Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Teknologi Bisa Memprediksi Bencana Alam?
ilustrasi AI (unsplash.com/@omilaev)
  • Teknologi lebih mampu memprakirakan cuaca ekstrem daripada gempa bumi.

  • AI membantu menganalisis data dan mengenali pola ancaman bencana.

  • Sistem peringatan dini dapat memberi waktu untuk evakuasi sebelum bencana berdampak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Akhir-akhir ini, berita fenomena alam seperti erupsi Gunung Anak Krakatau tengah menjadi topik hangat di media sosial. Hal ini terjadi karena kekhawatiran masyarakat terhadap bencana yang melanda. Bencana alam sendiri dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, sampai badai dan cuaca ekstrem.

Perkembangan teknologi membuat manusia mampu mengamati kondisi bumi secara lebih cepat melalui sensor, satelit, radar, komputer, dan akal imitasi (AI). Kemampuan ini kemudian dimanfaatkan untuk memperkirakan ancaman dan memberikan peringatan kepada masyarakat. Namun, kemampuan teknologi berbeda untuk setiap jenis bencana. Cuaca ekstrem dapat diprakirakan berdasarkan perubahan atmosfer, sedangkan gempa bumi belum bisa diketahui secara tepat kapan dan di mana akan terjadi. BMKG menjelaskan bahwa teknologi saat ini belum mampu menentukan waktu, lokasi, dan kekuatan gempa secara akurat sebelum kejadian. Lalu, bencana apa saja yang bisa diprakirakan oleh teknologi dan sejauh mana tingkat akurasinya? Berikut penjelasannya!

1. Cuaca ekstrem lebih mudah diprakirakan

ilustrasi cuaca (pexels.com/@laser-cheung)

Bencana yang berkaitan dengan cuaca, termasuk ancaman, relatif lebih mudah diprakirakan. Meteorolog dapat memanfaatkan data satelit, radar cuaca, stasiun pengamatan, dan model komputer untuk memantau perkembangan awan, hujan lebat, angin kencang, serta badai. AI ikut membantu proses analisis tersebut melalui kemampuan mengolah data dalam jumlah besar dan mengenali pola cuaca. World Meteorological Organization menyebut AI berpotensi meningkatkan nowcasting, prakiraan kondisi cuaca untuk beberapa menit sampai beberapa jam ke depan.

2. Gempa bumi belum bisa diprediksi secara tepat

ilustrasi gempa bumi (pexels.com/@doruk-aksel-anil)

Gempa bumi menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai keterbatasan teknologi. Sensor seismik dapat mendeteksi gempa yang sudah terjadi dan menghitung berbagai parameternya, tetapi belum ada teknologi yang mampu menentukan secara akurat kapan, di mana, dan seberapa kuat gempa berikutnya akan terjadi. Teknologi peringatan dini memiliki fungsi berbeda. Sistem seperti InaTEWS mendeteksi gempa yang sudah terjadi, kemudian menganalisis kemungkinan tsunami dan menyebarkan informasi peringatan secepat mungkin. Peringatan dini bencana biasanya disebarluaskan oleh BMKG melalui media sosial maupun via early warning system (EWS) yang ada pada televisi digital.

3. AI membantu mencari pola ancaman

ilustrasi seseorang memegang kertas bertuliskan AI (unsplash.com/@hiteshchoudhary)

AI menawarkan kemampuan baru dalam menganalisis data yang berkaitan dengan bencana. Sistem AI biasanya mempelajari data historis dan menggabungkannya dengan informasi dari satelit, sensor permukaan, sungai, dan model prakiraan. Teknologi ini terus dikembangkan agar dapat membantu prakiraan cuaca, banjir, siklon tropis, dan berbagai ancaman lingkungan. Namun, WMO menekankan bahwa AI tetap membutuhkan data pengamatan, ilmu fisika, sistem prakiraan konvensional, dan sentuhan tangan manusia.

4. Peringatan dini lebih realistis daripada prediksi

ilustrasi pengeras suara darurat (pexels.com/@hakan-kayahan)

Ketika prediksi jangka panjang belum memungkinkan, teknologi sebenarnya masih dapat memberikan waktu berharga melalui sistem peringatan dini. Sensor memantau perubahan yang terjadi, komputer menganalisis data, lalu sistem mengirimkan informasi ketika ancaman sudah teridentifikasi. Tambahan waktu beberapa menit atau jam dapat memberi kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi dan mengamankan fasilitas penting. Sistem peringatan dini juga dapat mendorong pemerintah untuk mengambil keputusan lebih cepat sebelum ancaman mencapai wilayah terdampak. Dalam hal ini, BMKG terus mengupayakan sistem peringatan dini agar semakin akurat dan cepat.

5. Teknologi prediksi bencana terus berkembang

ilustrasi pembuatan perangkat keras teknologi (pexels.com/@tima-miroshnichenko)

Kemampuan teknologi dalam memprakirakan bencana masih terus berkembang seiring peningkatan kualitas data dan kemampuan komputasi. Perlu diketahui, AI bukanlah satu-satunya teknologi yang dapat membantu penanganan bencana pada masa mendatang. Masyarakat juga perlu memahami perbedaan antara prediksi, prakiraan, dan peringatan dini. Teknologi mampu membantu manusia mengenali risiko lebih awal meski belum semua bencana bisa diketahui jauh sebelum terjadi.

Teknologi memang sudah mampu memprakirakan sejumlah fenomena alam dan memberikan peringatan sebelum dampak terburuk tiba seperti cuaca ekstrem. Akan tetapi, untuk gempa bumi, manusia masih mengandalkan kemampuan mendeteksi kejadian secara cepat daripada memprediksi waktunya secara pasti.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorYudha ‎

Related Article