Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi stalking akun instagram (unsplash.com/Nathana Rebouças)
  • Pendukung Lula di Brasil mengarahkan jutaan anggota kanal WhatsApp agar tidak berinteraksi atau membagikan konten provokatif lawan, karena engagement dapat memperluas jangkauan algoritma.
  • Misinformasi tetap perlu diluruskan melalui unggahan mandiri berbasis data, kronologi, dan sumber tepercaya, tanpa mengulang provokasi atau menyerang identitas penyebarnya.
  • Pengguna dianjurkan memperkuat konten akurat dan terverifikasi; blokir serta laporan tetap diperlukan untuk pelecehan, ancaman, doxing, penipuan, atau intimidasi terkoordinasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menghadapi buzzer, akun provokatif, hingga mesin pembuat konten yang menyebarkan misinformasi di media sosial memang bisa menguras energi. Ketika menemukan unggahan yang memelintir fakta, mengalihkan isu, atau sengaja memancing emosi, reaksi spontan sebagian orang biasanya adalah langsung membalas, membantah, bahkan menyebarkannya kembali agar orang lain tahu bahwa informasi tersebut keliru. Padahal, tindakan itu justru berpotensi membuat konten yang ingin dilawan semakin ramai.

Ada pelajaran menarik dari Brasil yang bisa diterapkan dalam menghadapi fenomena tersebut. Dalam kampanye digital pendukung Luiz Inácio Lula da Silva pada Pemilu Presiden 2026, muncul strategi untuk tidak memberikan perhatian kepada konten kelompok sayap kanan yang provokatif. Sebaliknya, mereka diminta melewati konten tersebut dan memusatkan perhatian pada pesan yang ingin diperkuat.

Strategi ini berkaitan dengan gagasan don't feed the trolls atau jangan memberi makan para provokator. Lantas, bagaimana cara menerapkannya ketika menghadapi buzzer, misinformasi, dan konten pengalihan isu di media sosial? Berikut beberapa lesson learned yang bisa dipetik Indonesia dari pengalaman Brasil!

1. Jangan berikan engagement kepada konten provokatif

ilustrasi linimasa instagram (unsplash.com/Claudio Schwarz)

Langkah pertama adalah tidak memberikan perhatian kepada konten yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Misalnya, ketika menemukan akun yang berulang kali mengunggah narasi menyesatkan, menyerang seseorang, atau memelintir suatu peristiwa, tidak perlu buru-buru membalasnya. Hindari komentar panjang, mengutip unggahannya untuk mengejek, atau membagikannya kembali hanya untuk menunjukkan kekeliruannya.

Mengapa demikian? Algoritma media sosial menggunakan berbagai sinyal interaksi untuk menentukan konten yang direkomendasikan kepada pengguna lain. Sinyal tersebut tidak hanya berupa komentar positif, tetapi juga dapat mencakup waktu menonton, aktivitas berbagi, dan bentuk interaksi lainnya. Akibatnya, konten yang membuat orang marah sekalipun berpotensi memperoleh perhatian lebih luas.

Pelajaran ini terlihat dalam kampanye digital pendukung Lula di Brasil. Menurut laporan San pada 2 November 2026, melalui kanal WhatsApp yang memiliki sekitar 10 juta anggota, pendukung Lula diarahkan untuk tidak berinteraksi dengan konten kandidat sayap kanan Flávio Bolsonaro. Mereka bahkan diminta tidak membagikan unggahan lawan hanya untuk mengejeknya. Dari sini, dapat dipahami bahwa cuek bukan berarti tidak peduli terhadap persoalan publik, melainkan tidak memberikan panggung kepada konten yang sengaja memanfaatkan emosi pengguna.

2. Berikan bantahan atau konten tandingan tanpa berinteraksi langsung

ilustrasi seseorang menggunakan laptop untuk mencari referensi akademik (pexels.com/Eren Li)

Tidak memberikan engagement kepada akun provokatif bukan berarti membiarkan informasi keliru beredar begitu saja. Jika ada misinformasi yang perlu diluruskan, pengguna tetap bisa membuat bantahan atau konten tandingan. Bedanya, bantahan tersebut tidak harus disampaikan melalui kolom komentar akun yang menyebarkan informasi keliru.

