Studi Gallup: Karyawan yang Jarang Pakai AI Lebih Rentan Kena PHK

- Studi Gallup terhadap 23.000 pekerja AS menemukan bahwa karyawan yang jarang memakai AI memiliki risiko PHK hingga tiga kali lebih tinggi dibanding mereka yang rutin menggunakannya.
- Hanya sekitar 1 persen pekerja yang di-PHK menyebut AI sebagai penyebab utama, sementara sebagian besar kehilangan pekerjaan karena restrukturisasi dan efisiensi perusahaan.
- Gallup menilai kemampuan beradaptasi dan produktivitas turut memengaruhi keamanan kerja, menjadikan pemanfaatan AI sebagai keterampilan penting namun bukan satu-satunya tolok ukur kinerja.
Kecerdasan buatan (AI) belakangan kerap dikaitkan dengan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai perusahaan teknologi. Namun, sebuah studi terbaru dari Gallup menunjukkan bahwa ancaman terbesar bagi sebagian pekerja mungkin bukan AI itu sendiri, melainkan rendahnya pemanfaatan teknologi tersebut dalam pekerjaan sehari-hari.
Studi Gallup yang melibatkan lebih dari 23.000 pekerja di Amerika Serikat menemukan bahwa karyawan yang jarang menggunakan AI memiliki risiko terkena PHK lebih tinggi dibandingkan mereka yang rutin memanfaatkannya. Seperti dilaporkan Bloomberg, temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan memanfaatkan AI mulai menjadi salah satu keterampilan penting di dunia kerja, terutama di sektor teknologi.
Berikut penjelasan mengenai temuan studi Gallup dan kaitannya dengan penggunaan AI di dunia kerja.
1. Risiko PHK tiga kali lebih tinggi bagi pekerja yang jarang menggunakan AI

Studi Gallup menemukan bahwa pekerja di sektor teknologi yang menggunakan AI kurang dari satu kali dalam sebulan memiliki risiko PHK sebesar 18 persen. Angka tersebut tiga kali lebih tinggi dibandingkan pekerja yang rutin memanfaatkan AI, yang memiliki risiko sekitar 6 persen. Tren serupa juga terlihat di sektor lain, meski selisihnya tidak sebesar di industri teknologi. Pekerja yang tidak menggunakan AI memiliki risiko PHK sekitar 5 persen, sedangkan risikonya turun menjadi 3 persen pada mereka yang rutin memanfaatkan teknologi tersebut.
Temuan ini didasarkan pada survei terhadap lebih dari 23.000 pekerja di Amerika Serikat pada Februari 2026, termasuk 660 responden yang baru saja mengalami PHK. Bahkan setelah memperhitungkan faktor seperti usia, tingkat pendidikan, industri, hingga masa kerja, Gallup tetap menemukan hubungan antara rendahnya penggunaan AI dan meningkatnya risiko PHK.
2. AI belum tentu menjadi penyebab utama PHK

Di sisi lain, hasil studi ini juga menunjukkan temuan menarik. Hanya sekitar 1 persen pekerja yang baru kehilangan pekerjaan mengaku AI atau otomatisasi menjadi alasan utama mereka di-PHK. Sebagian besar responden justru menyebut restrukturisasi perusahaan, pengurangan biaya operasional, atau penghapusan posisi sebagai penyebab utama kehilangan pekerjaan.
Namun, Gallup menilai hal tersebut bukan berarti AI sama sekali tidak berperan. Menurut mereka, restrukturisasi dan langkah efisiensi perusahaan bisa saja turut dipengaruhi oleh meningkatnya adopsi AI, meski faktor tersebut tidak selalu disampaikan secara terbuka kepada karyawan. Dengan kata lain, AI mungkin bukan alasan yang disebutkan secara langsung, tetapi tetap dapat memengaruhi keputusan perusahaan dalam mengurangi jumlah tenaga kerja.
3. Kemampuan beradaptasi juga berperan

Melansir The Straits Times, Kepala Ilmuwan Gallup untuk Praktik Manajemen Tempat Kerja dan Kesejahteraan, Jim Harter, mengatakan hubungan antara penggunaan AI dan risiko PHK masih perlu dikaji lebih lanjut. Menurutnya, belum tentu pekerja yang menggunakan AI otomatis lebih aman dari PHK. Bisa jadi, mereka memang memiliki produktivitas yang lebih tinggi atau lebih cepat beradaptasi dengan perubahan di tempat kerja.
Harter juga mengingatkan agar perusahaan tidak menjadikan penggunaan AI sebagai satu-satunya tolok ukur dalam mengevaluasi kinerja karyawan. Jika hal itu dilakukan, pekerja bisa terdorong menggunakan AI secara berlebihan hanya demi memenuhi penilaian, bukan untuk benar-benar meningkatkan produktivitas. Sejumlah pengamat juga menilai pekerja yang lebih dulu mengadopsi AI umumnya lebih adaptif, terbuka terhadap perubahan, dan aktif mempelajari hal-hal baru. Karakteristik tersebut dinilai turut meningkatkan peluang mereka untuk bertahan di tengah perubahan dunia kerja.
4. Kemampuan memanfaatkan AI kian penting di dunia kerja

Temuan Gallup menunjukkan bahwa AI tidak serta-merta menggantikan pekerjaan manusia. Sebaliknya, kemampuan memanfaatkan teknologi ini mulai menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan di berbagai industri. Meski demikian, penelitian ini juga menegaskan bahwa korelasi tidak selalu berarti hubungan sebab akibat. Artinya, belum bisa dipastikan apakah penggunaan AI secara langsung membuat seseorang lebih kecil kemungkinannya terkena PHK, atau justru pekerja yang lebih adaptif memang cenderung lebih cepat mengadopsi teknologi tersebut.
Meski AI belum tentu menjadi penyebab langsung seseorang kehilangan pekerjaan, kemampuan memanfaatkan teknologi tersebut tampaknya akan semakin berperan dalam dunia kerja di masa depan. Bukan tidak mungkin, keterampilan ini akan menjadi salah satu standar baru yang dicari perusahaan.





















