Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bos Meta Mark Zuckerberg Tolak Usulan Perlambatan AI
Mark Zuckerberg (JD Lasica, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Jakarta, IDN Times - Chief Executive Officer Meta, Mark Zuckerberg, menolak seruan untuk menghentikan sementara atau memperlambat pengembangan kecerdasan buatan (AI) pada Selasa (15/9/2026). Munculnya pernyataan bos Meta Mark Zuckerberg tolak usulan perlambatan AI menjadi sorotan dunia. Hal ini dikarenakan keterangan tersebut hadir di tengah peringatan sejumlah peneliti bahwa kemajuan teknologi AI berpotensi menghadirkan ancaman eksistensial bagi manusia.

Dia berpendapat bahwa insentif pasar dan pertanggungjawaban hukum menjadi perlindungan terbaik untuk menangkal berbagai risiko teknologi tersebut. Menurutnya, setiap laboratorium riset memiliki kemampuan serta tanggung jawab mandiri untuk bergerak pada kecepatan yang aman dalam melatih model mereka. Simak informasi lengkapnya di bawah ini.

1. Insentif pasar dan tanggung jawab hukum bagi pengembang

ilustrasi aplikasi AI (pexels.com/Aerps.com)

Zuckerberg menilai masyarakat tidak akan mau menggunakan agen cerdas yang tidak selaras dengan keinginan mereka dan gagal menjalankan perintah yang diminta. Situasi itu membuat para pengembang memiliki dorongan alami yang kuat untuk menciptakan model yang lebih selaras dengan kehendak manusia. Konsep keselarasan atau alignment merujuk pada upaya mencocokkan tujuan dan perilaku sistem AI dengan kebutuhan manusia yang sebenarnya.

Selain faktor pasar, para pengembang AI dinilai memiliki dorongan kuat untuk mencegah kerugian karena ancaman pertanggungjawaban hukum yang berat. Meta membuktikannya dengan menunda peluncuran agen AI Muse selama beberapa bulan pada awal tahun ini guna memperkuat sistem keamanannya. Langkah penundaan tersebut diambil secara internal tanpa menuntut pelaku industri lain untuk melakukan hal yang sama.

“Setiap laboratorium memiliki tanggung jawab dan insentif untuk bergerak pada kecepatan yang dibutuhkan demi melatih modelnya secara aman, serta kemampuan mengambil tindakannya sendiri untuk memastikan hal itu terjadi,” tulis Zuckerberg melalui unggahan di media sosial X sebagaimana dikutip Channel News Asia. Dia juga menegaskan perusahaannya bertindak mandiri atas pertimbangan keselamatan internal. “Kami tidak menyerukan semua orang lain untuk melakukan ini sebelum kami melakukannya," ujarnya. "Kami hanya melakukannya sebagai bagian dari pekerjaan sehari-hari karena itu jelas hal yang tepat bagi masyarakat dan kami,” lanjut dia.

2. Perbedaan sikap para petinggi industri dan pemerintah AS

tampilan situs AI Claude Anthropic (unsplash.com/Planet Volumes)

Pernyataan Zuckerberg ini menanggapi usulan Chief Executive Officer Anthropic, Dario Amodei, yang mendesak pelaku industri untuk memperlambat laju peningkatan kemampuan AI setelah adanya peringatan risiko eksistensial. Usulan Amodei yang mencakup rencana tiga langkah keselamatan itu langsung didukung secara terbuka oleh pimpinan OpenAI, Sam Altman, dan bos xAI, Elon Musk, dalam hitungan jam. Sikap berbeda dari Zuckerberg mempertegas keterbelahan pandangan di antara para eksekutif teknologi di Amerika Serikat.

Di tingkat pemerintahan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin (14/9/2026) mengecilkan kekhawatiran terkait potensi bahaya teknologi kecerdasan buatan. Trump menyatakan negaranya telah memiliki pedoman perlindungan serta menilai keraguan terhadap kemajuan AI hanya akan memberi keuntungan bagi China. Pandangan bahwa regulasi ketat dapat merugikan daya saing korporasi Amerika Serikat terhadap kompetitor asal China turut didukung oleh Chief Executive Officer NVIDIA, Jensen Huang.

Isu perlambatan yang terkoordinasi ini juga memancing kecurigaan dari pihak regulator pengawas persaingan usaha di Amerika Serikat. Dilansir dari Channel News Asia, Ketua Federal Trade Commission Andrew Ferguson menyatakan setiap orang harus sangat curiga terhadap perusahaan AI yang meminta pengecualian antimonopoli (antitrust) sembari melobi regulasi baru. Pekan sebelumnya, Amodei memang mengajukan izin antimonopoli agar para pesaing di industri dapat bersama-sama mengoordinasikan perlambatan laju pengembangan kecerdasan buatan demi keselamatan.

3. Fokus komputasi produk dan penyelesaian gugatan hukum Meta

ilustrasi logo Meta (unsplash.com/Mariia Berezovsky)

Selain bos Meta Mark Zuckerberg tolak usulan perlambatan AI, ia juga menerangkan mengenai arah pengembangan teknologi. Zuckerberg menjelaskan bahwa Meta telah mengalokasikan sebagian besar sumber daya komputasinya untuk menciptakan produk yang langsung melayani kebutuhan pengguna. Kebijakan ini dipilih alih-alih berlomba mengejar kemampuan sistem yang dapat meningkatkan dirinya sendiri secara otomatis atau recursive self-improvement. Divisi Meta Superintelligence Labs juga telah melibatkan pihak penilai independen di beberapa bidang teknis yang dinilainya sebagai praktik terbaik industri.

“Mendedikasikan mayoritas signifikan komputasi untuk melayani masyarakat daripada berlomba menuju recursive self-improvement adalah salah satu cara terbaik untuk memastikan kita mengembangkan teknologi ini dengan aman,” tulis Zuckerberg. Dia menambahkan bahwa langkah evaluasi mandiri tersebut dapat langsung diterapkan oleh laboratorium teknologi lainnya tanpa harus saling menunggu.

Upaya memosisikan Meta sebagai entitas yang bertanggung jawab ini berlangsung beberapa pekan usai perusahaan menyelesaikan persoalan hukum besar. Meta setuju membayar hingga 18 miliar dolar AS atau setara Rp318,55 triliun untuk menyelesaikan gugatan negara bagian di Amerika Serikat terkait tuduhan merancang Facebook dan Instagram agar anak-anak kecanduan. Kesepakatan bernilai ratusan triliun rupiah tersebut disetujui tanpa adanya pengakuan bersalah dari pihak Meta.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article