Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bagaimana Google Maps Mengetahui Kondisi Macet di Jalan?

Bagaimana Google Maps Mengetahui Kondisi Macet di Jalan?
ilustrasi kemacetan (pexels.com/Mikechie Esparagoza)
Intinya Sih
  • Google Maps mengumpulkan data lokasi dan kecepatan dari jutaan pengguna untuk mendeteksi kondisi lalu lintas.

  • Sistem membandingkan data saat ini dengan pola lalu lintas sebelumnya dan memprediksi kemacetan menggunakan akal imitasi (AI).

  • Hasil analisis digunakan untuk memperbarui kondisi jalan hampir real time dan menyarankan rute tercepat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah kamu memperhatikan bagaimana Google Maps bisa mengetahui sebuah jalan sedang macet, bahkan sebelum kamu sampai di lokasi tersebut? Aplikasi ini tidak hanya menampilkan kondisi lalu lintas dengan warna merah, oranye, atau hijau, tetapi juga mampu memperkirakan waktu perjalanan dengan cukup akurat. Bahkan, tidak jarang Google Maps menyarankan rute alternatif untuk menghindari kemacetan yang mungkin belum terlihat oleh pengemudi. Kemampuan ini membuat banyak orang mengandalkan Google Maps saat bepergian sehari-hari.

Di balik kecanggihannya, Google Maps sebenarnya memanfaatkan kombinasi berbagai sumber data dan teknologi modern. Informasi dari jutaan pengguna, pola lalu lintas pada hari-hari sebelumnya, hingga akal imitasi (AI) bekerja bersama untuk memantau kondisi jalan secara hampir real time. Berkat sistem tersebut, aplikasi dapat memprediksi perubahan arus kendaraan dan memberikan saran perjalanan yang lebih efisien. Lalu, bagaimana sebenarnya Google Maps mengetahui bahwa sebuah jalan sedang macet? Ini dia jawabannya!

1. Data berasal dari jutaan pengguna di jalan

ilustrasi Google Maps
ilustrasi Google Maps (pexels.com/AS Photography)

Sumber utama informasi lalu lintas Google Maps berasal dari data lokasi dan kecepatan pengguna yang menggunakan aplikasi tersebut di HP mereka. Ketika banyak perangkat bergerak di jalan yang sama, sistem dapat menghitung seberapa cepat kendaraan melaju di ruas jalan tersebut. Jika sebagian besar kendaraan bergerak lebih lambat dari biasanya atau bahkan berhenti, sistem akan mengidentifikasi adanya kepadatan lalu lintas atau kemacetan. Dengan kata lain, setiap HP yang menggunakan layanan lokasi dapat berfungsi seperti sensor bergerak yang membantu memantau kondisi jalan secara langsung.

2. Menggabungkan kondisi saat ini dengan data masa lalu

ilustrasi Google Maps
ilustrasi Google Maps (unsplash.com/CardMapr.nl)

Google Maps tidak hanya melihat apa yang sedang terjadi saat ini. Sistem juga mempelajari pola lalu lintas dari masa lalu. Sebagai gambaran, sebuah jalan mungkin biasanya ramai setiap hari kerja pada pukul 07.00 hingga 09.00 pagi karena banyak orang berangkat kerja atau sekolah. Sebaliknya, jalan tersebut bisa saja sangat lengang pada malam hari atau akhir pekan. Dengan mempelajari pola tersebut, Google Maps dapat memprediksi kemungkinan kemacetan, bahkan sebelum antrean kendaraan benar-benar terjadi.

3. AI membantu memprediksi kemacetan

ilustrasi Google Maps
ilustrasi Google Maps (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Setelah menggabungkan data lalu lintas saat ini dan pola historis, Google menggunakan teknologi machine learning atau pembelajaran mesin untuk membuat prediksi kondisi jalan dalam beberapa menit ke depan. Sebagai contoh, jika sebuah jalan mulai menunjukkan penurunan kecepatan kendaraan dan pada waktu yang sama biasanya memang terjadi kepadatan, sistem dapat memperkirakan bahwa kemacetan akan segera memburuk. Karena itulah, Google Maps kadang menyarankan rute alternatif sebelum kamu benar-benar terjebak macet.

4. Mengapa Google Maps sering mengubah rute perjalanan

ilustrasi kondisi jalanan
ilustrasi kondisi jalanan (unsplash.com/Abdul Ridwan)

Fitur lalu lintas tidak hanya digunakan untuk mewarnai jalan di peta. Informasi tersebut juga dipakai untuk menentukan jalur tercepat menuju tujuan. Jika sistem memperkirakan bahwa jalan di depan akan mengalami kemacetan, aplikasi dapat secara otomatis menawarkan rute baru yang lebih cepat. Selain kondisi lalu lintas, Google Maps juga mempertimbangkan:

  • ukuran dan kapasitas jalan,
  • batas kecepatan,
  • kualitas jalan,
  • jalan tol,
  • penutupan jalan,
  • kecelakaan lalu lintas,
  • laporan dari pengguna,
  • serta informasi dari pihak berwenang setempat.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membantu aplikasi memilih rute yang paling efisien.

5. Apa arti warna di Google Maps

ilustrasi Google Maps
ilustrasi Google Maps (pexels.com/Rahul Pandit)

Google Maps menggunakan warna tertentu untuk menunjukkan kondisi lalu lintas pada sebuah jalan.

  • Hijau menunjukkan lalu lintas lancar dan kendaraan bergerak dengan kecepatan normal.
  • Oranye menandakan arus lalu lintas mulai melambat.
  • Merah menunjukkan adanya kemacetan yang cukup padat.
  • Merah tua menandakan kemacetan berat atau kondisi kendaraan yang bergerak sangat pelan dan sering berhenti.

Dalam beberapa kasus, jalan yang ditutup juga dapat ditampilkan dengan tanda khusus yang menunjukkan adanya pembatasan akses atau penutupan sementara.

6. Mengapa informasi kemacetan bisa sangat akurat

ilustrasi kemacetan
ilustrasi kemacetan (pexels.com/Mikechie Esparagoza)

Salah satu alasan utama akurasi Google Maps ialah sistemnya terus menerima data baru setiap saat. Kondisi lalu lintas dapat berubah dengan sangat cepat. Jalan yang terlihat lancar sekarang bisa saja berubah menjadi macet dalam waktu 15–20 menit akibat kecelakaan, hujan deras, atau lonjakan kendaraan. Karena itulah, Google Maps selalu memperbarui informasi berdasarkan data terbaru agar prediksi yang diberikan tetap relevan.

Kesimpulannya, Google Maps mengetahui kondisi macet dengan menggabungkan data GPS dari jutaan pengguna, pola lalu lintas pada masa lalu, laporan kejadian di jalan, dan prediksi berbasis AI. Teknologi ini memungkinkan aplikasi memberikan informasi lalu lintas secara hampir real time, memperkirakan waktu tiba dengan lebih akurat, dan membantu pengguna menemukan rute tercepat menuju tujuan. Jadi, ketika Google Maps menyarankan kamu untuk berbelok ke jalan lain demi menghemat beberapa menit perjalanan, kemungkinan besar aplikasi tersebut sudah melihat kemacetan yang bahkan belum kamu temui di depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More