Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Layanan Digital yang Pernah Terganggu akibat Heatwave

5 Layanan Digital yang Pernah Terganggu akibat Heatwave
logo Oracle Cloud (commons.wikimedia.org/Chetanpisal1971)
  • Typeform mengalami outage 54 menit pada 7 Agustus 2026, tetapi perusahaan hanya menyebut traffic interruption tanpa mengonfirmasi kaitan langsung dengan gelombang panas.
  • AWS, Google Cloud, dan Oracle pernah terdampak overheating atau kegagalan pendinginan data center saat suhu ekstrem, memicu gangguan layanan, error, latensi, hingga penghentian sebagian server.
  • Twitter kehilangan satu data center di California pada 2022, sementara iiNet di Australia mengalami gangguan berjam-jam pada 2015; heatwave menekan infrastruktur fisik dan kapasitas layanan digital.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gangguan yang dialami Typeform pada 7 Agustus 2026 kembali menunjukkan bahwa layanan digital tidak selalu kebal terhadap kondisi di dunia nyata. Menurut pantauan situs IsDownApp, platform tersebut mengalami outage besar selama sekitar 54 menit, membuat pengguna kesulitan masuk ke akun, membuat formulir, maupun membuka formulir yang sudah dipublikasikan. Namun, Typeform sendiri menyebut gangguan tersebut berkaitan dengan traffic interruption, sehingga belum ada keterangan resmi yang menghubungkannya secara langsung dengan gelombang panas.

Meski begitu, Typeform bukan satu-satunya layanan digital yang pernah menghadapi masalah ketika suhu ekstrem melanda. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan teknologi besar juga mengalami gangguan pada infrastruktur komputasinya akibat panas ekstrem. Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa di balik aplikasi dan layanan yang digunakan sehari-hari, terdapat data center yang sangat bergantung pada sistem pendinginan. Lantas, layanan digital apa saja yang pernah terdampak heatwave? Berikut beberapa kasusnya.

  1. 1. Amazon Web Services (AWS) terdampak panas pada Mei 2026

    kantor Amazon Web Services (AWS)
    kantor Amazon Web Services (AWS) (commons.wikimedia.org/Tony Webster)

    Salah satu contoh terbaru terjadi pada AWS di Northern Virginia, Amerika Serikat, pada Mei 2026. Mengutip Reuters, Amazon mengonfirmasi bahwa salah satu data center mengalami masalah overheating yang menyebabkan hilangnya daya dan mengganggu sejumlah layanan cloud. Gangguan tersebut berdampak pada berbagai pelanggan AWS, termasuk Coinbase, sementara perusahaan membutuhkan waktu untuk memulihkan sistem dan kapasitas pendinginannya.

    Kasus AWS ini menarik karena terjadi ketika kebutuhan komputasi justru semakin besar. Data center modern tidak hanya menjalankan layanan cloud biasa, tetapi juga menopang beban komputasi AI yang menghasilkan panas dalam jumlah besar. Ketika suhu lingkungan ikut meningkat, sistem pendingin harus bekerja lebih keras untuk menjaga perangkat tetap berada pada temperatur operasional yang aman.

  2. 2. Google Cloud pernah mematikan sebagian server pada Juli 2022

    ilustrasi aplikasi Google Cloud
    ilustrasi aplikasi Google Cloud (unsplash.com/appshunter.io)

    Beberapa tahun sebelumnya, Google Cloud mengalami persoalan serupa ketika gelombang panas melanda Inggris pada Juli 2022. Data center Google di London mengalami kegagalan sistem pendinginan setelah suhu lingkungan mencapai tingkat ekstrem, sehingga perusahaan harus melakukan sejumlah langkah untuk mengurangi beban panas. Google akhirnya mematikan sebagian server di zona yang terdampak untuk mencegah kerusakan perangkat dan gangguan yang lebih panjang.

    Gangguan tersebut tidak berhenti pada satu server atau mesin saja. Sejumlah layanan Google Cloud mengalami peningkatan error, latensi, hingga ketidaktersediaan karena sebagian kapasitas di wilayah London tidak dapat digunakan. Dalam laporan resminya, Google menyebut dua unit chiller mengalami kerusakan bersamaan, sementara kondisi cuaca yang sangat panas turut memperburuk situasi.

  3. 3. Oracle Cloud mengalami masalah di waktu yang sama

    aplikasi Oracle Cloud
    aplikasi Oracle Cloud (play.google.com)

    Google bukan satu-satunya penyedia cloud yang terdampak heatwave Inggris pada 2022. Oracle juga mengalami gangguan pada fasilitas data center-nya di London ketika temperatur Inggris mencapai lebih dari 40 derajat Celsius. Perusahaan menyebut temperatur yang tidak wajar telah memengaruhi perangkat cloud dan jaringan di fasilitasnya di London Selatan.

