"Jadi sebetulnya bedanya kalau ChatGPT atau Gemini itu kita sebutnya generative AI. Nah, generative AI itu pada dasarnya dia merespon sebuah prompt yang di-generate oleh kita, dan dari prompt tersebut dia menghasilkan jawaban atau konten," ujarnya kepada IDN Times.
Dari Generatif ke Agen: Perang Kecepatan Baru di Jagat Keamanan Siber

- Agentic AI bergeser dari sekadar menjawab menjadi merencanakan dan bertindak, mempercepat deteksi, investigasi, serta respons dalam perlombaan antara penyerang dan tim keamanan siber.
- Pelaku siber memanfaatkan AI untuk phishing, rekayasa sosial, dan peniruan identitas yang makin personal; masyarakat disarankan tidak panik, memakai MFA, serta memverifikasi permintaan melalui saluran lain.
- Perusahaan tidak boleh menjadikan AI sebagai jalan pintas bagi keamanan yang belum matang; penerapannya memerlukan data tepercaya, kewenangan berjenjang, jejak audit, guardrail, dan tanggung jawab manusia.
Dunia keamanan siber kini berada di ambang titik balik yang masif. Jika dalam beberapa tahun terakhir industri disibukkan dengan kehadiran Generative AI yang bekerja secara reaktif merespons perintah, kini lanskap ancaman digital bergeser ke arah yang jauh lebih canggih dan otonom.
Menurut Suryo Pratomo, Country Head of Ensign InfoSecurity Indonesia, transformasi dari sekadar 'menjawab' menuju 'bertindak' ini menuntut organisasi untuk segera mengubah strategi pertahanan mereka di tengah perlombaan kecepatan melawan penjahat siber.
Dari menjawab menjadi bertindak
Banyak orang awam kerap menyamakan semua jenis kecerdasan buatan dengan apa yang mereka kenal sehari-hari, seperti asisten virtual berbasis teks. Namun, Suryo menjelaskan bahwa ada perbedaan mendasar antara model kecerdasan buatan konvensional dengan teknologi otonom yang mulai mendominasi saat ini.
Ia kemudian membedakannya dengan teknologi yang lebih mutakhir, yakni Agentic AI.
"Kalau agentic AI, itu kita memberikan dia objektif, tujuan. Nah, kemudian dia dapat merencanakan beberapa langkah. Dia bisa menggunakan tools, terus dia bisa mengevaluasi hasilnya. Dan kalau perlu dia bisa melanjutkan tindakan dalam batas yang sudah ditentukan. Jadi pergeserannya itu dari generative AI yang dia menjawab, kalau agentic ini, dia dari menjawab menjadi acting, melakukan tindakan," jelasnya lebih dalam.
Perlombaan kecepatan di medan perang siber

Man with ChatGPT in Laptop (pexels.com/Matheus Bertelli) Di sektor keamanan siber, waktu adalah segalanya. Sektor ini pada dasarnya adalah sebuah perlombaan kecepatan antara pihak penyerang dan pihak bertahan (defender).
Suryo menilai bahwa para penjahat siber kini mulai memanfaatkan otomatisasi skala besar berbasis Agentic AI untuk melancarkan serangan. Sementara itu, manusia di lini pertahanan harus menyaring puluhan hingga ribuan sinyal dan alert dari berbagai environment setiap harinya.
"Cyber security itu pada dasarnya adalah perlombaan kecepatan. Penyerang dapat mengotomatisasi aktivitas dalam skala besar dengan menggunakan si agentic ini," Suryo mengatakan.
Di sinilah Agentic AI berpotensi mengubah permainan. Teknologi ini dapat memperpendek rentang waktu dari tahap deteksi menuju investigasi dan respon secara drastis. Tanpa bantuan sistem otonom yang cepat, tim keamanan manual akan kewalahan mengimbangi kecepatan serangan siber modern yang dikendalikan oleh AI.
"Si agentic AI ini berpotensi memperpendek waktu dari deteksi ke investigasi dan respons. Makanya banyak pakar menyebut, 'Wah, ini bisa berpotensi mengubah landscape cyber security'," tambahnya.
Saat penipuan jadi semakin personal
Pergeseran tren kecerdasan buatan ini tidak hanya berdampak pada benteng pertahanan korporasi besar, tetapi juga merambah langsung ke kehidupan sehari-hari masyarakat. Ancaman siber kini berevolusi menjadi jauh lebih rapi, personal, dan meyakinkan.
Pelaku kejahatan memanfaatkan teknologi ini untuk melancarkan serangan phishing, rekayasa sosial (social engineering), hingga peniruan identitas (impersonation) melalui teks, suara, gambar, hingga video. Suryo mengingatkan bahwa tren penipuan di ruang digital terus berkembang dari waktu ke waktu dan semakin sulit dibedakan.
"Betul. Dari yang simpel gitu, sekarang jadi lebih kompleks. Jadi kita kadang-kadang, 'Eh ini beneran enggak sih?' gitu ya. Kadang-kadang kita lagi sibuk, lagi tengah kesibukan, tahu ada yang telepon, ada yang kirim apa, gitu kan," dia mengatakan.
Meskipun modus penipuan semakin canggih—seperti undangan pernikahan palsu yang sempat marak hingga ragam modus baru lainnya—masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada.
Suryo membagikan tiga langkah praktis yang bisa diterapkan sehari-hari untuk melindungi diri:
- Jangan bertindak karena panik: Hindari langsung mengambil keputusan atau merespons ketika dihadapkan pada situasi yang mendesak. Berhenti sejenak untuk berpikir.
- Aktifkan keamanan berlapis: Selalu aktifkan multi-factor authentication (MFA) di semua perangkat dan akun digital yang dimiliki.
- Selalu verifikasi saluran lain: Jika ada pihak yang mengaku sebagai rekan atau keluarga—terutama yang meminta uang atau data sensitif melalui saluran tidak dikenal—lakukan konfirmasi langsung melalui sambungan telepon ke nomor yang sudah dipastikan milik mereka.
Kesalahan fatal dalam adopsi AI

