- Artikel membahas enam game yang dianggap merusak karakter ikonik karena perubahan drastis pada kepribadian, desain, atau peran mereka dibanding versi sebelumnya.
- Contohnya termasuk Frank West di Dead Rising 4, Cortana di Halo 5, hingga Prince di Warrior Within yang kehilangan ciri khas dan membuat pemain kecewa.
- Perubahan tersebut sering dikaitkan dengan upaya mengikuti tren pasar atau arah cerita baru, namun justru menghapus identitas asli karakter yang sudah dicintai penggemar.
Menciptakan karakter game yang benar-benar ikonik itu bukan hal mudah. Butuh perpaduan yang kuat antara penulisan, desain visual dan gameplay yang membuat karakter tersebut terasa hidup dan berarti. Ketika sebuah karakter sudah dicintai pemain, biasanya studio akan berusaha menjaga dan mengembangkan popularitas itu. Namun, ada kalanya mereka salah langkah dan justru mengubah karakter tersebut secara drastis hingga di titik tidak seperti karakter yang sama lagi. Alhasil, pemain kecewa besar karena karakter favorit mereka secara tidak langsung “dirusak”. Berikut beberapa diantaranya.
1. Frank West – Dead Rising 4

Dead Rising 4 menjadi contoh jelas bagaimana sebuah karakter bisa “rusak” di mata pemain sampai-sampai mereka memberi julukan berbeda untuk membedakannya dari versi awalnya. Frank West di game ini bahkan dijuluki “Hank East” karena benar-benar terlihat dan terasa seperti orang lain, mulai dari penampilan, suara hingga kepribadiannya yang kini jauh lebih banyak bercanda. Akibat perubahan yang terlalu drastis ini, banyak pemain menolak menganggap Dead Rising 4 sebagai bagian dari serinya. Selain itu, kegagalan komersial game ini yang akhirnya membuat serinya vakum, sering dikaitkan dengan keputusan aneh dalam mengubah karakter ikonik tersebut.
2. Cortana – Halo 5: Guardians
Cortana di seri Halo bukan sekadar karakter pendamping. Ia sudah menjadi karakter ikonik yang setara dengan Master Chief. Karenanya, ketika kondisinya memburuk di Halo 4 dan berujung pada pengorbanan emosional di akhir cerita, banyak pemain merasa kehilangan. Namun keputusan di Halo 5: Guardians untuk menghidupkan kembali Cortana justru merusak momen tersebut, apalagi ketika ia malah dijadikan antagonis dengan ambisi pemberontakan AI demi perdamaian versi dirinya sendiri. Terlepas dari eksekusi cerita yang lebih baik, perubahan drastis dari sosok yang dicintai menjadi antagonis yang mau tidak mau harus dibenci jelas mengecewakan karena seolah menghapus makna kematiannya di game sebelumnya.
3. Joanna Dark – Perfect Dark Zero

Joanna Dark, karakter utama Perfect Dark yang dulu dikenal sebagai “versi perempuan James Bond” dengan kepribadian tenang, cerdas dan karismatik, malah kehilangan identitasnya di game prekuelnya yang berjudul Perfect Dark Zero. Pada game rilisan 2005 ini, ia dirombak menjadi karakter yang lebih generik dan terkesan mengikuti selera pasar saat itu. Penampilannya dibuat lebih “menjual” dengan gaya ala model majalah pria, sementara kepribadiannya berubah menjadi lebih stereotipikal alias kurang unik. Perubahan tersebut makin terasa buruk karena game-nya sendiri juga kurang berhasil, sehingga kesan bahwa perombakan desainnya hanya sekadar upaya untuk mengikuti tren pada masanya jadi semakin kuat.
4. Prince – Prince of Persia: Warrior Within
Prince di Prince of Persia: The Sands of Time awalnya digambarkan sebagai karakter yang sombong dan naif, tapi perlahan berkembang menjadi sosok yang lebih bijak dan disukai, sampai banyak pemain ingin melihat kelanjutan kisahnya. Namun di Warrior Within, Ubisoft mengubahnya secara drastis. Ia jadi jauh lebih kasar, egois dan gelap, alias sejalan dengan nuansa game-game yang lebih edgy di tahun 2000-an. Perubahan ini seperti mengganti karakternya sepenuhnya, sehingga memicu kritik dari para pemain. Akhirnya di The Two Thrones, Ubisoft mencoba memperbaiki arah tersebut dengan menggabungkan kembali sisi lama dan baru Prince dalam satu karakter yang lebih seimbang.
5. Maya – Borderlands 3

Borderlands 2 memperkenalkan Maya, seorang Siren yang jadi favorit banyak pemain karena kemampuan fleksibel dan gameplay-nya yang menyenangkan, baik untuk pemula maupun pemain berpengalaman. Namun di Borderlands 3, kematiannya memicu kemarahan pemain karena dianggap tidak masuk akal dan merusak karakter yang sudah dibangun sebelumnya. Maya tewas ketika melindungi muridnya, Ava, dari Calypso Twins, tapi cara kematiannya terbilang janggal. Sebagai Siren, ia seharusnya bisa menahan Troy dari jarak aman, bukan malah mendekat dan memberi celah untuk diserap kekuatannya. Keputusan ini terlihat seperti penurunan kecerdasan karakter demi kebutuhan cerita.
6. Hunk – Resident Evil Requiem
Hunk sering dijuluki sebagai “Boba Fett”-nya Resident Evil karena aura misteriusnya dan reputasinya sebagai tentara bayaran elit yang hampir tak bisa mati. Sejak debut di Resident Evil 2, ia jadi favorit pemain meski jarang muncul. Karenanya, banyak yang sempat antusias ketika ia kembali muncul di Resident Evil Requiem. Sayangnya, hype itu cepat berubah menjadi kekecewaan ketika Hunk justru dikalahkan Leon dalam pertarungan singkat yang terasa tidak sepadan dengan reputasi apik yang selama ini ia bangun. Memang ada sejumlah pemain yang menyangkal kematiannya karena jasadnya tidak terlihat, tapi secara logika, luka fatal yang ia terima membuat nasibnya sudah terlihat jelas.
Demikian tadi ulasan mengenai beberapa game yang merusak karakter favorit pemain. Selain game-game di atas, game apa lagi yang juga merusak karakter favoritmu?







![[QUIZ] Dari Kamera Disposable Favoritmu, Kami Bisa Tebak Karaktermu](https://image.idntimes.com/post/20250508/bady-abbas-a27moccsrs8-unsplash-0113f4fc98e7f99298e6fe9028becac1.jpg)











