Apa Itu LIMS? Teknologi Penyadapan yang Bisa Memantau Komunikasi

LIMS mengelola intersepsi komunikasi melalui infrastruktur telekomunikasi dan pada dasarnya dikembangkan untuk penyadapan yang memiliki dasar hukum.
Sistem ini dapat mengakses informasi seperti nomor telepon, waktu, durasi, serta data layanan dan lokasi yang tersedia pada jaringan operator.
Berbeda dari Pegasus, LIMS tidak perlu menginfeksi smartphone, tetapi pengguna umumnya tidak memiliki cara sederhana untuk mengetahui target intersepsi.
Kasus dugaan penyadapan ilegal yang diungkap Bareskrim Polri pada Selasa (3/11/2026) turut menyoroti teknologi bernama Lawful Interception Management System (LIMS). Sistem ini disebut disalahgunakan untuk menyadap sejumlah nomor telepon tanpa melalui prosedur hukum yang berlaku, termasuk nomor milik Presiden RI, pejabat negara, tokoh politik, hingga kalangan media dan pengusaha.
Berbeda dengan spyware seperti Pegasus yang bekerja dengan menyusup ke perangkat korban, LIMS merupakan sistem yang digunakan untuk mengelola penyadapan melalui infrastruktur telekomunikasi. Teknologi ini pada dasarnya dikembangkan untuk mendukung kegiatan intersepsi komunikasi yang memiliki dasar hukum, terutama dalam proses penegakan hukum oleh lembaga yang berwenang.
Keberadaan LIMS juga memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana teknologi tersebut mampu mengakses komunikasi seseorang. Apalagi, proses penyadapan melalui jaringan telekomunikasi tidak selalu membutuhkan pemasangan aplikasi berbahaya pada smartphone milik target. Lantas, bagaimana cara kerja LIMS, informasi apa saja yang dapat diakses, dan apakah pengguna bisa mengetahui ketika komunikasinya disadap? Berikut penjelasannya.
1. Apa itu LIMS dan bagaimana teknologi ini bekerja?

ilustrasi hacker (pexels.com/Mikhail Nilov) Menurut penjelasan European Telecommunications Standards Institute (ETSI), LIMS merupakan singkatan dari Lawful Interception Management System, yakni sistem yang digunakan untuk mengelola proses intersepsi atau penyadapan komunikasi secara resmi. Dalam ekosistem telekomunikasi, penyadapan yang sah dikenal dengan istilah lawful interception, yaitu mekanisme yang memungkinkan aparat berwenang memperoleh informasi komunikasi melalui penyedia layanan sesuai ketentuan hukum.
Secara teknis, sistem penyadapan semacam ini melibatkan beberapa komponen yang saling terhubung, mulai dari pengelolaan otorisasi, infrastruktur operator, hingga fasilitas pemantauan milik lembaga penegak hukum. Standar yang dikembangkan ETSI juga menjelaskan adanya mekanisme untuk memisahkan informasi yang berkaitan dengan komunikasi dan isi komunikasi sebelum data tersebut diteruskan kepada pihak berwenang.
Dalam penerapannya, LIMS dapat berperan sebagai sistem pengelolaan target, permintaan penyadapan, serta hasil intersepsi yang diperoleh melalui infrastruktur terkait. Namun, kemampuan setiap implementasi LIMS bisa berbeda, bergantung pada teknologi jaringan, integrasi dengan operator, dan konfigurasi sistem yang digunakan. Karena itu, LIMS tidak bisa dianggap sebagai satu aplikasi universal yang memiliki kemampuan identik di seluruh negara.
2. LIMS dapat mengakses informasi komunikasi melalui jaringan telekomunikasi
Salah satu kemampuan penting dalam sistem lawful interception adalah memperoleh informasi yang berkaitan dengan aktivitas komunikasi pengguna. Informasi tersebut dapat mencakup nomor telepon yang terlibat dalam panggilan, waktu komunikasi berlangsung, durasi percakapan, hingga data layanan dan lokasi yang tersedia pada jaringan operator.
Informasi semacam ini dikenal sebagai Intercept Related Information (IRI), yang memiliki fungsi berbeda dari isi komunikasi atau Content of Communication (CC). Dalam standar ETSI, kedua jenis informasi tersebut diperlakukan secara terpisah karena memiliki karakteristik dan kebutuhan penanganan yang berbeda. Sistem intersepsi yang mendukung pengambilan isi komunikasi juga dapat menyalurkan konten yang secara teknis tersedia untuk diakses dari jaringan.
Namun, bukan berarti LIMS otomatis dapat membaca seluruh percakapan digital seseorang. Pesan WhatsApp dan Signal, misalnya, menggunakan enkripsi end-to-end yang membuat isi komunikasi tidak tersedia dalam bentuk terbuka saat melewati jaringan operator. Karena itu, penyadapan pada tingkat jaringan tidak serta-merta memungkinkan pihak yang melakukan intersepsi membaca isi pesan terenkripsi tersebut.
3. Berbeda dengan Pegasus, LIMS tidak perlu menginfeksi smartphone

Ilustrasi Hp sedang disadap oleh hacker (freepik.com/freepik) Perbedaan utama LIMS dengan Pegasus terletak pada cara kedua teknologi tersebut memperoleh informasi. Pegasus merupakan spyware yang dikembangkan NSO Group asal Israel dan dirancang untuk mengeksploitasi celah keamanan perangkat. Setelah berhasil menginfeksi smartphone, Pegasus dapat memperoleh akses terhadap sejumlah data dan fungsi perangkat sesuai kemampuan eksploitasi yang digunakan.
Sebaliknya, LIMS bekerja dalam ekosistem penyadapan jaringan telekomunikasi dan tidak harus memasang perangkat lunak berbahaya pada HP target. Sistem ini memanfaatkan kemampuan intersepsi yang tersedia pada infrastruktur terkait untuk memperoleh informasi komunikasi. Dengan demikian, perangkat pengguna tidak perlu mengalami perubahan atau infeksi malware agar komunikasi tertentu dapat diintersepsi melalui jaringan.
Perbedaan tersebut juga memengaruhi jenis informasi yang bisa diperoleh. Pegasus berpotensi mengakses pesan yang tersimpan pada perangkat, termasuk informasi dari aplikasi komunikasi terenkripsi, karena serangannya berlangsung di sisi perangkat. Sementara itu, LIMS memiliki keterbatasan sesuai informasi yang tersedia melalui jaringan dan layanan yang diintersepsi, sehingga tidak otomatis mempunyai kemampuan mengaktifkan kamera, membaca seluruh file pribadi, atau mengendalikan smartphone seperti spyware.






















