Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Cara Militer Dunia Pakai AI untuk Memenangkan Perang
monitor pemantau rekaman drone oleh militer AS (U.S. Air Force photo by Staff Sgt. Karla Parra, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • AI kini jadi tulang punggung operasi militer global, mulai dari analisis intelijen, penargetan otomatis, hingga pengendalian drone dan kendaraan nirawak untuk meningkatkan efisiensi serta kecepatan pertempuran.
  • Negara besar seperti AS, Rusia, Israel, dan Ukraina berlomba mengembangkan sistem AI militer bernilai triliunan rupiah guna memperkuat pertahanan dan kemampuan serangan presisi tinggi di berbagai medan konflik.
  • Meskipun menjanjikan efektivitas luar biasa, penggunaan AI dalam perang memicu kontroversi etika dan desakan regulasi ketat karena risiko kesalahan fatal serta potensi dehumanisasi dalam pengambilan keputusan tempur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kecerdasan buatan (AI) kini mulai diterapkan dalam berbagai operasi militer di seluruh dunia. Integrasi teknologi ini mempercepat laju pertempuran dan menciptakan efisiensi baru bagi barisan angkatan bersenjata. Pemanfaatan algoritma canggih tersebut mencakup berbagai aspek mulai dari analisis intelijen dasar hingga persenjataan otonom di medan tempur.

Negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS), Rusia, hingga Israel terus berlomba untuk mengadopsi AI ke dalam sistem pertahanan mereka. Besarnya dorongan inovasi di sektor ini terlihat dari kucuran anggaran triliunan rupiah yang dialokasikan aktor negara dan perusahaan. Berikut lima pemanfaatan AI dalam ranah militer, konflik dan pertahanan modern.

1. Analisis data intelijen untuk mendukung operasi militer

ilustrasi kecerdasan buatan (unsplash.com/Steve Johnson)

Militer mulai menggunakan model bahasa besar (LLM) untuk mempercepat proses pengumpulan dan analisis data intelijen sumber terbuka atau OSINT. Teknologi mutakhir ini dapat memproses ribuan dokumen, citra satelit, dan riwayat aktivitas media sosial secara instan. Hasil analisis tersebut kemudian dimanfaatkan oleh para perwira intelijen untuk memetakan situasi lapangan.

Penerapan teknologi analitik ini terlihat pada operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari 2026 silam. Melansir The Jerusalem Post, militer AS disebut menggunakan Claude dari Anthropic untuk memeriksa peta geografi dan memantau siaran media lokal. Model AI ini aktif menyaring informasi paling relevan demi mendukung keselamatan regu pasukan khusus selama operasi berisiko tinggi tersebut berlangsung.

Selain itu, LLM juga dipakai untuk merangkum komunikasi digital musuh yang berhasil disadap di wilayah konflik. Mengutip laporan Axios, Claude turut digunakan dalam operasi serangan gabungan AS-Israel bernama Epic Fury yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

2. Membantu pengambilan keputusan dan penargetan

ilustrasi kecerdasan buatan (unsplash.com/Growtika)

AI juga dapat dimanfaatkan dalam proses pengambilan keputusan untuk mengidentifikasi ancaman individu spesifik di medan peperangan. Algoritma militer menggabungkan data geolokasi, rekaman kamera drone, sinyal intelijen, serta jejak obrolan pesan guna membangun daftar eksekusi target. Sistem ini sanggup menganalisis data dalam jumlah besar yang tentu melampaui kapasitas manual manusia.

Penerapan teknologi penargetan otomatis tersebut telah digunakan dalam berbagai serangan mematikan di wilayah Jalur Gaza. Berdasarkan temuan Georgetown Security Studies Review, sebuah program komputasi bernama Lavender pernah memproduksi daftar target pembunuhan hingga mencapai 37 ribu orang. Namun, mesin pengambil keputusan ini menyimpan margin kesalahan hingga sepuluh persen dalam mengklasifikasikan warga sipil berbekal kemiripan pola komunikasi grup pesan instan.

Selain Lavender, Israel juga memiliki algoritma bernama "Where's Daddy" dirancang untuk memantau pergerakan target sasaran hingga mereka memasuki kediaman pribadi. Begitu target terdeteksi masuk ke dalam rumah, sistem mengirimkan sinyal perintah kepada unit drone udara untuk meluncurkan misil. Menurut laporan, keputusan semacam ini kerap kali hanya disetujui oleh para komandan lapangan dalam waktu sekitar dua puluh detik.

