67 pasar.
Bisnis Xiaomi juga tidak hanya bergantung pada smartphone karena perusahaan memiliki lini produk lain dalam ekosistemnya. Pendapatan segmen smartphone dan AIoT mencapai RMB84 miliar (sekitar Rp184,8 triliun) pada kuartal II 2026, dengan pendapatan smartphone sendiri sebesar RMB42,1 miliar (sekitar Rp92,62 triliun) dan produk IoT serta lifestyle sebesar RMB31,3 miliar (sekitar Rp68,86 triliun). Xiaomi juga masih menjadi pemain kuat di pasar wearable dan TWS dengan peringkat kedua secara global maupun di China daratan. Jadi, meski volume penjualan HP sedang menurun, perusahaan masih memiliki sumber pendapatan lain untuk menopang pertumbuhannya.
Memang benar bahwa penjualan HP Xiaomi merosot jika dilihat dari jumlah unit yang dikirimkan secara global. Meski begitu, pada saat bersamaan, konsumen semakin banyak memilih perangkat premium sehingga ASP Xiaomi berhasil mencapai rekor RMB 1.351 (sekitar Rp2,97 juta).
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa Xiaomi bukan lagi hanya mengejar jumlah unit terjual, tetapi juga berusaha meningkatkan nilai dari setiap smartphone yang dipasarkan. Buat kamu yang sedang memperhatikan perkembangan industri HP, pergeseran Xiaomi ke segmen premium ini bisa menjadi salah satu perubahan menarik dalam persaingan smartphone ke depan.