    Oracle dan Google sama-sama menghadapi persoalan pada sistem pendinginan akibat suhu ekstrem tersebut. Bahkan, pada hari yang sama, sejumlah layanan cloud Google harus dimatikan untuk mencegah kerusakan pada mesin dan gangguan yang lebih panjang. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ketika suhu ekstrem mencapai level tertentu, sistem pendinginan data center dapat menjadi titik kritis yang menentukan apakah layanan digital tetap berjalan atau harus dihentikan sementara.

  4. 4. Twitter kehilangan satu data center

    Twitter
    ilustrasi Twitter (unsplash.com/Terrillo Walls)

    Pada September 2022, Twitter kehilangan salah satu data center pentingnya di Sacramento, California, setelah gelombang panas ekstrem membuat seluruh peralatan fisik di fasilitas tersebut berhenti beroperasi. Berdasarkan memo internal yang diperoleh CNN, kondisi tersebut membuat Twitter berada dalam status non-redundant karena data center di Atlanta dan Portland menjadi dua fasilitas yang masih beroperasi. Twitter mengatakan saat itu belum ada gangguan yang memengaruhi kemampuan pengguna untuk mengakses dan menggunakan platform, tetapi kehilangan satu data center tambahan berpotensi membuat perusahaan tidak mampu melayani seluruh trafik penggunanya.

    Gangguan tersebut terjadi ketika California dilanda gelombang panas panjang yang berlangsung hingga September. Sacramento mencatat suhu sekitar 116 derajat Fahrenheit atau 46,7 derajat Celsius, yang merupakan rekor tertinggi untuk wilayah tersebut. Kondisi panas ekstrem juga memberikan tekanan besar pada jaringan listrik California karena penggunaan pendingin udara meningkat, sehingga otoritas meminta masyarakat mengurangi konsumsi listrik pada jam-jam tertentu. Kasus Twitter menunjukkan bahwa dampak heatwave terhadap internet tidak harus langsung terlihat sebagai aplikasi yang down. Gangguan pada infrastruktur fisiknya saja sudah dapat mengurangi kemampuan sebuah platform untuk menghadapi gangguan berikutnya.

  5. 5. iiNet juga pernah tumbang di Australia

    iiNet
    iiNet (iinet.net.au)

    Fenomena ini bahkan sudah terjadi jauh sebelum ledakan kebutuhan komputasi AI. Pada Januari 2015, data center milik penyedia internet Australia iiNet di Perth mengalami gangguan ketika wilayah tersebut dilanda heatwave dengan suhu mencapai sekitar 112 derajat Fahrenheit atau 44 derajat Celsius. Saat itu, suhu tercatat sebagai yang tertinggi untuk Januari di wilayah tersebut sejak 1991. Bersamaan dengan kondisi panas ekstrem, beberapa unit pendingin udara di fasilitas tersebut mengalami kerusakan sehingga temperatur di dalam data center meningkat dengan cepat dan memaksa iiNet mematikan sebagian server sebagai langkah pencegahan.

    Gangguan yang dimulai sekitar pukul 16:30 waktu setempat tersebut berlangsung selama enam hingga tujuh jam dan membuat layanan email serta sejumlah situs korporat tidak dapat diakses. Meski begitu, sistem redundansi jaringan membuat sekitar 98 persen layanan broadband pelanggan tetap berfungsi. Kasus iiNet menunjukkan bahwa persoalan akibat panas ekstrem bahkan sudah menjadi tantangan bagi infrastruktur internet jauh sebelum kebutuhan komputasi AI berkembang seperti sekarang.

    Rangkaian kasus tersebut memperlihatkan pola yang cukup jelas. Google dan Oracle menghadapi masalah pendinginan di Inggris, Twitter kehilangan satu data center akibat panas ekstrem di California, iiNet pernah mengalami gangguan di Australia, dan AWS menghadapi overheating di Amerika Serikat pada 2026. Artinya, ancaman suhu ekstrem terhadap infrastruktur digital bukan lagi sekadar kemungkinan teoretis, tetapi sudah beberapa kali terjadi di berbagai negara dan periode waktu.

    Fenomena ini menjadi semakin penting karena dunia semakin bergantung pada layanan cloud dan pusat data. Ketika penggunaan AI dan layanan digital terus meningkatkan kebutuhan komputasi, jumlah panas yang harus dikelola oleh data center juga ikut bertambah. Pada akhirnya, menjaga sebuah aplikasi tetap online bukan hanya soal koneksi internet atau software, tetapi juga tentang kemampuan infrastruktur fisik menghadapi dunia yang semakin panas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More