Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Tipe Orang yang Kurang Cocok Pakai MacBook, Kamu Termasuk?

4 min read
5 Tipe Orang yang Kurang Cocok Pakai MacBook, Kamu Termasuk?
ilustrasi MacBook (unsplash.com/Maxim Hopman)
  • MacBook kurang ideal untuk gamer berat karena banyak game tidak berjalan native, GPU terintegrasi kalah dari dedicated GPU Windows, dan FPS umumnya lebih rendah.
  • Pengguna dengan bujet di bawah Rp10 juta lebih cocok mempertimbangkan laptop Windows, karena harga MacBook baru maupun bekas relatif lebih tinggi.
  • MacBook juga kurang cocok bagi pencari layar sentuh fleksibel, pengguna di luar ekosistem Apple, serta mereka yang ingin meng-upgrade RAM atau storage.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada 2026 ini Apple merilis banyak produk baru, dua di antaranya adalah MacBook Neo dan MacBook Pro OLED. MacBook sendiri adalah lini laptop buatan Apple yang mengedepankan performa andal, kemudahan penggunaan, dan sistem operasi (OS) terbaik. Kelihatannya memang seperti laptop sempurna, tapi ternyata tak semua orang cocok pakai MacBook, lho!

Gamer, pengguna yang sering melakukan upgrade, dan orang yang menginginkan laptop murah pasti tidak akan cocok pakai MacBook. Pasalnya, MacBook tidak bisa memberikan apa yang mereka mau dan tak mampu memenuhi kebutuhan tertentu. Apakah kamu termasuk salah satunya?

  1. 1. Gamer yang bermain game berat di laptop

    ilustrasi MacBook
    ilustrasi MacBook (unsplash.com/ostudio)

    MacBook sebenarnya dilengkapi spesifikasi kelas atas seperti RAM 16 GB, storage 2 TB, dan prosesor ngebut seperti Apple M5 Pro. Sayangnya, mau setinggi apa pun spesifikasinya MacBook tak ideal buat main game sehingga tidak cocok buat gamer. Bagi gamer, laptop gaming dengan OS Windows masih menjadi pilihan terbaik.

    Dilansir Engadget dan Evetech, tidak semua game (khususnya game berat) bisa berjalan secara native di MacBook. Meski daftar game native di MacBook terus bertambah, tapi untuk sekarang masih belum sebanyak Windows. MacBook juga pakai integrated GPU yang performanya kalah jauh dari dedicated GPU di laptop Windows seperti RTX, GTX, atau RX series. Saat digunakan bermain game MacBook umumnya hanya bisa memberikan 30-60 FPS. Laptop Windows (khususnya gaming) bisa memberikan 90-145 FPS, bahkan lebih.

  2. 2. Orang dengan bujet tipis yang mencari laptop murah

    ilustrasi MacBook
    ilustrasi MacBook (unsplash.com/James McKinven)

    Punya bujet tipis under Rp10 jutaan? Sebaiknya hindari membeli MacBook. Jika melihat harga resminya di berbagai reseller, MacBook termurah (MacBook Neo) dijual mulai Rp12 jutaan. Ada juga MacBook Air yang dibanderol mulai Rp15 jutaan. Laptop Windows memberikan varian harga yang lebih terjangkau. Beberapa merek seperti ASUS, Acer, dan Axioo bisa menawarkan laptop yang harganya mulai Rp4 juta--6 jutaan di 2026.

    Harga bekas juga tak kalah jomplang. Untuk laptop Windows generasi lama banyak yang menjualnya di kisaran Rp2 juta--4 jutaan. Mau yang sedikit lebih baru atau punya performa lebih tinggi? Siapkan dana Rp5 juta--8 jutaan. Di sisi MacBook, seri lama seperti MacBook Air M1 harganya masih cukup tinggi di Rp4 juta--6 jutaan. Seri yang lebih baru atau seri Pro jauh lebih mahal, bahkan harganya masih stabil di belasan juta.

  3. 3. Kreator yang menginginkan laptop layar sentuh

    ilustrasi MacBook
    ilustrasi MacBook (unsplash.com/Klim Musalimov)

    Banyak kreator yang mencari laptop layar sentuh (touch screen) untuk memenuhi berbagai kebutuhan seperti editing, menggambar, atau sekadar membuat sketsa. Laptop Windows menawarkan banyak varian laptop layar sentuh. Ada model dengan harga terjangkau mulai Rp6 jutaan, ada juga laptop kelas premium puluhan juta. Beberapa model juga memiliki layar yang bisa ditekuk 360 derajat dan mendukung stylus sehingga memudahkan penggunaan.

    Sejak dulu Apple kekeuh tak akan memberikan layar sentuh ke MacBook. Baru pada 2026 mereka merilis MacBook Pro OLED yang mendukung layar sentuh. Sayangnya, MacBook Pro OLED masih punya beberapa kekurangan seperti harganya yang mahal (mulai Rp52 jutaan), tidak mendukung stylus, dan layarnya tak bisa ditekuk 360 derajat. Selain MacBook Pro OLED belum ada model lain yang mendukung layar sentuh.

  4. 4. Pengguna yang tidak akrab dengan ekosistem Apple

    ilustrasi MacBook
    ilustrasi MacBook (unsplash.com/Dmitry Chernyshov)

    MacBook berjalan lebih optimal jika digunakan berbarengan dengan perangkat Apple lain, seperti Apple TV, iPhone, AirPods, atau iPad. Sebab, semua perangkat Apple saling terhubung, bisa "berkomunikasi", dan penggunaannya bisa makin maksimal. Hal tersebut disebut ekosistem Apple, yaitu sebuah ekosistem digital yang mampu berjalan secara mandiri dan seamless lewat produk dari satu perusahaan yang sama (Apple).

    Penggunaan MacBook yang dibarengi ekosistem Apple bikin kamu bisa mengunggah file, memindahkan file, melakukan pekerjaan, hingga menghubungkan perangkat dengan lebih mudah. Jika tak akrab dengan ekosistemnya atau tidak memiliki perangkat Apple lain kamu akan kesulitan. MacBook tidak cocok dengan sistem di HP Android, kerap sulit terhubung dengan TWS dari merek lain, dan tak punya banyak port untuk menghubungkan dengan perangkat lain. Alhasil, kamu harus beli dongle dan mengeluarkan uang lebih.

  5. 5. Orang yang suka upgrade hardware seperti RAM dan storage

    ilustrasi MacBook
    ilustrasi MacBook (unsplash.com/Rubén Menárguez)

    Laptop Windows memiliki satu kelebihan jika dibandingkan dengan MacBook, yaitu komponennya bisa di-upgrade. Kamu bisa mengganti RAM, storage, WiFi card, hingga komponen lain, memberikan fleksibilitas bagi pengguna untuk berbagai hal. Laman BGR menerangkan bahwa MacBook sama sekali tidak bisa melakukannya. Saat storage MacBook penuh atau RAM mulai sempit kamu harus membeli MacBook baru atau menggunakan storage eksternal. Sangat berbeda, ketika storage atau RAM laptop Windows mulai penuh kamu bisa dengan mudah menggantinya dengan yang baru, bikin perangkat makin future proof.

    Di balik berbagai ulasan positifnya, ternyata MacBook jauh dari kata laptop terbaik. Dalam penggunaannya ada banyak orang yang tak cocok pakai MacBook, bahkan penggunaan MacBook justru bisa menghambat kegiatan mereka. Hal tersebut membuktikan bahwa semua perangkat pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Bagi pengguna pemilihan perangkat terbaik adalah yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More