Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[REVIEW] Harvest Moon: Echoes of Teradea, Bukan Game Rekomendasi
cuplikan Harvest Moon: Echoes of Teradea (dok. Natsume/Harvest Moon: Echoes of Teradea)
  • Harvest Moon: Echoes of Teradea menawarkan simulasi bertani, eksplorasi, dan pemulihan empat desa, tetapi cerita panjangnya dinilai dangkal, terlalu banyak tutorial, serta konflik sering disederhanakan.
  • Visual dunia terlihat cerah dari kejauhan, namun detail lingkungan, model karakter, animasi, dan desain hewan dinilai kaku serta tertinggal. Musiknya nyaman sebagai latar, tetapi kurang berkesan.
  • Gameplay bertani ramah pemula, tetapi minim kebebasan penggunaan alat; eksplorasi dibatasi gerakan kaku dan jalur tertentu. Dengan harga Rp389.999 di Steam, ulasan menyarankan menunggu diskon.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Coba bayangkan tentang kehidupan santai di desa. Ada ladang yang cerah, hewan yang lucu, dan dunia yang luas untuk dijelajahi. Itulah janji Harvest Moon: Echoes of Teradea karya Natsume dan Imagica Geeq yang dirilis pada 15 Oktober 2026 lalu.

Sayangnya, makin lama dimainkan, makin terasa bahwa game ini bukan game yang layak direkomendasikan dengan harga 389.999 rupiah di Steam. Apalagi, di platform lain yang harganya bisa dua kali lipat. Sebagai gambaran, setelah lebih dari 30-an jam bermain di PC, begini review Harvest Moon: Echoes of Teradea:

Harvest Moon: Echoes of Teradea
3/5★
Harvest Moon: Echoes of Teradea adalah game simulasi pertanian yang memadukan kehidupan pedesaan, eksplorasi dunia terbuka, dan petualangan RPG. Pemain akan mengelola ladang, memelihara hewan, menjalin persahabatan hingga hubungan romantis, serta menjelajahi berbagai wilayah untuk mengungkap misteri kabut yang menyelimuti Forest of Echoes. Dengan bantuan teman-teman hewan dan Harvest Goddess, pemain harus membantu memulihkan wilayah Teradea sekaligus mengungkap rahasia yang mengancam kehidupan penduduknya.
GenreAdventure, Simulation, Farming Sim, RPG
DevelopersNatsume Inc. dan IMAGICA GEEQ Inc.
PublisherNatsume Inc.
PlatformPC (Steam), Nintendo Switch, Nintendo Switch 2, PlayStation 5, Xbox Series X|S.
PriceRp. NaN

Spesifikasi minimum PC

Operating System

Windows 11 Pro 64-bit

Processor

Intel Core i5-7200U @ 2,50 GHz

Memory

16 GB RAM

GPU

NVIDIA GeForce GTX 1650

DirectX

Version 12

Storage

8 GB available space

1. Ceritanya panjang, tetapi cenderung terlalu disederhanakan

cuplikan Harvest Moon: Echoes of Teradea (dok. Natsume/Harvest Moon: Echoes of Teradea)

Semuanya bermula di Bloomfield, sebuah desa yang subur yang berdiri di kaki gunung, tetapi kabut misterius dari Forest of Echoes menyelimuti daerah sekitar. Serigala berkeliaran di Wolf Hill, menakuti manusia untuk tidak melancong, sementara desa lain ikut dilanda masalah yang berbeda. Pemain yang berperan sebagai karakter utama diminta memulihkan empat desa yang masing-masing punya Spirit Tree yang layu karena roh penjaga yang tertidur.

Premisnya mungkin sudah sering kita jumpai. Apalagi, untuk mereka yang pernah memainkan game-game Harvest Moon di bawah Natsume, seperti Harvest Moon: The Winds of Anthos (2023). Penulis tidak keberatan dengan hal itu karena game bertani memang tidak butuh intrik politik yang rumit. Sistem Happilia malah cukup cerdik sebab tiap kegiatan harian, dari mengobrol sampai mengerjakan permintaan warga, akan mengisi tenaga Harvest Godddes untuk memulihkan negeri.

Masalahnya, orang-orang yang terlibat dalam cerita terasa jauh dari perjuangan itu. Di Bloomfield, roh penjaganya marah karena alasan yang remeh. Padahal, ada peluang untuk menggali hubungan desa dengan makhluk di sekitarnya. Ceritanya seolah kurang dieksplorasi meski tentu lebih baik dari seri pendahulunya.

