Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Berapa Biaya untuk Bikin Toko Online Sendiri Tanpa Marketplace?

Berapa Biaya untuk Bikin Toko Online Sendiri Tanpa Marketplace?
ilustrasi toko online (pexels.com/@n-voitkevich)
Intinya Sih
  • Membangun toko online sendiri lewat WordPress dan WooCommerce bisa dilakukan dengan biaya terjangkau, tergantung kebutuhan usaha, jumlah produk, serta strategi pemasaran yang dipilih.
  • Komponen utama biaya meliputi domain Rp180 ribu–Rp350 ribu per tahun, hosting Rp600 ribu–Rp2,5 juta per tahun, serta opsi tambahan seperti tema premium dan plugin berbayar.
  • Modal awal toko online sederhana berkisar Rp1 juta–Rp4 juta termasuk promosi digital, dengan fleksibilitas penuh atas data dan tampilan tanpa bergantung pada marketplace.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Membangun toko online sendiri menjadi alternatif di tengah biaya layanan marketplace yang naik. Membuat toko online sebenarnya tidak perlu biaya besar. Berkat WordPress dan WooCommerce, siapa saja dapat memiliki situs penjualan tanpa mengeluarkan biaya tinggi. Besarnya anggaran tergantung pada kebutuhan, mulai dari skala usaha, jumlah produk, hingga strategi pemasaran.

WooCommerce sendiri dapat digunakan secara gratis, tetapi ada beberapa komponen yang tetap harus dipersiapkan. Domain, hosting, promosi, serta layanan pendukung menjadi bagian dari biaya operasional sebuah toko online. Berikut estimasi biaya yang harus dikeluarkan jika ingin membuat toko online sendiri.

1. Domain dan hosting menjadi biaya utama

domain dot com
domain dot com (unsplash.com/@markusspiske)

Domain merupakan alamat situs, sedangkan hosting berfungsi sebagai tempat penyimpanan seluruh data toko online. Keduanya menjadi kebutuhan dasar sebelum WordPress dan WooCommerce dipasang. Untuk usaha kecil, domain umumnya berkisar Rp180 ribu hingga Rp350 ribu per tahun. Sementara itu, hosting WordPress yang mampu menjalankan WooCommerce dapat diperoleh mulai sekitar Rp600 ribu hingga Rp2,5 juta per tahun, bergantung pada kapasitas penyimpanan, performa server, serta jumlah pengunjung yang ditargetkan.

2. WordPress dan WooCommerce tidak dikenai biaya

logo Woocommerce
logo Woocommerce (unsplash.com/@rubaitulazad)

WordPress merupakan perangkat lunak sumber terbuka yang dapat digunakan tanpa biaya lisensi. Hal yang sama berlaku untuk WooCommerce sebagai plugin toko online sehingga kamu dapat langsung mengelola katalog produk, keranjang belanja, hingga halaman pembayaran. Meski begitu, sebagian pemilik usaha memilih membeli tema premium atau plugin tambahan agar fitur toko semakin lengkap. Tema premium umumnya berada pada kisaran Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta untuk sekali pembelian, sedangkan plugin berbayar memiliki harga yang bervariasi sesuai fungsinya.

3. Promosi menjadi anggaran yang perlu disiapkan

ilustrasi Google Ads
ilustrasi Google Ads (unsplash.com/@rubaitulazad)

Toko online baru biasanya belum langsung muncul pada halaman pertama mesin pencari. Oleh sebab itu, promosi melalui iklan digital menjadi salah satu cara untuk mendatangkan pengunjung dalam waktu relatif singkat. Besarnya biaya promosi dapat disesuaikan dengan kemampuan usaha. Beberapa pelaku UMKM memulai iklan Google Ads atau Meta Ads dari sekitar Rp30 ribu hingga Rp100 ribu per hari. Nilai tersebut dapat dinaikkan secara bertahap apabila penjualan mulai berkembang.

4. Siapkan biaya operasional tambahan

ilustrasi toko online
ilustrasi toko online (pexels.com/@cup-of-couple)

Selain domain dan hosting, ada beberapa pengeluaran lain yang perlu diperhitungkan. Misalnya, layanan email bisnis, pencadangan data, sertifikat keamanan tambahan apabila diperlukan, hingga biaya transaksi dari payment gateway. Sebagian layanan tersebut tersedia secara gratis, tetapi versi premium menawarkan fitur yang lebih lengkap. Kamu sebagai pemilik toko dapat memilih layanan sesuai kebutuhan agar pengeluaran tetap terkendali.

5. Estimasi modal membangun toko online

ilustrasi halaman toko online
ilustrasi halaman toko online (unsplash.com/@igormiske)

Apabila seluruh proses dikerjakan sendiri, modal awal untuk membangun toko online sederhana umumnya berada pada kisaran Rp1 juta hingga Rp4 juta. Anggaran tersebut sudah mencakup domain, hosting, serta beberapa kebutuhan dasar untuk menjalankan toko daring. Biaya dapat meningkat jika menggunakan tema premium, plugin berbayar, jasa pembuatan website, atau anggaran promosi yang lebih besar. Sebaliknya, pelaku usaha yang memanfaatkan fitur gratis dapat memulai bisnis online dengan modal yang jauh lebih hemat.

Membangun toko online memakai WordPress dan WooCommerce menawarkan fleksibilitas karena seluruh data, produk, serta tampilan toko berada di bawah kendali pemilik usaha. Pada beberapa kasus, biaya tahunan menjalankan toko online sendiri masih lebih rendah dibandingkan komisi yang harus dibayarkan apabila seluruh penjualan bergantung pada platform pihak ketiga, terutama ketika volume transaksi mulai meningkat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika

Related Articles

See More