Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Teknologi Kamera HP yang Gagal, Ribet dan Kurang Praktis

5 Teknologi Kamera HP yang Gagal, Ribet dan Kurang Praktis
ilustrasi kamera HP (unsplash.com/Matthias Oberholzer)
Intinya Sih
  • Beberapa teknologi kamera HP seperti pop-up, under display, rotating, xenon flash, dan mikroskop gagal bertahan karena masalah praktikalitas, kualitas foto, serta risiko kerusakan tinggi.
  • Pop-up dan rotating camera ditinggalkan akibat komponen bergerak yang rentan rusak, sementara under display camera dikritik karena hasil foto buram dan warna kurang natural.
  • Xenon flash tergeser oleh LED flash yang lebih efisien dan fleksibel, sedangkan kamera mikroskop dianggap gimik tanpa fungsi penting dengan resolusi rendah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Selama belasan tahun berbagai produsen HP terus mengembangkan teknologi kamera di produk mereka. Perkembangan tersebut kian masif dan secara langsung meningkatkan kualitas kamera HP. Menariknya, tak semua teknologi kamera bisa diterima oleh konsumen. Justru, ada beberapa teknologi kamera HP yang gagal dan ditinggalkan.

Semua teknologi ini sempat dipakai, tapi termakan oleh zaman dan perlahan hilang dari pasaran. Apa, sih, penyebabnya?

1. Pop-up camera punya banyak masalah

pop up camera
pop up camera (unsplash.com/Lukenn Sabellano)

Di era 2018 ada satu teknologi kamera HP yang naik daun, yaitu pop up camera. Teknologi tersebut memungkinkan kamera depan HP masuk ke bodi saat tidak digunakan dan keluar dari bodi ketika hendak dipakai. Namun, pop up camera tak bertahan lama karena eksistensinya memudar hingga akhirnya menghilang tanpa jejak mulai 2020.

Menurut laman Android Police, pop up camera gagal karena beberapa masalah, seperti kurang praktikal, punya risiko kerusakan yang tinggi, bikin debu dan air bisa masuk ke dalam HP, serta bisa menguras baterai dengan cepat. Pop up camera juga mulai tersingkirkan karena adanya kamera punch hole. Padahal, pop up camera mampu memberikan hasil foto yang tajam karena punya sensor besar.

2. Under display camera punya hasil foto yang buruk

Samsung Galaxy Z Fold 5 pakai under display camera
Samsung Galaxy Z Fold 5 pakai under display camera (news.samsung.com)

Untuk memberikan layar full screen tanpa potongan kamera, berbagai produsen mulai mengembangkan under display camera (UDC) atau kamera di bawah layar. Teknologi tersebut mulai populer pada awal 2020, tapi sekarang mulai menghilang. UDC sempat digunakan pada lini Samsung Galaxy Z series. Namun, Samsung meninggalkannya pada model terbaru, yaitu Samsung Galaxy Z Fold 7.

Menurut laman SamMobile, salah satu asalannya adalah soal kualitas. UDC memang membuat layar lebih bersih, tapi kualitas kamera tersebut tak bisa menyamai kamera selfie konvensional. UDC bikin warna terkesan flat, tone kulit kurang natural, foto jadi blur, dan ketajamnnya menurun drastis. Menariknya, masih ada satu merek yang setia menggunakan UDC, yaitu nubia REDMAGIC.

3. Rotating camera punya komponen yang rentan

Samsung Galaxy A80 pakai rotating camera
Samsung Galaxy A80 pakai rotating camera (news.samsung.com)

Samsung Galaxy A80 dan ASUS Zenfone 8 Flip merupakan beberapa HP yang menggunakan teknologi rotating camera. Seperti namanya, teknologi tersebut membuat kamera belakang bisa berputar. Kamera belakang akan menghadap ke depan ketika kamu hendak menggunakannya untuk selfie atau merekam video dengan posisi ke depan.

Teknologi tersebut bikin kualitas foto dan video jadi makin ciamik karena kamu bisa merekam video dan menangkap foto selfie dengan kamera utama. Sayangnya, laman Android Authority menjelaskan bahwa komponen bergerak di rotating camera sangat rawan akan kerusakan. Jika digunakan dalam waktu yang lama, engselnya bisa rusak, komponennya aus, bahkan bisa berhenti bergerak.

4. Xenon flash tergantikan oleh LED flash konvensional

Xenon flash ada di HP Nokia Lumia
Xenon flash ada di HP Nokia Lumia (unsplash.com/He Junhui)

Xenon flash merupakan lampu flash yang mampu memproduksi cahaya intens dengan spektrum penuh dalam waktu yang sangat singkat. Alhasil, cahaya yang dihasilkan benar-benar terang sehingga cocok untuk menangkap foto di kondisi gelap gulita. Xenon flash cukup populer di era 2015-an, khususnya pada HP Nokia seperti Nokia Lumia dan Nokia 808.

Kepopuleran xenon flash sendiri tak bertahan lama karena fungsinya mulai tergantikan oleh LED flash konvensional. Laman PhoneArena menjelaskan bahwa LED flash konvensional lebih murah dari xenon flash. Ukurannya juga lebih kecil, sangat cocok buat HP modern yang tipis dan ringan. LED flash konvensional juga lebih efisien daya dari xenon flash. Apalagi, LED flash konvensional lebih fleksibel dari xenon flash.

5. Kamera mikroskop tak punya fungsi esensial

ilustrasi kamera HP
ilustrasi kamera HP (unsplash.com/Sam Grozyan)

OPPO merupakan produsen yang memopulerkan kamera mikroskop lewat OPPO Find X3 Pro dan OPPO Reno 8T. Kamera tersebut bisa melakukan pembesaran hingga puluhan kali sehingga mampu menangkap foto dengan sangat dekat atau bisa memotret benda yang sangat kecil seperti serat kain. Sekilas memang revolusioner dan sangat unik. Namun, kamera tersebut tak punya fungsi yang esensial. Kamera mikroskop hanya terkesan sebagai gimik belaka. Resolusinya juga tergolong kecil seperti 2 atau 3MP, membuat foto yang ditangkap blur dan kurang tajam.

Beberapa teknologi kamera HP yang gagal tersebut menunjukkan bahwa tak semua inovasi bisa diterima dan bertahan. Justru, beberapa inovasi hadir sebagai pijakan bagi inovasi lain untuk berkembang dan tidak mengulang kesalahan yang sama. Teknologi kamera HP modern juga tak berfokus pada inovasi radikal, tapi mengedepankan hasil akhir dan kemampuan processing AI.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More