Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
CEO Nvidia Sebut AI Tak Butuh Regulasi Baru
Direktur Utama Nvidia Jensen Huang (commons.wikimedia.org/Raysonho)
  • Jensen Huang menilai AI sebagai sistem komputasi buatan manusia yang risikonya dapat dikendalikan melalui engineering dan aturan yang sudah ada.

  • Ia menempatkan pengujian produk, keputusan perusahaan, dan mekanisme pasar sebagai pengaman sebelum teknologi AI dilepas kepada pengguna.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Selasa, 15 September 2026

Jensen Huang berbicara dalam konferensi Dreamforce Salesforce. Ia menyatakan AI tidak membutuhkan regulasi baru yang khusus mengaturnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Jensen Huang menyatakan AI tidak membutuhkan undang-undang atau regulasi baru yang secara khusus mengaturnya.
  • Who?
    CEO Nvidia Jensen Huang menyampaikan pandangan tersebut, sementara TechCrunch menyoroti risikonya.
  • Where?
    Pernyataan Huang disampaikan dalam konferensi Dreamforce Salesforce.
  • When?
    Selasa, 15 September 2026.
  • Why?
    Huang memandang AI sebagai sistem komputasi yang dibangun manusia dan dapat dikendalikan melalui pendekatan teknis.
  • How?
    Keamanan dinilai dapat dijaga lewat engineering, pengujian, keputusan perusahaan, aturan yang ada, dan tekanan mekanisme pasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jensen Huang bilang AI dibuat manusia, jadi bisa dijaga dengan cara membuat dan menguji produknya dengan aman. Ia berbicara di Dreamforce Salesforce. Ia merasa perusahaan dan pasar bisa menjaga keamanan tanpa aturan baru. Tetapi TechCrunch bilang perusahaan masih bisa membuat masalah, jadi kebutuhan aturan AI masih dibicarakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pandangan Huang menempatkan proses engineering dan pengujian sebagai bagian penting sebelum produk AI dirilis. Dalam kerangka ini, perusahaan tetap dapat mengejar inovasi sambil mempertimbangkan keamanan produk. Opsi pengaturan mandiri yang disoroti TechCrunch juga membuka ruang koordinasi industri mengenai keamanan tanpa sepenuhnya mengandalkan regulasi pemerintah baru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

CEO Nvidia Jensen Huang menilai perkembangan kecerdasan buatan tidak membutuhkan undang-undang atau regulasi baru yang secara khusus mengaturnya. Dilansir dari TechCrunch, Huang memandang AI sebagai sistem komputasi yang dibangun manusia sehingga risiko keamanannya dapat dikendalikan melalui proses engineering dan aturan yang sudah ada.

Pandangan tersebut menempatkan Huang di tengah perdebatan mengenai cara industri mengelola risiko AI yang semakin canggih. Menurutnya, perusahaan seharusnya memastikan sendiri produk yang dikembangkan aman sebelum dirilis, sementara mekanisme pasar dapat memberikan tekanan agar perusahaan tidak menawarkan produk yang belum siap kepada pengguna.

1. Jensen Huang melihat AI sebagai sistem komputasi

ilustrasi Jensen Huang, CEO Nvidia (commons.wikimedia.org/NVIDIA Taiwan)

Salah satu dasar pandangan Huang terhadap regulasi berasal dari caranya melihat teknologi AI. Ia tidak memandang AI sebagai bentuk pikiran asing yang sepenuhnya berbeda dari teknologi sebelumnya, melainkan sebagai perangkat keras dan perangkat lunak yang dibuat manusia.

Karena dibangun manusia, Huang berpendapat AI pada akhirnya tetap merupakan sistem yang dapat dikendalikan manusia. Kompleksitas teknologi tersebut memang semakin tinggi, tetapi menurutnya karakter dasarnya tetap sebagai sistem komputasi yang dapat ditangani melalui pendekatan teknis.

Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar argumennya bahwa keamanan AI tidak harus diselesaikan melalui pembentukan regulasi baru. Huang menempatkan proses engineering, pengujian, dan keputusan perusahaan sebagai mekanisme utama untuk menentukan apakah sebuah produk sudah cukup aman untuk dilepas ke pasar.

2. Kekuatan pasar dinilai cukup mendorong perusahaan menjaga keamanan

Huang juga menilai mekanisme pasar sudah memberikan insentif bagi perusahaan untuk tidak meluncurkan produk yang belum aman. Perusahaan yang belum yakin terhadap fungsi, kemampuan, maupun keamanan produknya seharusnya menunda peluncuran sampai produk tersebut mencapai kondisi yang dinilai layak.

Dalam pandangannya, pendekatan tersebut tidak membutuhkan aturan baru yang secara khusus membatasi pengembangan AI. Perusahaan dapat menentukan sendiri seberapa cepat mereka bergerak berdasarkan tingkat keyakinan terhadap keamanan teknologi yang sedang dikembangkan.

Huang juga menganggap kecepatan inovasi dan keamanan produk bukan dua pilihan yang harus saling mengorbankan. Perusahaan dapat mengejar keduanya secara bersamaan, tetapi perlu mengambil jeda ketika pengembangan mulai berada di luar kendali atau produk belum dapat dipastikan aman.

3. Pendekatan tanpa regulasi baru bisa munculkan risiko

Ilustrasi AI. (IDN Times/Anjani Asra)

AI adalah alat dan akan selalu punya potensi bahaya. Perusahaan teknologi dengan niat baik sekalipun tetap dapat merilis produk yang memiliki masalah atau menimbulkan konsekuensi yang tidak direncanakan, sehingga keputusan perusahaan sendiri belum tentu selalu cukup untuk mencegah dampak yang lebih luas.

Kekhawatiran tersebut menjadi semakin relevan ketika diterapkan pada AI karena teknologi ini sudah dikaitkan dengan berbagai insiden dan tuduhan dampak berbahaya. Kasus model OpenAI yang meretas Hugging Face jadi bukti bahayanya. Karena itu, pendekatan yang sepenuhnya menyerahkan keputusan peluncuran kepada perusahaan masih menyisakan pertanyaan mengenai bagaimana kepentingan masyarakat dapat dilindungi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article