Microsoft identik dengan Windows, sistem operasi terpopuler di dunia yang telah terpasang di lebih dari 1.6 miliar perangkat di seluruh dunia dan Office, salah satu aplikasi produktivitas yang juga banyak digunakan. Kendati demikian, raksasa teknologi yang didirikan pada 1975 ini sebenarnya sudah lama berkembang lewat strategi akuisisi. Banyak perusahaan yang mereka beli tetap berjalan seperti biasa dengan nama dan budaya kerja sendiri, sehingga kepemilikannya sering kali tidak disadari banyak orang. Berikut beberapa aplikasi, layanan dan brand teknologi yang ternyata dimiliki Microsoft.
7 Layanan dan Brand Teknologi yang Ternyata Punya Microsoft

Take a Deeper Read
1. LinkedIn
LinkedIn hampir pasti dikenal siapa saja yang pernah melamar kerja. Platform ini membantu penggunanya mencari lowongan, membangun networking profesional dan memamerkan pencapaian karier. Pada 2016, Microsoft membelinya seharga US$26,2 miliar, yang menjadi akuisisi termahal Microsoft saat itu, sebelum akhirnya terlampaui oleh pembelian Activision Blizzard pada 2023. Meski sudah berpindah tangan, LinkedIn tetap berjalan cukup mandiri. Budaya perusahaan hingga jajaran pimpinannya dipertahankan, sementara infrastruktur cloud Microsoft membantunya tumbuh lebih besar. Karena tidak mengalami banyak perubahan, wajar jika sebagian orang tidak sadar platform ini sudah menjadi bagian dari keluarga Microsoft.
2. GitHub
Bagi para programmer, GitHub menjadi rumah kedua mereka. Platform ini memungkinkan siapa pun menyimpan, mengelola dan berbagi kode program, lengkap dengan fitur pelacakan bug dan dokumentasi. Microsoft mengakuisisinya pada 2018 dengan nilai US$7,5 miliar, dengan alasan memperkuat komitmen pada kebebasan, keterbukaan dan inovasi bagi para developer. Langkah ini tidak terlalu mengejutkan mengingat Microsoft memang semakin ramah terhadap proyek open-source pada tahun-tahun sebelumnya. Setelah dibeli, GitHub tetap melayani semua developer, apa pun bahasa pemrograman maupun sistem operasi yang digunakan. Akuisisi lanjutan seperti alat analisis kode bernama Semmle juga semakin menambah kemampuan platform ini.
3. Skype
Sebelum Zoom dan Google Meet banyak digunakan, Skype merupakan nama yang langsung muncul ketika berbicara soal panggilan video dan suara via internet. Layanan ini lahir di awal tahun 2000-an dengan teknologi peer-to-peer yang membuat panggilan jarak jauh lebih murah atau bahkan gratis. Microsoft membelinya pada 2011 seharga US$8,5 miliar, lalu memasukkannya ke Windows dan berbagai perangkat buatan mereka, termasuk Xbox One. Akuisisi ini juga menjadi alasan Microsoft menghentikan Windows Live Messenger. Skype kemudian beralih menggunakan server milik Microsoft, bukan lagi sepenuhnya peer-to-peer, dan mendapat tambahan fitur berbasis AI seperti chatbot Bing dan kemampuan memberi efek blur pada background.
4. Mojang
Minecraft merupakan salah satu game terlaris sepanjang masa dan studio di baliknya, Mojang, dibeli Microsoft pada 2014 seharga US$2,5 miliar. Yang menarik, Mojang tidak dipaksa menjadi studio yang eksklusif hanya merilis game untuk Xbox atau Windows. Minecraft tetap hadir di PlayStation, Nintendo, PC hingga perangkat mobile, dan bahkan Microsoft menambahkan fitur crossplay agar pemain dari platform berbeda bisa saling bertemu. Ini menjadi salah satu alasan mengapa banyak pemain lupa bahwa game ini sudah dimiliki Microsoft selama hampir sepuluh tahun. Minecraft kini terus meluas ke buku, mainan hingga film layar lebar, sementara karakter dari berbagai franchise lain ikut muncul sebagai skin di dalamnya.
5. Studio-Studio Call of Duty
Banyak pemain mengira Call of Duty sepenuhnya buatan Activision, padahal Activision hanyalah publisher-nya. Pengembangannya dikerjakan bergantian oleh sejumlah studio, mulai dari Infinity Ward yang membuat game Call of Duty pertama pada 2003, Treyarch, Sledgehammer Games, Raven Software, Beenox hingga High Moon Studios. Ketika Microsoft membeli Activision Blizzard seharga US$75,4 miliar pada 2023, semua studio Call of Duty pun ikut berpindah. Secara teknis, mereka masih beroperasi dengan cukup independen, namun nasib mereka kedepannya tidak sepenuhnya pasti. Sebab, Microsoft sudah beberapa kali menutup studio dan studio di balik game-game Crash Bandicoot modern yaitu Toys For Bob bahkan memilih hengkang dari Activision Blizzard dan Microsoft pada tahun yang sama.
6. GIANT Company Software
Antivirus bawaan Windows mungkin bukan yang terbaik, namun kemampuannya cukup bersaing dengan nama-nama besar. Nah, banyak yang tidak mengetahui bahwa fondasi antivirus bawaan Windows berasal dari GIANT Company Software, pengembang produk anti-spyware dan keamanan internet yang produk andalannya bernama GIANT AntiSpyware. Pada 2004, Microsoft mengumumkan telah mengakuisisinya untuk memperkuat sistem keamanan di Windows. GIANT AntiSpyware kemudian menjelma menjadi Windows Defender, yang belakangan diganti nama menjadi Microsoft Defender. Tanpa aset awal dari GIANT, Microsoft Defender mungkin akan menjadi produk yang sangat berbeda. Meski sulit dipastikan apakah perusahaannya masih ada sebagai entitas terpisah, hasil kerjanya masih terasa di setiap PC berbasis Windows.
7. Nuance Communications
Nuance Communications mungkin sangat asing di telinga banyak orang, padahal Microsoft membayar mahal untuknya yaitu U$19,7 miliar pada 2022, yang menjadi akuisisi terbesar ketiga dalam sejarah mereka. Nuance sendiri sudah berdiri sejak 1992 dan ahli di bidang pengenalan suara serta AI. Produknya antara lain alat yang membantu dokter mengisi dokumen klinis secara otomatis dan layanan dikte berbasis cloud. Dengan mengakuisisi Nuance, Microsoft tampaknya mengincar teknologi AI dan keahlian mereka di sektor kesehatan serta keuangan. Apalagi sejak 2020, Microsoft sudah menawarkan layanan cloud untuk penyedia layanan kesehatan sehingga Nuance menjadi pelengkap yang pas.
Demikian tadi ulasan mengenai beberapa aplikasi, layanan dan brand teknologi yang ternyata dimiliki Microsoft. Selain perusahaan di atas, perusahaan apa lagi yang kamu ketahui dimiliki oleh Microsoft?
Curated For You
- Perempuan Penggerak Koperasi Tangguh di Tepi Rel20 Oct 2026, 09:20 WIB
- Cara Microsoft Rayu Pengguna MacBook Pindah ke Surface19 Oct 2026, 18:22 WIB
- Dipa Andika Bongkar Soal Perizinan dan Produksi Operasi Pesta Copet di Pestapora04 Sep 2026, 08:59 WIB
- 5 Hal Unik di Microsoft Surface Ultra, Pakai Prosesor NVIDIA14 Oct 2026, 06:52 WIB