Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Google Klaim Data Center AI Buatannya Ramah Energi, Benarkah?
ilustrasi Google, perusahaan teknologi (unsplash.com/BoliviaInteligente)
  • Google berencana membangun pusat data AI 780 MW di Minnesota, didukung 1.900 MW energi angin, surya, dan baterai bersama Xcel Energy untuk memperkuat pasokan listrik lokal.

  • Kekhawatiran publik AS tetap tinggi: survei menunjukkan penolakan terhadap pusat data karena konsumsi energi, dampak lingkungan, dan potensi kenaikan biaya listrik rumah tangga.

  • Klaim ramah energi Google belum terbukti sepenuhnya karena proyek masih menunggu persetujuan regulator; hasilnya bergantung pada realisasi energi terbarukan, keandalan jaringan, dan dampak biaya pelanggan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat perusahaan teknologi berlomba-lomba membangun pusat data berkapasitas besar. Fasilitas ini membutuhkan listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan server, memproses permintaan pengguna, hingga menjaga suhu perangkat tetap stabil. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran tentang dampak lingkungan dan kenaikan tagihan listrik masyarakat.

Google mencoba menjawab persoalan itu dengan merancang proyek pusat data AI yang didukung penambahan kapasitas energi terbarukan. Meski Google klaim data center AI buatannya ramah energi, apakah langkah tersebut benar-benar berjalan atau justru menyisakan persoalan lain?

1. Google menyiapkan energi terbarukan melebihi kebutuhan pusat data

ilustrasi Minnesota, Amerika Serikat (pexels.com/Tom Fisk)

Google berencana membangun pusat data berkapasitas 780 megawatt di Pine Island, Minnesota, Amerika Serikat. Kota kecil yang terletak sekitar satu jam perjalanan dari Minneapolis ini dipilih sebagai lokasi proyek yang diharapkan bisa memperkuat hubungan perusahaan dengan masyarakat setempat. Melalui kerja sama dengan perusahaan energi Xcel Energy, Google ingin menunjukkan bahwa pembangunan pusat data AI dapat berjalan beriringan dengan pengembangan energi yang lebih bersih.

Dalam rencana tersebut, Google akan membantu membiayai penambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga angin sebesar 1.400 megawatt dan tenaga surya sebesar 200 megawatt. Selain itu, proyek ini juga mencakup penyediaan penyimpanan energi berbasis baterai berkapasitas 300 megawatt. Total kapasitas yang direncanakan mencapai 1.900 megawatt, jauh lebih besar daripada kapasitas pusat data yang sebesar 780 megawatt.

Lantas, mengapa Google perlu menyediakan kapasitas energi yang lebih besar daripada kebutuhan pusat datanya? Energi angin dan matahari gak selalu tersedia dalam jumlah yang sama sepanjang waktu karena bergantung pada kondisi alam. Penambahan kapasitas tersebut diharapkan membantu menjaga ketersediaan listrik ketika produksi dari pembangkit energi terbarukan sedang menurun.

Xcel Energy juga menyatakan bahwa tambahan kapasitas listrik itu akan melayani pelanggan di wilayah setempat, bukan hanya Google. Artinya, proyek ini berpotensi memberikan manfaat lebih luas bagi jaringan listrik lokal. Meski begitu, manfaat tersebut tetap bergantung pada realisasi pembangunan, pengelolaan jaringan, dan seberapa efektif energi yang dihasilkan bisa dimanfaatkan.

2. Kekhawatiran masyarakat terhadap konsumsi listrik masih besar

ilustrasi tiang listrik, energi (unsplash.com/Nikola Johnny Mirkovic)

Rencana Google tersebut hadir ketika masyarakat Amerika Serikat semakin khawatir terhadap pembangunan pusat data. Survei Gallup yang dilakukan pada Maret 2026 menemukan bahwa 71 persen warga Amerika menentang pembangunan pusat data di wilayah tempat tinggal mereka. Salah satu alasan utamanya adalah kekhawatiran mengenai konsumsi energi yang tinggi.

Kekhawatiran serupa juga terlihat dalam survei Pew Research Center pada Juli dan Agustus 2026. Sekitar separuh responden menilai pusat data cenderung membawa dampak buruk terhadap lingkungan dan biaya listrik rumah tangga. Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan pusat data gak berhenti pada kebutuhan perusahaan teknologi, tapi juga menyangkut kepentingan masyarakat di sekitarnya.

