NUS Ciptakan Layar Sentuh di Baju, Bisa Dicuci 50 Kali

- Peneliti NUS mengembangkan pakaian dengan layar sentuh berbasis 54 serat berpiksel, yang dapat menampilkan gambar dan video, mendeteksi sentuhan, serta terhubung nirkabel.
- Serat elektronik ini memuat lebih dari 5.000 chip dan 20.000 sambungan listrik, dengan LED serta sensor sentuh yang memungkinkan kain bekerja layaknya antarmuka digital.
- Prototipe mendukung kalkulator, video, Bluetooth, suara, dan sensor; fungsinya tetap terjaga setelah 50 kali pencucian serta 1.000 kali pembengkokan.
Perkembangan teknologi wearable kini tidak hanya berkutat pada jam tangan pintar atau gelang kesehatan. Peneliti dari National University of Singapore (NUS) berhasil mengembangkan teknologi layar sentuh yang terintegrasi langsung ke dalam serat pakaian. Menariknya, pakaian tersebut tetap bisa dicuci menggunakan mesin cuci tanpa kehilangan fungsi utamanya.
Teknologi ini memungkinkan pengguna menampilkan gambar dan video, merespons sentuhan jari, hingga terhubung secara nirkabel ke perangkat lain. Berbeda dari layar smartphone atau laptop yang menggunakan panel kaku, inovasi tersebut memanfaatkan serat khusus yang dapat dirangkai menjadi kain. Lantas, bagaimana cara kerja layar sentuh pada pakaian ini?
1. NUS kembangkan serat pakaian yang bisa berfungsi sebagai layar sentuh

Asisten Profesor Tural Khudiyev (kedua dari kanan) dari College of Design and Engineering, NUS, bersama anggota timnya (news.nus.edu.sg) Penelitian yang dipimpin Assistant Professor Tural Khudiyev dari Department of Materials Science and Engineering, College of Design and Engineering NUS, ini berhasil menggabungkan 54 serat berpiksel ke bagian lengan pakaian. Setiap serat mampu menampilkan piksel sekaligus mendeteksi sentuhan pengguna. Hasilnya, pakaian tersebut dapat berfungsi sebagai layar sentuh tanpa memerlukan panel elektronik yang kaku.
Mengutip situs resmi NUSnews, temuan tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Nature melalui penelitian berjudul Touch-sensing digital pixel fibre enables interactive garment GUI pada 21 Oktober 2026. Teknologi ini memungkinkan pakaian menampilkan gambar dan video, menerima sentuhan jari, serta terhubung secara nirkabel ke perangkat lain. Pakaian pun tidak hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh, tetapi juga dapat menjadi antarmuka langsung untuk mengakses informasi digital.
2. Menggunakan ribuan chip mikro yang terhubung dalam serat

Lapisan LED digital dan sensor sentuh (news.nus.edu.sg) Untuk menciptakan layar sentuh pada pakaian, tim peneliti NUS mengembangkan metode khusus yang memungkinkan ribuan chip mikro terhubung di sepanjang serat. Proses tersebut memanfaatkan laser untuk membuka titik sambungan pada kabel berlapis isolasi. Selanjutnya, tim menggunakan solder cair untuk menghubungkan komponen elektronik pada lokasi yang telah ditentukan.
Melalui metode tersebut, peneliti berhasil mengintegrasikan lebih dari 5.000 chip melalui 20.000 sambungan listrik. Komponen tersebut kemudian dimasukkan ke dalam serat berlapis menggunakan teknik thermal drawing. Hasilnya berupa serat elektronik berketebalan sekitar satu milimeter dan panjang mencapai 10 meter.
Di dalam serat tersebut terdapat lapisan LED digital dan sensor sentuh. Ketika pengguna menekan bagian tertentu pada serat, rangkaian listrik akan terhubung sehingga sistem dapat mengenali lokasi sentuhan dan menyalakan piksel terdekat. Teknologi inilah yang memungkinkan kain merespons interaksi layaknya layar sentuh pada perangkat elektronik konvensional.
3. Bisa menampilkan video, menjalankan kalkulator, hingga merespons perintah suara

