“Kami memperkirakan jaringan 6G akan mulai diluncurkan sekitar periode 2030. Setiap negara berbeda, di Indonesia mungkin akan memakan waktu sedikit lebih lama. Namun, secara global, kita memperkirakan negara-negara terkemuka di kawasan APAC seperti China, Jepang, dan Korea akan mulai meluncurkan jaringan 6G mulai tahun 2030 dan seterusnya,” ujar Yishen Chan, Director of Spectrum Policy and Regulatory Affairs GSMA.
6G di Depan Mata, Apakah Indonesia Siap Menyusul Negara Tetangga?

- Dunia bersiap memasuki era 6G pada 2030, sementara Indonesia masih menghadapi tantangan kapasitas 5G dan belum memiliki peta jalan jelas menuju jaringan generasi berikutnya.
- Negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, India, dan Vietnam telah menetapkan strategi penggunaan spektrum 6 GHz untuk mendukung peluncuran jaringan 6G mulai tahun 2030.
- Pemerintah Indonesia didorong segera merencanakan alokasi spektrum 6 GHz agar tidak tertinggal dalam transformasi teknologi global yang menuntut bandwidth besar untuk layanan masa depan.
Spektrum seluler menjadi fondasi utama untuk mendukung evolusi teknologi dalam 10 hingga 20 tahun ke depan. Saat ini, dunia sedang berada di ambang revolusi komunikasi, di mana kita menatap masa depan tahun 2030 sebagai gerbang menuju era 6G.
Sementara Indonesia masih berjuang dengan tantangan kapasitas 5G, negara-negara tetangga di kawasan APAC seperti China, Jepang, Korea Selatan, India, dan Vietnam justru tengah berlari kencang melakukan persiapan strategis untuk melompat ke jaringan 6G mulai tahun 2030.
Peta jalan 6G yang disiapkan
Chan mengatakan bahwa negara-negara maju dan berkembang di kawasan APAC, seperti China, Jepang, Korea Selatan, India, dan Vietnam, tidak ingin hanya menjadi penonton. Mereka telah menetapkan peta jalan untuk meluncurkan jaringan 6G mulai tahun 2030.
Alasan utamanya adalah lonjakan kebutuhan data di masa depan. Diperkirakan pada tahun 2040, dunia akan memiliki lebih dari 5 miliar koneksi 6G. Untuk mencapai target tersebut, mereka mulai mengamankan bahan bakar utamanya—spektrum 6 GHz.
Untuk jaringan 6G, kita memerlukan bandwidth sekitar 200–400 MHz per jaringan. Setiap generasi seluler selalu membutuhkan bandwidth 4 hingga 5 kali lebih besar dari generasi sebelumnya. Uji coba telah menunjukkan bahwa penggunaan pita 6 GHz dengan lebar pita 400 MHz memberikan hasil optimal untuk throughput tinggi.
Negara yang sudah siap adopsi 6G

Chan memaparkan negara-negara lain yang sudah selangkah lebih maju dalam merencanakan masa depan konektivitas:
- India: Pemerintah telah memasukkan spektrum 6 GHz dalam rencana 10 tahun hingga 2035 dan mengidentifikasi rentang 6,425–7,125 GHz khusus untuk layanan 6G.
- China: Kementerian terkait telah menyetujui penggunaan pita 6 GHz sebagai spektrum uji coba untuk mempercepat pengembangan teknologi 6G di dalam negeri.
- Eropa: Mengambil langkah strategis dengan menetapkan 540 MHz spektrum pada pita 6 GHz sebagai prioritas utama untuk penggunaan seluler.
- Vietnam: Mereka telah secara resmi menetapkan rentang 6,425–7,125 GHz untuk IMT (seluler), menegaskan pentingnya perencanaan spektrum sejak dini demi layanan 6G di masa depan.
- Uni Emirat Arab (UEA): Menugaskan seluruh pita 6 GHz bagian atas kepada operator seluler mereka dan telah mengumumkan rencana peluncuran komersial dalam waktu dekat.
Indonesia harus segera lakukan persiapan
Negara-negara tersebut menyadari bahwa untuk mendukung teknologi masa depan—seperti komunikasi hologram, digital twins (kembaran digital) waktu nyata, dan pembedahan jarak jauh—mereka membutuhkan channel yang sangat lebar, yaitu 200 hingga 400 MHz.
Pita 6 GHz dipandang sebagai kunci untuk menyediakan kapasitas skala kota pada jaringan yang sudah ada. Jika Indonesia tidak segera mengikuti langkah strategis ini untuk merencanakan alokasi spektrum 6 GHz bagi kebutuhan seluler, kita berisiko tertinggal dalam ekosistem teknologi global yang sedang bertransformasi dengan cepat.
Data di Jakarta menunjukkan bahwa penggunaan Wi-Fi 6 dan 7 masih sangat rendah, dan sebagian besar penggunaan Wi-Fi saat ini masih di pita 2,4 GHz dan 5 GHz yang sudah sangat luas.
“Banyak negara kini mulai merencanakan spektrum 6 GHz untuk seluler, termasuk India, China, negara-negara Eropa, dan Vietnam. Kami mendorong pemerintah dan regulator untuk mulai merencanakan spektrum 6 GHz untuk mendukung evolusi jaringan seluler,” Chan mengatakan.




















