ilustrasi screen YouTube (unsplash.com/Christian Wiediger)
Langkah Instagram ini turut memperlihatkan persaingan platform digital dalam memperebutkan waktu menonton pengguna, terutama melawan YouTube. Tantangannya bukan hanya menghadirkan format video yang menarik, tetapi juga membangun ekosistem pendapatan bagi kreator. Sebagai perbandingan, YouTube menawarkan pembagian 55 persen pendapatan iklan kepada kreator yang memenuhi persyaratan program monetisasinya. Namun, belum ada kepastian terkait apakah Instagram akan menerapkan pembagian pendapatan iklan seperti YouTube Partner Program (YPP) atau penawaran skema monetisasi lain.
Instagram sendiri tengah menjajaki sejumlah kesepakatan bersama kreator untuk mendukung Features. Kreator yang sudah memiliki kerja sama iklan dapat membawa penempatan iklan dan konten bermerek mereka ke format baru tersebut. Instagram juga berencana membantu kreator yang belum memiliki jaringan kerja sama komersial agar dapat mengembangkan peluang pendapatan.
Meski masih dalam tahap pengujian, Features menunjukkan bahwa Instagram mulai membuka ruang lebih besar bagi konten berdurasi panjang. Namun, perusahaan tetap perlu memastikan format tersebut dapat berjalan berdampingan bersama Reels sekaligus mempertahankan karakter Instagram sebagai platform untuk berbagi dan terhubung bersama teman.
Menariknya, ini bukan kali pertama Instagram tertarik menghadirkan format video berdurasi panjang. Sebelumnya, platform tersebut pernah memiliki IGTV yang pertama kali diluncurkan pada 2018. Meski awalnya hanya mendukung video vertikal, IGTV mulai mengizinkan unggahan video horizontal pada 2019. Namun, seiring peralihan fokus Instagram ke Reels, layanan tersebut akhirnya resmi dihentikan pada 2022. Menurut kamu, apakah kehadiran Features kali ini bisa membuat pengguna betah untuk menonton video panjang di Instagram?