Cara ini dapat dilakukan dengan membuat unggahan baru yang menjelaskan duduk perkara berdasarkan data dan sumber tepercaya. Misalnya, ketika beredar narasi bahwa pemerintah telah mengeluarkan kebijakan tertentu, padahal dokumen resminya belum menunjukkan hal tersebut, pengguna bisa membuat konten tersendiri berisi penjelasan, kronologi, dan tautan sumber primer. Artinya, masyarakat tetap mendapatkan informasi yang benar tanpa harus memperpanjang interaksi dengan akun penyebar narasi awal.

Pendekatan tersebut juga terlihat dalam mobilisasi digital pendukung Lula. Just Security menjelaskan bahwa kanal pendukungnya tidak hanya mengarahkan pengikut untuk menghindari konten lawan, tetapi juga merekrut pembuat konten untuk menjawab disinformasi dan menyampaikan pesan menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. Artinya, melawan narasi keliru tidak selalu harus dilakukan dengan mendatangi sumber provokasinya. Kita bisa membangun narasi tandingan melalui ruang sendiri.

Namun, konten tandingan sebaiknya tidak dibuat dengan mengulang provokasi atau menyerang identitas pihak yang menyebarkan informasi. Fokuskan pembahasan pada klaim yang keliru dengan menghadirkan data dan bukti pendukung. Misalnya, ketika sebuah akun menyebarkan klaim bahwa pemerintah telah mengesahkan kebijakan tertentu, pengguna tidak perlu menyerang akun tersebut dengan menyebutnya penyebar kebohongan. Sebaliknya, mereka bisa membuat konten tandingan yang membahas status kebijakan berdasarkan dokumen resmi. Misalnya "Benarkah Kebijakan Ini Sudah Disahkan? Berikut Fakta dan Dokumen Resminya"

3. Perbanyak dan naikkan konten yang benar

ilustrasi cek konten video melalui smartphone (pexels.com/Jonas Leupe)

Langkah berikutnya adalah tidak hanya sibuk membantah informasi keliru, tetapi juga memperbanyak konten yang benar. Yang dimaksud dengan konten benar di sini adalah informasi yang disusun berdasarkan fakta, memiliki sumber yang jelas, dapat diverifikasi, serta tidak menghilangkan konteks suatu peristiwa. Sebab, ruang digital tidak seharusnya hanya dipenuhi perdebatan antara pihak yang menyebarkan misinformasi dan orang-orang yang berusaha meluruskannya. Informasi akurat juga perlu mendapatkan perhatian agar bisa menjangkau lebih banyak pengguna.

Dalam kampanye digital Brasil, pendukung Lula tidak hanya diminta menghindari konten lawan. Mereka juga diarahkan untuk memperkuat konten yang didukung, seperti membagikan video, menggunakan tagar relevan, memberikan komentar substantif, dan menonton video sampai selesai. Strategi ini bertujuan memberikan sinyal kepada algoritma bahwa konten tersebut relevan dan layak mendapatkan perhatian lebih luas.

Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari cukup sederhana. Sebagai contoh, ketika menemukan konten yang menjelaskan suatu kebijakan berdasarkan dokumen resmi, pengguna bisa membantu menyebarkannya. Begitu pula ketika ada jurnalis, peneliti, lembaga pemeriksa fakta, atau organisasi masyarakat sipil yang menerbitkan klarifikasi berbasis data, unggahan tersebut bisa dibagikan agar menjangkau audiens yang lebih luas.

Contoh lainnya, ketika media sosial sedang ramai oleh narasi yang mengalihkan perhatian dari suatu persoalan, pengguna bisa ikut mengangkat kembali informasi yang relevan. Misalnya, membagikan kronologi kejadian, hasil investigasi media kredibel, dokumen resmi, atau perkembangan terbaru yang sudah terverifikasi. Maka dari itu, perhatian publik tidak hanya tersedot pada konten sensasional, tetapi juga diarahkan kepada informasi yang memiliki dasar kuat.

