Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Deepfake Seksual Menjadi Ancaman Baru di Internet?

4 min read
Kenapa Deepfake Seksual Menjadi Ancaman Baru di Internet?
ilustrasi menggulir media sosial (unsplash.com/ROBIN WORRALL)
  • Deepfake seksual menggunakan AI untuk membuat atau memanipulasi konten seksual seseorang tanpa persetujuannya.

  • Teknologi AI yang semakin mudah diakses membuat siapa saja berisiko menjadi korban, bukan hanya figur publik.

  • Penyebaran deepfake seksual dapat merusak reputasi, mengganggu kesehatan mental, dan sulit dikendalikan setelah tersebar di internet.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan akal imitasi (AI) membuat banyak hal yang sebelumnya sulit dilakukan kini menjadi jauh lebih mudah. Sayangnya, teknologi ini juga membuka peluang munculnya bentuk kejahatan digital baru, salah satunya pemalsuan dalam (deepfake) seksual. Melalui teknologi tersebut, foto atau video seseorang bisa dimanipulasi menjadi konten seksual tanpa sepengetahuan maupun persetujuan orang yang bersangkutan.

Yang membuat deepfake seksual semakin mengkhawatirkan ialah siapa saja berpotensi menjadi korbannya. Tidak harus seleb atau figur publik, orang biasa yang mengunggah foto di media sosial pun bisa menjadi sasaran. Lantas, kenapa deepfake seksual dianggap sebagai ancaman serius di internet?

  1. 1. Apa itu deepfake seksual?

    ilustrasi mengakses media sosial dengan smartphone
    ilustrasi mengakses media sosial dengan smartphone (unsplash.com/Jonas Leupe)

    Deepfake seksual adalah konten berupa gambar, video, atau audio bertema seksual yang dibuat atau dimanipulasi menggunakan teknologi AI. Dengan begitu, seseorang seolah-olah terlibat dalam aktivitas seksual yang terekam kamera. Padahal, orang yang ditampilkan sebenarnya tidak pernah melakukan hal tersebut.

    Teknologi ini dapat digunakan untuk mengganti wajah seseorang dalam video pornografi atau menghasilkan gambar intim palsu berdasarkan foto asli. Hasilnya kadang terlihat cukup meyakinkan sehingga orang yang melihatnya sulit membedakan mana konten asli dan mana yang telah dimanipulasi. Deepfake seksual termasuk bentuk penyalahgunaan teknologi karena menggunakan identitas atau kemiripan seseorang tanpa persetujuan. Kendati gambar atau videonya palsu, dampak yang dialami korban bisa sangat nyata.

  2. 2. Teknologi AI membuat konten palsu semakin mudah dibuat

    ilustrasi AI
    ilustrasi AI (pexels.com/Aerps.com)

    Dahulu, manipulasi foto dan video yang terlihat realistis membutuhkan keterampilan penyuntingan khusus. Prosesnya juga cukup rumit dan memakan waktu. Namun, perkembangan AI generatif membuat pembuatan gambar palsu semakin mudah diakses oleh banyak orang.

    Kini, sejumlah perangkat berbasis AI mampu menghasilkan gambar yang terlihat realistis hanya dengan menggunakan foto sebagai referensi. Kemudahan ini menjadi masalah saat teknologi tersebut digunakan untuk membuat konten tanpa persetujuan orang yang wajahnya ditampilkan. Selain itu, pelaku tidak selalu membutuhkan banyak foto untuk membuat konten palsu. Foto profil atau gambar yang diunggah secara publik dapat disalahgunakan sebagai bahan pembuatan deepfake. Akibatnya, seseorang bisa menjadi korban meski tidak pernah membagikan konten pribadi yang bersifat intim.

  3. 3. Korban tidak hanya berasal dari kalangan seleb

    ilustrasi swafoto
    ilustrasi swafoto (pexels.com/Rene Asmussen)

    Kasus manipulasi foto seksual kerap dikaitkan dengan artis, influencer, atau tokoh terkenal. Hal ini cukup masuk akal karena foto mereka banyak tersedia di internet. Namun, anggapan bahwa hanya orang terkenal yang berisiko menjadi korban deepfake seksual sebenarnya keliru. Orang biasa juga dapat menjadi sasaran, termasuk pelajar, mahasiswa, pekerja kantoran, atau pengguna media sosial lainnya. Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan merupakan orang yang mengenal korban, seperti teman, mantan pasangan, atau seseorang yang memiliki konflik pribadi.

    Motifnya pun beragam. Ada yang melakukannya untuk mempermalukan korban, melakukan perundungan, membalas dendam, atau mengancam agar korban memenuhi permintaan tertentu. Situasi ini membuat deepfake seksual bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan juga berkaitan dengan pelecehan dan kekerasan berbasis gender di ruang digital.

  4. 4. Konten palsu bisa merusak reputasi dan kondisi mental korban

    ilustrasi perempuan merasa stres
    ilustrasi perempuan merasa stres (freepik.com/freepik)

    Salah satu bahaya terbesar deepfake seksual ialah dampaknya terhadap kehidupan korban. Meski konten tersebut tidak nyata, orang lain mungkin langsung memercayainya tanpa memeriksa keaslian gambar atau video yang beredar. Korban bisa menghadapi komentar negatif, pelecehan, hingga rusaknya reputasi. Bahkan, ada kemungkinan konten tersebut diketahui oleh keluarga, teman, atau rekan kerja sehingga menimbulkan tekanan sosial yang luar biasa.

    Dampaknya juga dapat memengaruhi kesehatan mental. Korban mungkin mengalami kecemasan, rasa malu, ketakutan, atau kesulitan memercayai orang lain. Perasaan kehilangan kendali atas citra tubuh dan identitas pribadi juga bisa menjadi pengalaman yang sangat mengganggu.

  5. 5. Penyebaran konten di internet sulit dikendalikan

    ilustrasi media sosial
    ilustrasi media sosial (pexels.com/Pixabay)

    Masalah lain yang membuat deepfake seksual berbahaya ialah kecepatan penyebaran informasi di internet. Begitu sebuah gambar atau video diunggah, konten tersebut dapat disalin, diunduh, dan dibagikan kembali melalui berbagai platform. Kendati unggahan awal berhasil dihapus, bukan berarti seluruh salinannya ikut menghilang. Konten mungkin sudah tersimpan di perangkat orang lain atau tersebar melalui grup percakapan dan situs yang berbeda.

    Ini membuat korban acap kali harus menghadapi proses panjang untuk melaporkan dan meminta penghapusan konten. Bahkan, setelah konten dihapus, kekhawatiran bahwa gambar atau video tersebut akan muncul kembali bisa terus membayangi korban. Karena itu, dampak deepfake seksual tidak selalu berhenti ketika konten palsu sudah tidak lagi terlihat di platform tempat pertama kali diunggah.

    Deepfake seksual menjadi ancaman baru di internet. Itu karena teknologi tersebut semakin mudah diakses dan dapat digunakan untuk menyerang privasi, reputasi, serta keamanan seseorang. Oleh sebab itu, kemampuan mengenali manipulasi digital dan menghormati persetujuan serta privasi orang lain menjadi semakin penting di tengah pesatnya perkembangan AI.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More