Pergeseran tren kecerdasan buatan ini tidak hanya berdampak pada benteng pertahanan korporasi besar, tetapi juga merambah langsung ke kehidupan sehari-hari masyarakat. Ancaman siber kini berevolusi menjadi jauh lebih rapi, personal, dan meyakinkan.
Pelaku kejahatan memanfaatkan teknologi ini untuk melancarkan serangan phishing, rekayasa sosial (social engineering), hingga peniruan identitas (impersonation) melalui teks, suara, gambar, hingga video. Suryo mengingatkan bahwa tren penipuan di ruang digital terus berkembang dari waktu ke waktu dan semakin sulit dibedakan.
"Betul. Dari yang simpel gitu, sekarang jadi lebih kompleks. Jadi kita kadang-kadang, 'Eh ini beneran enggak sih?' gitu ya. Kadang-kadang kita lagi sibuk, lagi tengah kesibukan, tahu ada yang telepon, ada yang kirim apa, gitu kan," dia mengatakan.
Meskipun modus penipuan semakin canggih—seperti undangan pernikahan palsu yang sempat marak hingga ragam modus baru lainnya—masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada.
Suryo membagikan tiga langkah praktis yang bisa diterapkan sehari-hari untuk melindungi diri:
Jangan bertindak karena panik: Hindari langsung mengambil keputusan atau merespons ketika dihadapkan pada situasi yang mendesak. Berhenti sejenak untuk berpikir.
Aktifkan keamanan berlapis: Selalu aktifkan multi-factor authentication (MFA) di semua perangkat dan akun digital yang dimiliki.
Selalu verifikasi saluran lain: Jika ada pihak yang mengaku sebagai rekan atau keluarga—terutama yang meminta uang atau data sensitif melalui saluran tidak dikenal—lakukan konfirmasi langsung melalui sambungan telepon ke nomor yang sudah dipastikan milik mereka.