Bab pertama pun dijejali tutorial yang menyamar jadi alur cerita. Panjang dan agak membosankan. Begitu masalah serigala beres, rasanya seperti sekadar mencentang satu baris cerita dalam daftar.

Kehadiran beberapa karakter sebenarnya menolong. Membikin cerita jadi sedikit lebih hidup. Konflik Maplehill soal musik tradisional versus musik modern, misalnya, terasa autentik sekaligus familier dengan munculnya sejumlah karakter muda. Namun, di beberapa tempat, konflik yang rumit terasa terlalu disederhanakan.

2. Grafis yang indah dari jauh, lalu pudar dari dekat

cuplikan Harvest Moon: Echoes of Teradea (dok. Natsume/Harvest Moon: Echoes of Teradea)

Teradea tampak seperti tempat liburan dari kejauhan. Warnanya cerah, ladangnya disinari matahari, dan siluet desanya mengundang decak kagum. Selama kamera tidak terlalu dekat, ilusinya sebenarnya bisa bertahan.

Begitu mendekati rumputnya, ilusi itu malah retak. Permukaan tanahnya terlihat seperti tambalan segitiga dengan efek seadanya. Gayanya terasa tertinggal 1 atau 2 generasi dari platform modern. Bangunan dunianya memang selangkah lebih baik dari Harvest Moon: The Winds of Anthos (2023) dan Harvest Moon: Home Sweet Home (2024), tetapi tetap jauh dari kemampuan yang bisa dicapai sebuah PC. Mungkin hal yang sama berlaku di platform lain, seperti Nintendo Switch, Nintendo Switch 2, Xbox Series X/S, dan PlayStation 5.

Masalah terbesar ada pada karakternya. Model karakter dan animasinya kaku dan kurang sentuhan manusiawi. Padahal, game santai hidup dari kehangatan itu.

Bayangkan, ceritanya panjang, kontennya banyak, tetapi desain karakternya terlalu polos. Tidak meninggalkan kesan yang cukup dalam ingatan. Semua mudah dilupakan.

Sudah begitu, hewan-hewannya juga tidak semua sesuai penampakan. Sapi, misalnya, terlihat lebih mirip babi daripada sapi itu sendiri. Dalam beberapa kesempatan, penulis menyebutnya sebagai "sabi", gabungan dari "sapi" dan "babi".

3. Konsep bertaninya dipermudah, konsep menjelajahnya diperumit

cuplikan Harvest Moon: Echoes of Teradea (dok. Natsume/Harvest Moon: Echoes of Teradea)

Gameplay meladangnya terbilang ramah pemula karena memakai aksi kontekstual mirip dengan Harvest Moon: Home Sweet Home. Kita bisa berdiri di tanah kosong, menekan tombol untuk mengayunkan cangkul, lalu menanam dan menyiram dengan tombol yang sama. Pemain tidak diizinkan memakai alat sesuka hati. Tidak ada interaksi dengan perkakas seperti yang lazim kita jumpai di farming simulation game macam Story of Seasons atau Stardew Valley.

Untuk pemula, ini mungkin kenyamanan yang diharapkan. Namun, untuk pemain yang sudah familier dengan beragam farming simulation game, ini ibarat penyiksaan. Sebab, kesederhanaan tidak selalu bisa menyelamatkan. Ketiadaan interaksi untuk memilih perkakas justru tampak seperti kemalasan developer dalam mengembangkan kerumitan yang dibutuhkan.

Gameplay mengurus ternaknya juga tidak bisa diharapkan. Hewan dikumpulkan dalam satu kandang. Menumpuk antara hewan besar dan hewan kecil. Pakannya itu-itu juga, dibuat dari bahan serupa. Membosankan.

Kekakuan yang sebenarnya muncul saat kita keluar dari ladang. Lereng yang tampak bisa dinaiki ternyata menghalangi dan jalan yang kelihatan mulus berakhir di tebing yang tidak bisa dilompati. Perjalanan dari satu tempat ke tempat lain sering memakan usaha lebih banyak dari semestinya. Padahal, dunianya luas dan jelas mengajak kita untuk berkelana dengan dua mekanisme baru: melompat dan memanjat.