Kalau kamu melihat perkembangan AI saat ini, kebutuhan listrik yang besar memang menjadi persoalan penting. Pusat data harus beroperasi untuk mendukung berbagai layanan digital, termasuk chatbot AI, komputasi awan, dan pemrosesan data dalam skala besar. Semakin banyak layanan yang digunakan, semakin besar pula kebutuhan infrastruktur komputasi dan energi untuk menjalankannya.

Meski begitu, angka dari kedua survei tersebut menggambarkan pandangan masyarakat Amerika Serikat, bukan kondisi masyarakat Indonesia. Namun, persoalannya tetap relevan bagi Indonesia karena perkembangan layanan AI dan komputasi awan juga membutuhkan infrastruktur digital serta pasokan listrik yang memadai. Karena itu, pembangunan pusat data perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan kebutuhan energi masyarakat, bukan hanya kepentingan bisnis perusahaan.

3. Pembangunan pusat data bisa membantu memperbaiki jaringan listrik

ilustrasi data center, pusat data, teknologi AI, server (vecteezy.com/md. ishrafil islam)

Di balik kebutuhan energi yang besar, pembangunan pusat data juga berpotensi mendorong pembaruan infrastruktur kelistrikan. North American Electric Reliability Corporation, organisasi nirlaba yang mengawasi keandalan sistem listrik di Amerika Utara, memperkirakan bahwa pusat data baru akan menyumbang sebagian besar pertumbuhan permintaan listrik dalam satu dekade mendatang. Kondisi ini membuat perusahaan penyedia listrik perlu mempersiapkan jaringan agar mampu memenuhi kebutuhan tambahan tersebut.

Persoalannya, jaringan listrik Amerika Serikat masih menghadapi tantangan infrastruktur yang menua. Departemen Energi AS dalam laporan tahun 2022 menyebutkan bahwa lebih dari 70 persen saluran transmisi dan transformator listrik di negara tersebut telah berusia setidaknya 25 tahun. Laporan perencanaan transmisi nasional yang diterbitkan pada 2024 juga menyoroti kebutuhan perluasan jaringan untuk memenuhi permintaan listrik pada masa mendatang.

Amanda Peterson Corio, kepala global bidang energi dan kelistrikan Google, menilai perkembangan industri pusat data bisa jadi momentum untuk menyediakan modal bagi perbaikan infrastruktur listrik yang sudah menua. Dengan investasi dari perusahaan teknologi, penyedia listrik berpeluang mempercepat pembangunan pembangkit, jaringan transmisi, dan fasilitas penyimpanan energi. Jika direncanakan dengan baik, investasi tersebut juga dapat membantu memperluas penggunaan energi rendah karbon.

Namun, kamu perlu memahami bahwa penambahan infrastruktur gak otomatis menjamin listrik menjadi lebih murah atau ramah lingkungan, lho. Hasil akhirnya bergantung pada biaya pembangunan, jenis pembangkit yang digunakan, serta pembagian biaya antara perusahaan teknologi dan pelanggan lain. Tanpa perencanaan yang tepat, peningkatan kebutuhan listrik justru berisiko menambah tekanan terhadap jaringan yang sudah ada.

4. Pusat data berukuran lebih kecil bisa menjadi alternatif

ilustrasi proyek pembangunan, konstruksi, data center, pusat data (vecteezy.com/Viktor Babenyshev)

Meski proyek Google menawarkan pendekatan baru, sejumlah ahli menilai pembangunan pusat data berkapasitas sangat besar bukan satu-satunya pilihan. Jigar Shah, mitra di perusahaan konsultan Multiplier yang membantu perusahaan rintisan energi bersih berkembang, berpendapat bahwa operator pusat data dapat mempertimbangkan fasilitas berukuran lebih kecil di wilayah yang masih memiliki kapasitas listrik berlebih.

Menurut Shah, pemanfaatan jaringan yang sudah tersedia bisa mengurangi kebutuhan pembangunan pembangkit dan infrastruktur transmisi baru. Logikanya, jaringan listrik memiliki biaya tetap dari fasilitas yang telah dibangun, seperti pembangkit, gardu induk, dan saluran transmisi. Ketika pelanggan baru ikut menanggung biaya melalui penggunaan listrik, beban biaya infrastruktur tersebut berpotensi terbagi kepada lebih banyak pengguna.

