Perkembangan kecerdasan buatan atau AI membuat kebutuhan terhadap data center ikut melonjak di berbagai negara. Kondisi inilah yang membuat CEO NVIDIA, Jensen Huang, mendorong negara-negara G20 untuk lebih serius membangun infrastruktur yang menopang perkembangan AI, seperti data center. Menurutnya, AI seharusnya dipandang sebagai infrastruktur penting, seperti listrik, jalan, air, dan internet.
Bos NVIDIA Desak G20 Bangun Data Center AI, Picu Kekhawatiran

- CEO NVIDIA Jensen Huang mendorong negara G20 membangun data center AI, yang ia anggap sebagai infrastruktur penting untuk menyediakan komputasi bagi ekonomi, riset, pendidikan, dan industri.
- Pembangunan data center memicu kekhawatiran publik terkait kebutuhan listrik, tarif, risiko teknologi, penerimaan masyarakat, serta konsentrasi manfaat ekonomi pada segelintir perusahaan.
- Sam Altman menilai negara tidak wajib memiliki data center sendiri selama dapat mengakses AI, sementara pemerintah G20 dituntut menyeimbangkan inovasi, regulasi, perlindungan publik, dan perubahan pekerjaan.
Meski bos NVIDIA desak G20 bangun data center AI, bukan berarti semua pihak sepakat bahwa pembangunan infrastruktur tersebut harus dilakukan tanpa pertimbangan lainnya. Di tengah ambisi mengembangkan AI, pemerintah juga harus menghadapi kekhawatiran masyarakat mengenai listrik, lapangan kerja, konsentrasi kekayaan, hingga risiko teknologi. Lantas, seberapa besar kebutuhan data center AI dan apa saja risiko yang perlu diperhatikan dari wacana ini?
1. AI mulai dianggap sebagai infrastruktur penting

ilustrasi data center (freepik.com/rawpixel.com) Dalam pertemuan G20 di North Carolina pada 2 September, Jensen Huang menyampaikan bahwa setiap negara perlu membangun infrastruktur AI agar bisa mendukung perekonomian domestiknya. Ia melihat data center sebagai bagian penting dari infrastruktur tersebut karena fasilitas ini menyediakan kemampuan komputasi yang dibutuhkan untuk menjalankan berbagai sistem AI. Bagi kamu yang melihat AI hanya sebagai chatbot atau aplikasi digital, skalanya sebenarnya jauh lebih besar. Di balik berbagai layanan AI yang kamu gunakan, ada pusat data dengan perangkat komputasi berkapasitas tinggi, lho.
Huang juga menilai fasilitas tersebut bisa menjadi fondasi bagi peneliti, mahasiswa, industri, perusahaan rintisan, dan berbagai sektor lainnya untuk mengembangkan teknologi. Nvidia sendiri berada di posisi penting dalam perkembangan AI generatif karena unit pemrosesan grafis atau GPU buatannya banyak digunakan untuk melatih model AI. Jadi, ketika kebutuhan AI meningkat, kebutuhan terhadap data center dengan kemampuan komputasi besar juga ikut terdorong. Pandangan inilah yang membuat Huang mendorong negara-negara G20 supaya gak tertinggal dalam pembangunan infrastruktur AI.
2. Pembangunan data center ternyata memicu kekhawatiran

ilustrasi data center, pusat data AI, teknologi (unsplash.com/Geoffrey Moffett) Meski terdengar seperti langkah penting untuk kemajuan teknologi, pembangunan data center gak selalu mendapatkan sambutan positif dari masyarakat. Di Amerika Serikat, sejumlah komunitas bahkan menolak pembangunan fasilitas tersebut karena khawatir kebutuhan listrik yang besar dapat berdampak terhadap tarif listrik. Artinya, ketika kamu melihat AI dari sisi manfaat ekonomi, ada masyarakat yang justru melihat konsekuensi langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Pembangunan teknologi akhirnya gak cuma menjadi persoalan perusahaan, tapi juga menyentuh kepentingan publik.
Kekhawatiran itu terlihat ketika pertemuan G20 di kampus University of North Carolina diwarnai aksi sekitar 100 hingga 200 orang yang memprotes perkembangan AI yang dianggap terlalu cepat. Huang sendiri mengingatkan pemerintah agar gak terlalu takut atau ragu terhadap teknologi karena menurutnya risiko terbesar justru bisa muncul ketika sebuah negara gagal memanfaatkan AI. Namun, pandangan tersebut tentu perlu diseimbangkan dengan pertimbangan mengenai dampak sosial dan ekonomi. Dengan begitu, kemajuan AI gak sekadar mengejar kecepatan, tapi juga memperhatikan masyarakat yang harus hidup berdampingan dengan infrastrukturnya.
3. Huang dan Altman punya pendekatan berbeda soal risiko