Tim NUS menciptakan lapisan yang peka sentuhan dan lapisan piksel (news.nus.edu.sg) Pada prototipe yang dikembangkan, sebanyak 54 serat piksel dipasang pada bagian lengan pakaian. Setiap serat membawa 96 LED sehingga menghasilkan layar berukuran 96 x 54 piksel, berukuran 168 x 105 milimeter. Layar tersebut memiliki kecepatan penyegaran 30 frame per detik dan kedalaman warna 8-bit.
Tidak hanya menampilkan gambar, teknologi ini juga mendukung sejumlah fungsi digital. Pengguna dapat menjalankan kalkulator, membuka galeri foto, memutar video, menggunakan kompas, hingga menerima gambar melalui koneksi Bluetooth. Sistemnya juga mampu merespons perintah suara, memutar orientasi layar, dan menyesuaikan tingkat kecerahan secara otomatis.
Tim peneliti turut mengintegrasikan serat tambahan yang membawa mikrofon, speaker, dan berbagai sensor. Komponen tersebut dapat mendeteksi gerakan, menentukan arah utara magnetis, mengukur suhu, dan mengenali tingkat kecerahan lingkungan. Ketika ditempatkan di bagian bawah lengan, sensor suhu bahkan dapat digunakan untuk membaca dan menampilkan temperatur tubuh pengguna.
4. Tetap bisa dicuci 50 kali tanpa kehilangan fungsi layar sentuh

teknologi layar sentuh Garment GUI yang dikembangkan NUS pada serat pakaian (youtube.com/NUS) Salah satu tantangan dalam mengembangkan teknologi elektronik berbasis kain adalah mempertahankan fungsinya ketika pakaian mengalami pencucian atau peregangan. Komponen elektronik umumnya lebih rentan terhadap air, deterjen, dan perubahan bentuk dibandingkan material tekstil biasa. Namun, peneliti NUS merancang serat elektronik agar tetap fleksibel dan dapat digunakan seperti kain pada umumnya.
Berdasarkan hasil pengujian, kemampuan menampilkan cahaya dan merespons sentuhan pada pakaian tersebut hampir tidak berubah setelah melalui 50 kali pencucian menggunakan deterjen di mesin cuci. Ketahanannya juga diuji melalui 1.000 kali pembengkokan pada radius 5 milimeter. Hasilnya menunjukkan bahwa fungsi utama layar tetap terjaga meskipun mengalami perubahan bentuk berulang kali.
Selain itu, pakaian tersebut memiliki kemampuan sirkulasi udara yang sebanding dengan bahan tekstil seperti katun, poliester, dan denim. Peneliti juga memastikan bahwa teknologi ini memenuhi batas keselamatan yang berlaku untuk kontak dengan kulit. Artinya, integrasi komponen elektronik tidak serta-merta membuat pakaian kehilangan karakteristik dasarnya sebagai bahan sandang.
5. Berpotensi digunakan untuk memantau kesehatan pengguna

tim peneliti NUS berencana meningkatkan resolusi layar pada teknologi layar sentuh (youtube.com/NUS) Pengembangan layar sentuh berbasis serat tidak hanya ditujukan untuk menghadirkan pengalaman menggunakan perangkat digital melalui pakaian. Teknologi ini juga berpotensi mendukung pemantauan kesehatan secara langsung. Sensor yang terintegrasi dapat mengumpulkan informasi fisiologis dan menampilkannya melalui antarmuka yang tersedia pada kain.
Assistant Professor Tural Khudiyev menjelaskan bahwa integrasi kecerdasan buatan (AI) berpotensi memungkinkan pemantauan kesehatan yang lebih personal. Pengguna nantinya dapat memperoleh informasi, umpan balik, dan bantuan berdasarkan kondisi tubuh yang terdeteksi melalui sensor pakaian. Meski demikian, penerapan tersebut masih menjadi potensi pengembangan, bukan seluruhnya fungsi yang sudah tersedia pada prototipe saat ini.
Ke depannya, tim peneliti NUS berencana meningkatkan resolusi layar, mengintegrasikan lebih banyak sensor, dan mengembangkan AI yang dapat berjalan langsung pada perangkat. Mereka juga ingin mengembangkan teknologi yang memungkinkan tampilan, sentuhan, sensor, dan kecerdasan buatan bekerja dalam satu platform tekstil. Jika pengembangan ini berhasil, pakaian berpotensi menjadi antarmuka digital yang membantu pengguna berinteraksi langsung dengan informasi dan lingkungan sekitarnya.