3. AI digunakan untuk mengidentifikasi fasilitas militer musuh

pengeboman Kota Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Selain menargetkan entitas manusia, kecerdasan buatan juga diimplementasikan untuk melacak keberadaan infrastruktur penting serta bangunan persenjataan milik lawan. Dilansir Al Jazeera, Kementerian Pertahanan AS memberikan kontrak ratusan juta dolar kepada raksasa AI guna mengembangkan berbagai alat analitik militer. Kemampuan AI dalam memindai bentang alam dan sebaran citra satelit sangat memudahkan armada udara dalam menyusun koordinat pengeboman.

Sebuah program pelacakan militer bernama Gospel menjadi salah satu contohnya. Sistem ini piawai mengendus keberadaan peluncur roket tersembunyi, pintu masuk terowongan bawah tanah rahasia, serta lokasi tempat persembunyian militan. Gospel mampu melipatgandakan jumlah aset bangunan militer lawan yang dapat ditarget dalam satu operasi.

Pemanfaatan serupa turut terdeteksi di sepanjang front Eropa Timur saat pasukan militer Ukraina menjalankan misi infiltrasi kilang minyak. Menurut jurnal internasional GJIA, militer Ukraina berhasil membekali armada drone mereka dengan sistem navigasi AI agar mengenali wujud topografi daratan secara mandiri, bahkan di tengah gangguan frekuensi pemblokir GPS.

4. Peningkatan akurasi drone dan kendaraan darat nirawak

drone MQ-9 Reaper milik AS (U.S. Air Force Photo / Lt. Col. Leslie Pratt, Public domain, via Wikimedia Commons)

Mesin peperangan seperti drone dan kendaraan darat tak berawak (UGV) mengalami lonjakan performa berkat penyematan modul cip AI. Dalam kasus ini, AI digunakan untuk mengunci pergerakan target tanpa memerlukan banyak intervensi dari operator manusia.

Berdasarkan ulasan lembaga U.S. Army War College, integrasi cip sensor cerdas sukses mendongkrak tingkat presisi serangan drone pembunuh dari 30 persen menembus angka 80 persen. Berbagai kelompok relawan perakit teknologi lokal di Ukraina bahkan sanggup memproduksi modul penargetan digital ini dengan ongkos material sekitar Rp400 ribuan saja.

Murahnya perakitan komponen pada akhirnya menyulut perluasan perlombaan senjata otomatis berskala besar di antara negara-negara yang tengah berseteru. Selain mengudara bebas di angkasa, cip pemrosesan data juga ditanamkan merata pada puluhan varian kendaraan darat baja tak berawak untuk melewati medan pengujian ekstrem.

5. Sistem pertahanan otomatis dan kawanan robot cerdas

Iron Dome milik Israel (commons.wikimedia.org/IDF)

Kategori yang terakhir berfokus pada implementasi AI dalam sistem pertahanan serta kawanan robot. Dalam sistem pertahanan, AI digunakan untuk merekam jalur proyektil udara dan mengalkulasi koordinat tembakan balasan. Otomasi AI dapat membantu menekan persentase angka kematian penduduk akibat masalah kelambanan respons komando. Contoh populer dalam kategori ini adalah sistem anti-rudal Iron Dome milik Israel dan meriam pemantau Super aEgis II dari Korea Selatan.

Menurut prediksi lembaga riset RAND Corporation, arsitektur persenjataan dekade berikutnya akan bergeser mengandalkan formasi kawanan robot tempur berbiaya rendah. Kombinasi kuantitas dan tingkat presisi perangkat otonom diyakini bakal menjadi daya tarik menggiurkan bagi militer. Teknologi serupa juga dapat digunakan dalam penebaran ranjau pintar dalam jumlah besar yang cocok untuk blokade perairan.

Terlepas dari kepopulerannya akhir-akhir ini, penggunaan AI dalam militer masih menjadi topik yang sangat kontroversial. Teknologi AI dikhawatirkan belum cukup matang untuk diberi wewenang besar dalam peperangan. Oleh karena itu, berbagai kritikus mulai mendesak pemerintah untuk segera menggenjot regulasi AI mengingat laju perkembangannya yang eksponensial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team