ilustrasi OpenAI, AI ChatGPT (unsplash.com/BoliviaInteligente) Jensen Huang bukan satu-satunya bos teknologi yang hadir dalam pembahasan tersebut. CEO OpenAI, Sam Altman, juga mendorong negara-negara untuk menggunakan AI, tapi ia gak menganggap setiap negara harus memiliki data center sendiri. Menurut Altman, sebuah negara bisa membangun data center atau memilih menyewa fasilitas dari negara maupun perusahaan lain apabila gak ingin memiliki infrastrukturnya sendiri. Jadi, menurut pandangan tersebut, yang lebih penting adalah kemampuan suatu negara untuk mengakses AI, bukan semata-mata memiliki seluruh fasilitasnya.
Menariknya, Altman justru terdengar lebih berhati-hati ketika membahas risiko AI. Ia menilai kekhawatiran terhadap teknologi tersebut tetap diperlukan karena rasa khawatir dapat membantu manusia mengantisipasi masalah sebelum dampaknya semakin besar. Altman juga mengingatkan bahwa perkembangan AI jangan sampai membuat kekayaan dan manfaat ekonomi hanya terkonsentrasi pada segelintir perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perdebatan soal AI sekarang bukan lagi sekadar tentang seberapa cepat teknologi berkembang, tapi juga tentang siapa yang nantinya mendapat manfaat paling besar dari perkembangan tersebut.
4. Ancaman AI terhadap pekerjaan masih jadi perdebatan

ilustrasi loker, lowongan kerja, cari kerja, pencari kerja, job seeker, pengangguran (magnific.com/jcomp) Salah satu kekhawatiran yang sering muncul ketika AI berkembang pesat adalah hilangnya pekerjaan manusia. Huang menolak anggapan bahwa AI nantinya akan menghapus seluruh pekerjaan dan menyebut pandangan tersebut sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Menurutnya, AI lebih mungkin mengubah cara pekerjaan dilakukan karena sebagian tugas dapat diotomatisasi. Sementara itu, tujuan atau fungsi utama pekerjaan manusia belum tentu ikut hilang.
Kalau kamu bekerja di bidang yang mulai menggunakan AI, perubahan seperti ini mungkin sudah terasa. Beberapa tugas yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu bisa dikerjakan lebih cepat dengan bantuan teknologi, tapi kamu tetap dibutuhkan untuk menentukan tujuan, mengambil keputusan, memeriksa hasil, dan menjalankan tanggung jawab yang lebih luas. Karena itu, perkembangan AI kemungkinan akan membuat kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting. Tantangannya bukan cuma apakah pekerjaanmu hilang, melainkan bagaimana peranmu berubah ketika sebagian tugas mulai dikerjakan oleh mesin.
5. Pemerintah dituntut mencari titik tengah

ilustrasi AI (vecteezy.com/sompoch sivakosit) Para menteri G20 sendiri terlihat lebih berhati-hati dibandingkan dengan para pemimpin perusahaan teknologi. Menteri Sains dan Teknologi Inggris Chris McDonald mengakui bahwa AI menawarkan peluang besar, tapi pemerintah memiliki tanggung jawab yang berbeda dengan perusahaan. Menurutnya, Inggris berusaha mendorong perkembangan AI sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat. Jadi, pemerintah gak bisa hanya bertindak sebagai pendukung teknologi tanpa memikirkan aturan, perlindungan kekayaan intelektual, dan penerimaan publik.
McDonald menggambarkan situasi tersebut seperti mencari titik yang pas, gak terlalu panas tapi juga gak terlalu dingin. Pendekatan ini penting karena penolakan masyarakat terhadap proyek teknologi bisa muncul ketika mereka merasa gak dilibatkan atau gak mendapatkan manfaat yang jelas. Ia juga mengingatkan bahwa Inggris belum mengalami tingkat penolakan terhadap proyek data center seperti yang terjadi di beberapa wilayah Amerika Serikat, tapi kondisi tersebut bisa saja berubah. Pada akhirnya, pembangunan AI membutuhkan pendekatan yang praktis dan pragmatis agar kemajuan teknologi tetap berjalan tanpa mengabaikan suara masyarakat.
Keputusan bos NVIDIA desak G20 bangun data center AI menunjukkan bahwa persaingan AI kini sudah berkembang menjadi persoalan infrastruktur dan strategi ekonomi. Negara yang memiliki akses terhadap kemampuan komputasi besar berpeluang memanfaatkan AI untuk penelitian, bisnis, pendidikan, dan berbagai sektor lainnya.
Namun, kamu juga bisa melihat bahwa membangun data center bukanlah keputusan yang sesederhana menambah fasilitas teknologi. Ada persoalan listrik, penerimaan masyarakat, pekerjaan, pemerataan manfaat, dan risiko AI yang harus ikut diperhitungkan. Karena itu, tantangan terbesar pemerintah bukan sekadar membangun sebanyak mungkin data center, melainkan menemukan cara agar perkembangan AI tetap cepat sekaligus memberi manfaat yang luas.





