Ia juga mempertanyakan alasan perusahaan lebih memilih membangun satu pusat data berkapasitas 1.000 megawatt daripada mengembangkan sekitar 40 fasilitas berkapasitas masing-masing 25 megawatt. Menurut Shah, pembangunan fasilitas besar dianggap lebih praktis oleh perusahaan, meskipun pendekatan tersebut belum tentu menjadi pilihan paling efisien bagi jaringan listrik. Penempatan fasilitas di lokasi yang tepat dapat membantu memanfaatkan kapasitas yang tersedia tanpa selalu membutuhkan pembangunan baru dalam skala besar.

David Pomerantz, direktur eksekutif Energy and Policy Institute yang mengawasi kebijakan perusahaan utilitas, juga menyoroti persoalan insentif bisnis dalam pembangunan infrastruktur listrik. Ia menjelaskan bahwa perusahaan utilitas dapat memperoleh imbal hasil dari investasi infrastruktur baru, sehingga terdapat insentif finansial untuk terus membangun fasilitas tambahan. Menurut Pomerantz, perusahaan pusat data yang menyediakan modal dengan biaya lebih rendah berpotensi membantu menekan biaya listrik, meskipun pendekatan ini dapat menimbulkan konflik kepentingan dengan perusahaan utilitas.

5. Apakah klaim ramah energi Google bisa dipercaya?

ilustrasi browsing Google, perusahaan teknologi dan komunikasi, smartphone (unsplash.com/Solen Feyissa)

Rencana Google bersama Xcel Energy menunjukkan bahwa perusahaan teknologi dapat mengambil peran lebih besar dalam pembiayaan infrastruktur energi. Komitmen membayar kapasitas listrik minimum, bahkan ketika kebutuhan aktualnya lebih rendah, menjadi salah satu bentuk perlindungan agar biaya pembangunan tidak langsung dibebankan kepada pihak lain. Dalam perjanjian yang diusulkan, Google akan membayar setidaknya 75 persen dari kapasitas yang telah dikontrak meskipun gak menggunakan seluruhnya.

Perjanjian tersebut juga mencakup biaya jika Google mengakhiri kerja sama lebih awal. Perusahaan dapat diwajibkan membayar biaya minimum hingga setara delapan tahun apabila kontrak dihentikan sebelum waktunya. Amanda Rome, wakil presiden eksekutif sekaligus kepala pelanggan Xcel Energy, menjelaskan bahwa ketentuan tersebut dibuat untuk melindungi perusahaan dari risiko kerugian. Dengan adanya kewajiban pembayaran minimum, Google tetap harus membayar sebagian biaya listrik yang telah disepakati, meskipun nantinya menggunakan listrik lebih sedikit dari perkiraan.

Meski demikian, rencana ini belum otomatis membuktikan bahwa seluruh operasional pusat data Google bebas dari dampak lingkungan. Perjanjian Google dan Xcel Energy masih memerlukan persetujuan Minnesota Public Utilities Commission, sehingga pelaksanaannya bergantung pada proses regulasi. Selain itu, keberhasilan proyek perlu dinilai dari realisasi kapasitas energi terbarukan, keandalan pasokan listrik, serta dampaknya terhadap biaya yang dibayar pelanggan lain.

Google sendiri memiliki target menggunakan energi bebas karbon selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu pada 2030. Target tersebut menunjukkan ambisi perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada energi beremisi karbon, tetapi pencapaiannya membutuhkan perubahan nyata pada sistem kelistrikan. Penambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan perlu disertai pengelolaan jaringan yang memungkinkan pasokan energi bersih tersedia ketika pusat data membutuhkannya.

Google klaim data center AI buatannya ramah energi apakah bisa dipercaya? Rencana kerja sama dengan Xcel Energy menawarkan pendekatan yang cukup menjanjikan karena menggabungkan pembiayaan infrastruktur, penambahan energi terbarukan, dan perlindungan terhadap risiko biaya. Namun, klaim tersebut tetap perlu dibuktikan melalui pelaksanaan proyek dan dampaknya terhadap lingkungan serta tagihan listrik masyarakat. Pada akhirnya, pusat data yang benar-benar lebih ramah energi bukan hanya yang menyediakan kapasitas listrik besar, melainkan juga yang mampu menggunakan energi secara efisien tanpa mengorbankan kepentingan pelanggan lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article