Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Game Masterpiece yang Dibenci Banyak Pemain, Kok Bisa?

6 Game Masterpiece yang Dibenci Banyak Pemain, Kok Bisa?
Mafia 3 (dok. Hangar 13)
Intinya Sih
  • Fenomena kebencian terhadap game sebelum rilis makin ekstrem, sering kali dipicu alasan di luar kualitas seperti ekspektasi berlebihan atau reputasi studio pengembang.
  • Enam game seperti Dragon Age: The Veilguard, Star Wars Outlaws, dan The Callisto Protocol sebenarnya punya kualitas solid meski sempat dibanjiri sentimen negatif dari komunitas pemain.
  • Mafia 3, Gotham Knights, dan Watch Dogs Legion menunjukkan bahwa inovasi gameplay dan konsep berbeda kerap disalahpahami, padahal tetap menawarkan pengalaman bermain yang seru dan layak dicoba.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Fenomena game yang diserang habis-habisan sebelum rilis sebenarnya bukan hal baru, tapi belakangan menjadi semakin ekstrem. Ada sebagian kecil pemain yang cukup vokal dan malah berharap sebuah game gagal, sering kali karena alasan di luar kualitas game-nya sendiri.

Contohnya Highguard, yang sudah mendapat sentimen negatif hanya karena trailer-nya muncul sebagai penutup di The Game Awards 2025. Ketika opini negatif semacam itu menyebar, narasinya bisa melekat dan merusak reputasi, bahkan untuk game yang sebenarnya bagus dan layak dimainkan. Berikut beberapa di antaranya.

1. Dragon Age: The Veilguard

Ada sebagian orang yang sejak awal berharap Dragon Age: The Veilguard gagal hingga di titik gelombang kebencian yang muncul terasa seperti dibuat-buat. Padahal, meski game ini memiliki beberapa kekurangan seperti dialog yang kaku dan tidak sedalam game RPG BioWare lainnya dalam hal percabangan cerita, kualitasnya tetap apik sebagai game. Sistem combat-nya menjadi yang terbaik di seri Dragon Age karena menantang namun tidak terlalu sulit, bervariasi antar class dan senjata, dan makin berkembang seiring progress permainan. Dari sisi cerita, meski tidak seistimewa Origins, The Veilguard tetap solid dengan companion yang menarik, ending yang sangat memuaskan dan Solas sebagai antagonis utama yang kuat.

2. Star Wars Outlaws

Kebanyakan kritik terhadap Star Wars Outlaws sebenarnya dipengaruhi sentimen negatif terhadap Ubisoft, yang memang sempat merusak kepercayaan pemain dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di luar itu, banyak pemain juga yang salah ekspektasi di mana game ini bukanlah game shooter ala Star Wars pada umumnya, melainkan lebih menekankan stealth dan sabotase. Jika dinikmati sesuai konsepnya, game ini akan sangat menyenangkan, didukung karakter luar biasa seperti ND-5, droid veteran Clone Wars dengan PTSD, serta duo Kay Vess dan Nyx yang memiliki chemistry menarik. Ceritanya juga mengeksplorasi sisi unik semesta Star Wars, termasuk bagaimana masyarakat biasa memandang Force.

3. Callisto Protocol

The Callisto Protocol sempat dibanjiri hype karena digarap oleh kreator Dead Space, tapi ketika dirilis dan ternyata tidak terlalu mirip, banyak pemain yang merasa kecewa karena ekspektasi mereka terpatahkan. Padahal, game ini tetap menawarkan pengalaman horor sci-fi yang solid dengan pendekatan berbeda. Sistem combat-nya memang butuh adaptasi, tapi memuaskan setelah terbiasa. Dari sisi horor, The Callisto Protocol berhasil menciptakan suasana mencekam lewat kombinasi body horror, elemen supernatural dan desain monster yang disturbing. Didukung dengan cerita yang kuat, game ini sebenarnya layak mendapat perhatian lebih, terutama bagi pemain yang mencari game horor bertema sci-fi.

4. Mafia 3

Seri Mafia dikenal memiliki cerita yang solid, tapi sering dikritik karena dunianya kosong dan minim aktivitas sampingan selain sekadar berkendara atau eksplorasi sederhana. Nah, Mafia 3 justru menjadi pengecualian. Pada game ini, pemain bermain sebagai Lincoln Clay, seorang veteran perang Vietnam yang harus membangun kekuatan lewat kerja sama dengan berbagai organisasi kriminal di New Bordeaux. Gameplay-nya lebih fokus ke aktivitas seperti merebut wilayah, mencuri barang ilegal, dan menghabisi musuh, sehingga terasa jauh lebih padat konten dibanding dua game sebelumnya. Mafia 3 mungkin jadi yang paling jauh dari identitas serinya, namun tetap berdiri sebagai game yang seru dan layak dimainkan.

5. Gotham Knights

Gotham Knights sejak awal memang sudah menghadapi ekspektasi tinggi karena dianggap sebagai penerus seri Batman Arkham, tapi malah tidak menampilkan Batman dan meninggalkan banyak elemen unggulan yang membuat seri Batman Arkham begitu dicintai. Hal ini membuat banyak pemain langsung kecewa, seolah apa pun yang ditawarkan game ini tidak akan cukup karena bukan Batman Arkham yang mereka inginkan. Akan tetapi, jika dinilai sebagai game yang berdiri sendiri, Gotham Knights sebenarnya cukup seru. Keempat karakter playable-nya memiliki gaya bertarung dan cara bergerak yang berbeda-beda, sehingga memberi variasi gameplay yang menarik. Selain itu, game ini juga mengangkat villain yang jarang disorot seperti Court of Owls dan Clayface.

6. Watch Dogs Legion

Watch Dogs Legion mendapat kebencian yang rasanya agak berlebihan. Kualitasnya memang tidak setinggi Watch Dogs 2, tapi bukan berarti buruk karena game ini sebenarnya tetap seru dan berani menawarkan hal berbeda. Kota London sebagai latar tempat utama memberi angin segar dibanding kota-kota mainstream seperti New York atau Los Angeles. Namun, daya tarik utama game ini terletak pada sistem rekrutmen NPC, di mana hampir semua orang di jalan bisa pemain jadikan karakter playable. Mulai dari nenek biasa hingga mantan agen rahasia atau preman jalanan, semua NPC memiliki potensi dengan kemampuan unik masing-masing. Legion sebenarnya menawarkan banyak kebebasan dan keseruan di dalam gameplay-nya, dan meski sering diremehkan, game garapan Ubisoft ini tetap layak dicoba.

Demikian tadi ulasan mengenai beberapa game masterpiece yang dibenci banyak pemain. Pernah memainkan salah satu game di atas?

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi

Related Articles

See More