Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Spesifikasi Chipset yang Harus Dihindari saat Beli HP 2026
ilustrasi chipset HP (mediatek.com)
  • Hindari chipset dengan fabrikasi besar seperti 8–12 nm dan skor benchmark terlalu rendah; pilih proses lebih kecil untuk performa serta efisiensi yang lebih baik.
  • Kemampuan chipset menentukan hasil kamera: model yang hanya merekam 1080p atau 2K kurang ideal dibanding chipset mid-range hingga flagship yang mendukung 4K atau 8K.
  • Waspadai chipset baru dengan peningkatan minor dari pendahulunya serta GPU berperforma rendah, terutama PowerVR; RAM, penyimpanan, dan OS juga memengaruhi performa ponsel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di 2026 memang banyak chipset HP baru yang bermunculan, mulai dari chipset entry level, mid-range, hingga flagship. Spesifikasinya juga mumpuni karena menghadirkan proses fabrikasi teranyar hingga memberikan peningkatan performa yang signifikan. Meski begitu, tak semua chipset HP pada 2026 punya kualitas unggulan, lho!

Saat beli HP dan memiliih chipset kamu harus memperhatikan beberapa hal. Pastikan memilih chipset dengan core CPU yang modern, punya clock speed tinggi, dan memiliki kemampuan fotografi yang mumpuni. Mau tahu gimana cara memilih chipset HP 2026 berdasarkan spesifikasinya? Simak panduannya di bawah ini, yuk!

1. Fabrikasi dengan angka yang tinggi seperti 12 nm

ilustrasi chipset HP (qualcomm.com)

Laman Croma menerangkan bahwa angka nm (nanometer) menandakan ukuran transistor di chipset. Semakin kecil angka nmnya (seperti 4, 3, atau 2) maka performa dan efisiensi chipset HP akan semakin baik. Di 2026 chipset dengan angka nm yang kecil sudah menjadi standar baru, khususnya buat HP kelas atas. Di sisi lain, chipset dengan proses fabrikasi besar (seperti 8, 10, atau 12 nm) sudah tidak relevan.

Untuk chipset mid-range biasanya menggunakan proses fabrikasi 4 nm, beberapa pilihannya adalah MediaTek Dimensity 7400, Snapdragon 7 Gen 4, dan MediaTek Dimensity 8300. Di kelas entry level kamu bisa memilih Snapdragon 685 atau MediaTek Helio G99 yang pakai proses fabrikasi 6 nm. Untuk chipset flagship seperti Snapdragon 8 Elite dan MediaTek Dimensity 9600 Pro umumnya memiliki proses fabrikasi 3 atau 2 nm.

2. Chipset dengan skor benchmark yang terlalu rendah

ilustrasi chipset HP (mediatek.com)

Dilansir PhoneArena, skor benchmark sebenarnya tidak mutlak karena hanya menunjukkan angka dan tak mencerminkan realitas penggunaan di dunia nyata. Meski begitu, bukan berarti pengetesan atau skor benchmark sama sekali tidak berarti. Jika diulik lebih dalam benchmark justru bisa memberikan data konkrit terkait kemampuan, peningkatan performa, hingga mampu membuktikan klaim dari produsen itu sendiri.

Jika skor benchmark-nya tinggi maka bisa dipastikan bahwa suatu HP atau chipset memiliki performa yang tinggi. Jika skornya terlalu rendah maka performa HP atau chipset sudah pasti rendah. Skor benchmark juga berbanding lurus dengan spesifikasi chipset. Untuk chipset mid-range pasti punya skor yang cukup tinggi. Sementara itu, chipset entry level atau chipset yang pakai teknologi kuno pasti menorehkan skor yang rendah.

3. Chipset yang hanya bisa merekam video di resolusi rendah

ilustrasi chipset HP (qualcomm.com)

Spesifikasi kamera bukan satu-satunya hal yang harus diperhatikan buat pencinta foto dan video. Sebab, spesifikasi kamera unggulan tak akan maksimal tanpa dukungan dari chipset itu sendiri. Chipset di HP bisa menentukan beberapa hal yang berhubungan dengan kemampuan kamera, mulai dari batasan resolusi kamera hingga kemampuan perekaman video.

Dilansir NanoReview, chipset entry level seperti Snapdragon 685 dan MediaTek Helio G99 biasanya hanya bisa merekam video di resolusi 1080p atau 2K. Untuk kelas mid-range seperti MediaTek Dimensity 7300 dan Snapdragon 7 Gen 3 umumnya bisa merekam video hingga resolusi 4K 30 atau 4K 60 FPS. Mau cari HP dengan perekaman terbaik? Carilah HP dengan chipset flagship yang bisa merekam video hingga resolusi 4K 120 FPS atau 8K 30 FPS.

4. Chipset 'daur ulang' yang tidak memiliki peningkatan

ilustrasi chipset HP (mediatek.com)

Tiap tahun produsen pasti akan merilis chipset terbaru, entah itu di kelas flagship, mid-range, atau entry level. Chipset baru sudah pasti lebih baik dari pendahulunya, tapi bukan berarti spesifikasinya meningkat secara signifikan. Dilansir JagatReview, ada banyak chipset baru yang tidak mendapat peningkatan signifikan, seperti Helio G100 (penerus Helio G99), Helio G200 (penerus Helio G100), Dimensity 7400 (penerus Dimensity 7300), dan Dimensity 7360 (penerus Dimensity 7300).

Jika melihat spesifikasinya semua chipset tersebut hanya memberikan peningkatan minor seperti clock speed yang sedikit lebih tinggi atau penambahan beberapa fitur baru. Spesifikasi lain seperti jumlah core, jenis core yang dipakai, proses fabrikasi, hingga dukungan RAM semuanya sama sehingga terkesan seperti chipset 'daur ulang.'

5. Chipset dengan GPU yang performanya rendah

ilustrasi chipset HP (qualcomm.com)

GPU punya andil penting dalam kegiatan berat seperti rendering atau gaming. Karena itu, GPU berkualitas sangat penting bagi power user yang kerap mendorong performa chipset. Adreno (chipset Snapdragon) dan Mali (chipset MediaTek) adalah dua GPU yang sangat populer di kalangan pencinta HP. Keduanya bisa memberikan performa maksimal serta efisiensi tingkat tinggi. Di sisi lain, ada GPU PowerVR yang memiliki banyak masalah, entah itu terkait driver, dukungan software, hingga performa gaming sehingga harus dihindari. Samsung juga memiliki GPU tersendiri bernama Xclipse di chipset Exynos yang performanya cukup bisa diandalkan.

Pemilihan chipset terbaik tak hanya berpengaruh pada performa, tapi juga bisa meningkatkan pengalaman penggunaan. Perlu diperhatikan juga bahwa tiap HP bisa memiliki performa dan kemampuan yang berbeda meski menggunakan chipset yang sama. Hal tersebut dapat terjadi karena spesifikasi lain seperti RAM, storage, dan sistem operasi (OS) juga berpengaruh terhadap kemampuan serta optimalisasi chipset.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article