Sayangnya, melompat dan memanjat hanya bisa dilakukan di tempat tertentu. Lantas, apalah artinya melompat di dunia terbuka kalau tidak bebas dilakukan? Ini tidak lebih dari kesia-siaan.

Sudah begitu, gerakan karakternya kaku sekali. Padahal, ini game yang lebih menuntut eksplorasi alih-alih sekadar mengurus perkebunan. Mengontrol karakter dengan gerakan yang kaku di dunia yang luas tentu tidak bisa ditoleransi. Natsume dan Imagica Geeq seharusnya bisa bekerja lebih baik dari ini.

Untungnya, kejutan di luar sana sering membayar kesabaran kita dalam menjelajah. Power Wisp tersembunyi membantu kita membuka peningkatan karakter, Harvest Sprite yang menyangkut di semak-semak bisa memberi bibit baru, dan hewan liar yang menunggu dielus bisa kita pelihara pada akhirnya. Beruang kutub dan rubah, misalnya, bisa menjadi teman dalam perjalanan. Sementara itu, burung bisa mengantarkan barang ke ladang secara gratis.

4. Musik menemani perjalanan menyelamatkan dunia, tetapi tidak pernah terasa menggugah

cuplikan Harvest Moon: Echoes of Teradea (dok. Natsume/Harvest Moon: Echoes of Teradea)

Musik di Harvest Moon: Echoes of Teradea terdengar enak untuk menemani sore yang tenang di ladang. Alunannya lembut dan tidak pernah memaksa perhatian kita. Kalau suka musik sebagai latar, ini seharusnya cukup.

Hanya saja, di luar itu, musiknya nyaris diam. Dalam cerita, momen yang seharusnya menggetarkan hanya diiringi komposisi yang pelan dan mudah terlupa. Sulit menemukan satu musik yang menempel di kepala.

Ironi terbesarnya ada di Maplehill. Desa ini dibangun dari identitas musik, lengkap dengan perdebatan tradisi dan gaya baru. Namun, lagu yang mengiringinya hanya jadi suasana pasif. Peluang membuat desa itu bersinar lewat telinga pun lewat begitu saja.

5. Ambisinya terasa besar, eksekusinya tersendat di sana-sini

cuplikan Harvest Moon: Echoes of Teradea (dok. Natsume/Harvest Moon: Echoes of Teradea)

Kalau dilihat sebagai satu paket, arahnya sebenarnya punya visi. Empat wilayah dibuka lebar, rutinitas harian dihubungkan kepada pemulihan lewat Happilia, dan ada alasan untuk menengok sudut peta yang jauh. Tujuannya jelas: game santai yang membuatmu betah berlama-lama memainkannya lewat farming simulation dan exploration.

Sayangnya, pengarahnya tampak kurang percaya kepada napas yang pelan. Bab pertama menuntun pemain terlalu ketat, sehingga cerita tidak sempat bernapas. Warga juga tetap terkurung di sudut peta masing-masing meski kabut sudah dibuka, sehingga dunia terasa terputus sampai di situ. Ada jarak antara apa yang diceritakan dan apa yang dirasakan.

Harganya menambah beban. Cerita utamanya bisa selesai dalam kisaran 30 jam. Membikin uang hampir 400 ribu rupiah itu terasa mahal. Banyak game bertani lain lebih matang di harga yang jauh lebih murah dari itu.

Bayangkan lagi jika kamu memainkannya di platform selain Steam. Harganya bisa dua kali lipat. Berkisar 600–800 ribu rupiah.

Game santai seharusnya terasa seperti ruangan hangat setelah hari yang panjang. Di Teradea, kita malah sering sibuk melawan gamenya sendiri. Padahal, bahan dasarnya bagus.

Jadi, layakkah Harvest Moon: Echoes of Teradea dibeli? Belum, kalau harus bayar penuh. Hewan-hewan lucu dan eksplorasinya punya daya tarik, dan penggemar setia genre ini mungkin masih menemukan ritme yang mereka suka. Namun, untuk kebanyakan pemain, desa yang biasa, penjelajahan yang kaku, dan masalah teknis membuat menunggu diskon jauh lebih masuk akal. Ada rumah yang bisa dibangun di Teradea. Hanya saja, belum sekarang. Nilainya dengan mempertimbangkan cerita, grafis, gameplay, musik, dan penyutradaraan hanya layak di angka 3/5.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article