4. Mengapa tidak langsung memblokir atau melaporkan akun buzzer?

ilustrasi media sosial X (dulu Twitter) (unsplash.com/Claudio Schwarz)

Mungkin akan muncul pertanyaan, jika menemukan akun buzzer atau penyebar misinformasi, mengapa tidak langsung memblokir atau melaporkannya? Sebenarnya, kedua tindakan tersebut tidak keliru. Namun, memblokir dan melaporkan memiliki fungsi berbeda dari strategi mengurangi engagement. Memblokir akun memang bertujuan untuk membatasi interaksi akun tersebut dengan kita, tetapi tidak otomatis menghapus unggahannya dari platform atau menghentikan penyebarannya kepada pengguna lain.

Sementara itu, fitur report atau pelaporan ditujukan untuk memberi tahu platform bahwa suatu akun atau konten diduga melanggar ketentuan komunitas. Laporan tersebut dapat menjadi bahan peninjauan, tetapi tidak menjamin konten langsung dihapus. Jika konten hanya berisi opini yang tidak disukai, perbedaan pandangan, atau kritik yang masih diperbolehkan, belum tentu ada dasar untuk menghapusnya.

Karena itu, strategi dari Brasil lebih menekankan pengendalian perhatian dan pola interaksi, bukan menjadikan blokir atau report sebagai satu-satunya cara menghadapi konten provokatif. Meski begitu, jika akun melakukan pelecehan, ancaman, doxing, penipuan, atau intimidasi terkoordinasi, pengguna tetap perlu memblokir dan melaporkannya. Keselamatan dan keamanan pribadi harus didahulukan daripada strategi algoritma.

5. Jangan sampai terbersit untuk ikut menyebarkan misinformasi saat berniat membantah

ilustrasi konten media sosial (unsplash.com/Obi - @pixel8propix)

Satu hal yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa upaya melawan misinformasi tidak justru membuat informasi keliru semakin tersebar. Terkadang, pengguna merasa perlu membagikan ulang sebuah unggahan agar orang lain mengetahui bahwa isinya salah. Padahal, tindakan tersebut bisa membuat lebih banyak orang melihat narasi awal, termasuk mereka yang sebelumnya belum pernah menemukannya.

Sebelum membuat bantahan, periksa terlebih dahulu sumber informasi, tanggal publikasi, konteks foto atau video, dan dokumen yang mendasari klaim tersebut. Jika memungkinkan, gunakan sumber primer seperti pernyataan lembaga resmi, hasil penelitian, dokumen kebijakan, atau pemberitaan media kredibel. Jangan sampai konten tandingan hanya berisi tangkapan layar tanpa penjelasan atau justru mengulang klaim yang belum terbukti.

Brasil sendiri memiliki pengalaman dalam membangun sistem untuk menghadapi persoalan ini. Mahkamah Pemilihan Umum Brasil (Tribunal Superior Eleitoral atau TSE) membentuk program penanggulangan disinformasi dan kemudian mendirikan Integrated Center for Confronting Disinformation and Defending Democracy (CIEDDE) pada 2024. Pusat tersebut mengoordinasikan upaya lembaga pemerintah, otoritas pemilu, dan platform digital untuk menangani disinformasi serta konten berbahaya yang berkaitan dengan proses demokrasi.

Sementara itu, penelitian yang diterbitkan International Journal of Public Opinion Research pada 2024 menganalisis klaim misinformasi selama Pemilu Brasil 2022 yang beredar melalui WhatsApp, X, dan Kwai. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa karakteristik setiap platform memengaruhi jenis informasi yang beredar. Temuan ini memperlihatkan bahwa penanganan misinformasi membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada satu platform atau satu jenis konten.

Meladeni buzzer bukan berarti harus selalu membalas setiap unggahan. Ada kalanya respons terbaik yang bisa diusahakan adalah tidak memberikan perhatian, menyampaikan koreksi melalui jalur sendiri, dan memperkuat informasi yang benar. Sebab, dalam ekosistem media sosial yang digerakkan oleh perhatian (attention), pengguna juga punya kendali atas konten yang ingin mereka bantu sebarkan. Satu hal yang perlu diingat adalah jangan sampai kita justru memberikan panggung gratis kepada pihak yang sengaja mencari perhatian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article