“Human and Environmental Impact of Volcanic Ash.” National Geographic Society. Diakses September 2026.
“Volcanoes: Risk Factors.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.
“Questions About Volcanic Ash and Other Tephra from Kīlauea.” U.S. Geological Survey (USGS). Diakses September 2026.
“Protecting Yourself During a Volcanic Eruption.” Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses September 2026.
“Health Impacts of Volcanic Ash.” International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN). Diakses September 2026.
“Volcanic Ash.” American Lung Association. Diakses September 2026.
Kalau Gak Sengaja Mengirup Abu Vulkanik, Apa yang Harus Dilakukan?

- Erupsi Anak Krakatau memicu hujan abu di sejumlah kota Jawa Barat; partikel batuan, mineral, dan kaca berukuran kecil ini mudah terhirup serta bersifat abrasif.
- Saat hujan abu, segera masuk ruangan, tutup akses udara luar, dan batasi aktivitas di luar. Jika harus keluar, gunakan masker N95 atau medis, pelindung tubuh, lalu mandi.
- Paparan dapat memicu iritasi pernapasan, mata, dan kulit. Kelompok rentan perlu waspada; segera cari bantuan medis bila mengalami mengi, sesak, dada berat, atau pusing berkepanjangan.
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi beberapa hari lalu membuat sebagian besar kota di Jawa Barat mengalami hujan abu. Lapisan abu ini menempel di permukaan lantai dan barang-barang lainnya. Sekilas meski terlihat sama seperti abu pada umumnya, abu vulkanik dari erupsi gunung berapi sebenarnya jauh lebih berbahaya.
Dilansir National Geographic, berbeda dengan abu hasil pembakaran kayu, abu vulkanik terdiri dari pecahan kecil batuan bergerigi, mineral, bahkan kaca. Selain itu, abu vulkanik juga keras, abrasif, dan gak bisa larut dengan air. Namun bukan itu yang membuat abu vulkanik jadi lebih berbahaya, melainkan karena ukurannya yang sangat kecil. Umumnya, partikel abu vulkanik memiliki ukuran kurang dari dua milimeter. Ukurannya yang super kecil membuat abu bisa dengan mudah terhirup manusia. Lantas apa yang harus dilakukan jika ini terjadi? Berikut jawabannya!
1. Segera menjauh dari paparan abu vulkanik

gambar sseorang pria memakai masker untuk menghindari paparan abu vulkanik (unsplash.com/Gayatri Malhotra) Saat hujan abu terjadi, berada di luar ruangan adalah ide yang buruk. Di luar ruangan, hampir mustahil untuk menghindari paparan abu vulkanik. Dilansir CDC, jika kamu sedang berada di luar saat hujan abu terjadi, segera lah masuk ke dalam rumah dan jangan keluar sampai hujan abunya reda. Tutup juga pintu dan jendela, serta lubang ventilasi yang memungkinan udara di luar masuk ke dalam. Jika pun kamu harus keluar, pastikan kamu gak menghabiskan waktu terlalu lama di luar ruangan.
Gunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang, kacamata, topi, serta gunakan masker N95 atau masker medis untuk memastikan gak ada partikel abu yang terhirup dan masuk ke dalam saluran pernapasan. Terakhir, jangan lupa mandi dan keramas setelah aktivitas di luar ruangan. Basahi tubuh dengan air mengalir untuk membasuh debu yang menempel, serta hindari menggosok kulit dengan keras. Ingat, abu vulkanik mengandung pecahan silika atau kaca yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit.
2. Perhatikan gejala yang mungkin muncul

gambar seorang perempuan yang mengalami batuk kering (magnific.com/benzoix) Mengingat ukurannya yang kecil, agak mustahil rasanya untuk menghindari paparan abu vulkanik. Bahkan meski kamu menghabiskan sebagian besar waktu di dalam ruangan, abu bisa saja masuk melalui ventilasi yang terbuka dan akhirnya terhirup. Dalam banyak kasus, abu vulkanik yang berukuran sangat kecil bahkan bisa masuk ke dalam paru-paru. Dilansir IVHHN, dampak abu vulkanik sendiri cukup beragam, tergantung bagian tubuh mana yang terkena paparan.
Pada pernapasan, abu vulkanik bisa menyebabkan hidung berair, iritasi tenggorokan yang disertai dengan batuk kering, dan pernapasan terasa gak nyaman. Selain itu, abu vulkanik juga bisa menyebabkan mata iritasi, merah, terasa gatal, bahkan goresan pada kornea atau yang dikenal dengan istilah abrasi. Terakhir, abu vulkanik juga bisa memicu terjadinya iritasi, kemerahan, dan gatal pada kulit.
3. Kapan harus mendapatkan pertolongan medis?

gambar seorang perempuan sedang berkonsultasi dengan dokter (unsplash.com/Vitaly Gariev) Umumnya, paparan ringan abu vulkanik gak akan menyebabkan dampak kesehatan yang serius dan sembuh dengan sendirinya. Namun pada orang-orang dari kelompok tertentu seperti bayi dan anak-anak, ibu hamil, lansia, penderita penyakit paru kronis, asma, kardiovaskular, dan diabetes risiko yang ditimbulkan biasanya lebih serius.
Dilansir American Lung Association, paparan abu vulkanik dapat memicu gejala asma secara tiba-tiba dan memperburuk gejala pada penyakit lainnya. Jika setelah terpapar abu vulkanik kamu mengalami mengi, sesak napas, kesulitan bernapas, dada terasa berat, pusing yang gak kunjung membaik, segera kunjungi klinik atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pengobatan. Sebisa mungkin hindari beraktivitas di luar ruangan setelahnya hingga hujan abu berhenti dan situasi kondusif.
Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, menghindari paparan abu vulkanik memang sulit. Bahkan setelah menggunakan masker dan perlengkapan lain, risiko menghirup abu vulkanik akan tetap ada. Meski begitu dampak abu vulkanik pada setiap orang bisa jadi berbeda. Semua tergantung pada kondisi kesehatan masing-masing. Namun hanya karena kamu merasa sehat, bukan berarti kamu boleh menyepelekan dampak dari abu vulkanik. Tetap jaga diri dan jangan lepaskan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
Referensi




















