ilustrasi PlayStation (unsplash.com/Johnny)
Menariknya, berbagai keterbatasan tersebut sekarang justru menjadi identitas. Ketika melihat karakter dengan poligon rendah, tekstur beresolusi rendah, efek jitter, atau kabut tebal, orang dapat langsung mengasosiasikannya dengan era PlayStation. Padahal, pada masa itu, semua karakteristik tersebut merupakan konsekuensi dari teknologi. PS1 memiliki sumber daya yang jauh lebih terbatas dibandingkan konsol modern, tetapi developer mampu meracik keterbatasan tersebut menjadi pengalaman yang terasa baru bagi pemain.
Evolusi karakter seperti Cloud Strife bahkan menunjukkan betapa besar perubahan tersebut. Model Cloud pada Final Fantasy VII hanya menggunakan sekitar 900 poligon, sedangkan versi modernnya memiliki lebih dari 100.000 poligon. Detail yang dahulu tidak mungkin ditampilkan secara real-time kini dapat diberikan kepada rambut, pakaian, wajah, senjata, hingga ekspresi karakter.
Jika dilihat sekarang, grafis PS1 mungkin tampak sederhana. Polygonal graphic terlihat jelas, tekstur dapat bergoyang, objek terkadang bergetar, sementara kabut sering digunakan untuk menyembunyikan batas dunia permainan. Namun, semua itu merupakan bagian dari proses ketika industri game sedang belajar bagaimana menghadirkan dunia 3D secara real-time di ruang keluarga.
Jadi, resep grafis PlayStation bukan sekadar tersusun atas poligon sebanyak mungkin. Ia merupakan perpaduan antara kemampuan peranti keras, keterbatasan memori, teknik rendering, desain kamera, penggunaan tekstur, fog, hingga kreativitas developer dalam mencari jalan keluar dari keterbatasan. Dari racikan itulah lahir tampilan 3D yang mungkin tidak sempurna, tetapi berhasil mengubah wajah home gaming dan menjadi salah satu identitas visual paling dikenang dalam sejarah video game.