ilustrasi keamanan siber (pexels.com/Antoni Shkraba Studio) Ancaman siber yang kian kompleks menuntut perusahaan untuk bergerak cepat memperkuat sistem pertahanan mereka. Namun, dorongan untuk segera mengadopsi teknologi pintar ini sering kali diiringi oleh kesalahan mendasar di tingkat organisasi.
Kesalahan paling umum yang dilakukan perusahaan adalah memperlakukan AI sebagai jalan pintas instan untuk menambal sistem keamanan yang sebenarnya belum matang.
"Mungkin menurut kami kesalahan yang paling umum itu memperlakukan AI sebagai shortcut untuk memperbaiki misalnya SOC yang belum matang. Kalau datanya buruk, prosesnya jelas, kewenangannya enggak didefinisikan, dia akan hanya mempercepat keputusan yang buruk juga," imbuh Suryo.
Ia menekankan bahwa kecerdasan buatan bukanlah solusi mandiri (stand-alone solution) yang bisa dibiarkan berjalan sendiri tanpa kontrol. AI pada dasarnya berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kapabilitas manusia bukan sebagai pengganti total.
Batasan tegas dan tanggung jawab manusia
Agar adopsi AI di sektor keamanan siber tidak berbalik menjadi bumerang—seperti risiko sistem produksi kritikal yang mendadak dihentikan atau celah keamanan yang justru terbuka—perusahaan wajib menerapkan tata kelola yang ketat.
Suryo menegaskan bahwa sistem otonom tidak boleh diberikan wewenang penuh tanpa adanya batasan jalur kontrol atau guardrail.
"Fully autonomous itu menurut saya tidak mungkin. Harus ada guardrail-nya. Tetap si agentic AI atau agentic SOC ini, dia fungsinya adalah membantu kita, meng-augmentasi kita yang punya tugas nih untuk bantu, gitu. Bukan menggantikan," katanya.
Dalam merancang tata kelola (Responsible AI Governance) yang tepat bagi perusahaan, beberapa hal utama yang harus diprioritaskan meliputi:
- Kualitas dan kepercayaan data: Memastikan data yang dimasukkan ke dalam sistem memiliki kualitas yang benar, tepercaya dan bersih dari bias.
- Kewenangan berjenjang: Hak akses dan kontrol tidak boleh diberikan secara menyeluruh pada satu sistem, melainkan harus diatur secara bertingkat.
- Jejak audit yang akuntabel: Setiap tindakan atau keputusan yang diambil harus memiliki rekam jejak yang jelas agar aspek pertanggungjawaban manusia tetap terjaga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Dengan kombinasi antara tata kelola yang matang, kesadaran digital di tingkat individu, serta pemanfaatan teknologi yang bijak, organisasi maupun masyarakat dapat berdiri lebih siap menghadapi lanskap keamanan siber di era otonomi digital yang terus berkembang.



![[QUIZ] Dari Caramu Charge HP, Kami Bisa Tebak Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20240427/smartphone-2568602-1280-b4e524f5490f1af799b4ba12a6bd3cbd-583b3b87529e3749038318e2b1ab72d8.jpg)

















