ilustrasi konten media sosial (unsplash.com/Obi - @pixel8propix)
Satu hal yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa upaya melawan misinformasi tidak justru membuat informasi keliru semakin tersebar. Terkadang, pengguna merasa perlu membagikan ulang sebuah unggahan agar orang lain mengetahui bahwa isinya salah. Padahal, tindakan tersebut bisa membuat lebih banyak orang melihat narasi awal, termasuk mereka yang sebelumnya belum pernah menemukannya.
Sebelum membuat bantahan, periksa terlebih dahulu sumber informasi, tanggal publikasi, konteks foto atau video, dan dokumen yang mendasari klaim tersebut. Jika memungkinkan, gunakan sumber primer seperti pernyataan lembaga resmi, hasil penelitian, dokumen kebijakan, atau pemberitaan media kredibel. Jangan sampai konten tandingan hanya berisi tangkapan layar tanpa penjelasan atau justru mengulang klaim yang belum terbukti.
Brasil sendiri memiliki pengalaman dalam membangun sistem untuk menghadapi persoalan ini. Mahkamah Pemilihan Umum Brasil (Tribunal Superior Eleitoral atau TSE) membentuk program penanggulangan disinformasi dan kemudian mendirikan Integrated Center for Confronting Disinformation and Defending Democracy (CIEDDE) pada 2024. Pusat tersebut mengoordinasikan upaya lembaga pemerintah, otoritas pemilu, dan platform digital untuk menangani disinformasi serta konten berbahaya yang berkaitan dengan proses demokrasi.
Sementara itu, penelitian yang diterbitkan International Journal of Public Opinion Research pada 2024 menganalisis klaim misinformasi selama Pemilu Brasil 2022 yang beredar melalui WhatsApp, X, dan Kwai. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa karakteristik setiap platform memengaruhi jenis informasi yang beredar. Temuan ini memperlihatkan bahwa penanganan misinformasi membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada satu platform atau satu jenis konten.
Meladeni buzzer bukan berarti harus selalu membalas setiap unggahan. Ada kalanya respons terbaik yang bisa diusahakan adalah tidak memberikan perhatian, menyampaikan koreksi melalui jalur sendiri, dan memperkuat informasi yang benar. Sebab, dalam ekosistem media sosial yang digerakkan oleh perhatian (attention), pengguna juga punya kendali atas konten yang ingin mereka bantu sebarkan. Satu hal yang perlu diingat adalah jangan sampai kita justru memberikan panggung gratis kepada pihak yang sengaja mencari perhatian.