ilustrasi browsing Google, perusahaan teknologi dan komunikasi, smartphone (unsplash.com/Solen Feyissa)
Rencana Google bersama Xcel Energy menunjukkan bahwa perusahaan teknologi dapat mengambil peran lebih besar dalam pembiayaan infrastruktur energi. Komitmen membayar kapasitas listrik minimum, bahkan ketika kebutuhan aktualnya lebih rendah, menjadi salah satu bentuk perlindungan agar biaya pembangunan tidak langsung dibebankan kepada pihak lain. Dalam perjanjian yang diusulkan, Google akan membayar setidaknya 75 persen dari kapasitas yang telah dikontrak meskipun gak menggunakan seluruhnya.
Perjanjian tersebut juga mencakup biaya jika Google mengakhiri kerja sama lebih awal. Perusahaan dapat diwajibkan membayar biaya minimum hingga setara delapan tahun apabila kontrak dihentikan sebelum waktunya. Amanda Rome, wakil presiden eksekutif sekaligus kepala pelanggan Xcel Energy, menjelaskan bahwa ketentuan tersebut dibuat untuk melindungi perusahaan dari risiko kerugian. Dengan adanya kewajiban pembayaran minimum, Google tetap harus membayar sebagian biaya listrik yang telah disepakati, meskipun nantinya menggunakan listrik lebih sedikit dari perkiraan.
Meski demikian, rencana ini belum otomatis membuktikan bahwa seluruh operasional pusat data Google bebas dari dampak lingkungan. Perjanjian Google dan Xcel Energy masih memerlukan persetujuan Minnesota Public Utilities Commission, sehingga pelaksanaannya bergantung pada proses regulasi. Selain itu, keberhasilan proyek perlu dinilai dari realisasi kapasitas energi terbarukan, keandalan pasokan listrik, serta dampaknya terhadap biaya yang dibayar pelanggan lain.
Google sendiri memiliki target menggunakan energi bebas karbon selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu pada 2030. Target tersebut menunjukkan ambisi perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada energi beremisi karbon, tetapi pencapaiannya membutuhkan perubahan nyata pada sistem kelistrikan. Penambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan perlu disertai pengelolaan jaringan yang memungkinkan pasokan energi bersih tersedia ketika pusat data membutuhkannya.
Google klaim data center AI buatannya ramah energi apakah bisa dipercaya? Rencana kerja sama dengan Xcel Energy menawarkan pendekatan yang cukup menjanjikan karena menggabungkan pembiayaan infrastruktur, penambahan energi terbarukan, dan perlindungan terhadap risiko biaya. Namun, klaim tersebut tetap perlu dibuktikan melalui pelaksanaan proyek dan dampaknya terhadap lingkungan serta tagihan listrik masyarakat. Pada akhirnya, pusat data yang benar-benar lebih ramah energi bukan hanya yang menyediakan kapasitas listrik besar, melainkan juga yang mampu menggunakan energi secara efisien tanpa mengorbankan kepentingan pelanggan lain.