Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Festival Budaya Unik di Jawa Timur yang Hanya Ada Setahun Sekali
Gandrung Sewu (pexels.com/neilstha firman)
  • Yadnya Kasada di Bromo menjadi ritual tahunan Suku Tengger, dengan persembahan hasil bumi, ternak, dan uang ke kawah sebagai wujud syukur serta permohonan keselamatan.
  • Banyuwangi dan Ponorogo menampilkan pertunjukan berskala besar: Gandrung Sewu melibatkan ribuan penari, sementara Festival Reog dan Grebeg Suro menghadirkan seni, ritual, pawai, serta teknologi visual.
  • Jember Fashion Carnaval memadukan parade kostum kreatif dan produk lokal, sedangkan Festival Ronthek Pacitan mengembangkan tradisi ronda sahur bambu menjadi pertunjukan tahunan yang melibatkan komunitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jawa Timur memiliki beragam festival budaya yang menghadirkan tradisi khas dari berbagai daerah. Beberapa di antaranya menampilkan pertunjukan seni dalam skala besar, sementara lainnya berangkat dari ritual yang telah berlangsung dari generasi ke generasi. Keberagaman tersebut membuat agenda festival di Jawa Timur tidak hanya berisi hiburan, tetapi juga memperlihatkan identitas budaya dari masing-masing daerah.

Sejumlah festival bahkan digelar setahun sekali dengan konsep yang berbeda satu sama lain. Ada perayaan yang berlangsung di kawasan Gunung Bromo, pertunjukan tari kolosal dengan latar Selat Bali, hingga festival musik yang berawal dari tradisi ronda sahur. Berikut lima festival budaya di Jawa Timur yang memiliki karakter unik dan menarik untuk masuk dalam agenda liburanmu ke sini.

1. Yadnya Kasada di Gunung Bromo

Yadnya Kasada (commons.wikimedia.org/Kadek Gita)

Yadnya Kasada merupakan upacara ritual tahunan yang diselenggarakan masyarakat Hindu Suku Tengger. Ritual ini berakar dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger serta dilaksanakan setiap tanggal 14 bulan Kasada berdasarkan penanggalan lunar Hindu tradisional Tengger. Prosesi dimulai pada malam hari di Pura Luhur Poten yang berada di kaki Gunung Bromo dan dilanjutkan menuju kawah menjelang fajar.

Daya tarik utamanya terletak pada prosesi persembahan yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tengger. Sesajen berupa hasil bumi, ternak, hingga uang dibawa menuju kawah Gunung Bromo sebagai wujud syukur serta permohonan keselamatan. Rangkaian tersebut memperlihatkan perpaduan antara tradisi masyarakat, spiritualitas, dan lanskap vulkanik Bromo dalam satu perayaan tahunan.

2. Gandrung Sewu di Banyuwangi

Gandrung Sewu (commons.wikimedia.org/Riedoak)

Gandrung Sewu merupakan festival tahunan tari kolosal di Banyuwangi yang menampilkan ribuan penari Gandrung. Festival ini telah digelar sejak 2012 di Pantai Boom dengan latar Selat Bali dan menjadi bagian dari rangkaian Banyuwangi Festival. Pertunjukannya dikemas dalam bentuk teatrikal dan menghadirkan Gandrung sebagai salah satu ikon budaya daerah.

Keunikan Gandrung Sewu terlihat dari skala pertunjukan yang melibatkan ribuan penari dalam formasi dan gerakan yang terkoordinasi. Pertunjukan ini juga melibatkan penari dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga penari senior. Rangkaian pertunjukan kemudian ditutup dengan tari massal Jejer Gandrung yang menjadi salah satu bagian yang menonjol dari festival tersebut.

3. Festival Nasional Reog Ponorogo dan Grebeg Suro

Grebeg Suro (commons.wikimedia.org/Danikristianw)

Festival Nasional Reog Ponorogo digelar bersamaan dengan Grebeg Suro sebagai salah satu perayaan budaya ikonik di Ponorogo. Rangkaian acaranya berlangsung selama satu bulan dan menampilkan pertunjukan dadak merak, ritual sakral, pawai budaya, serta kompetisi seni. Festival ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan tradisi Reog dengan keterlibatan generasi muda.

Grebeg Suro turut menghadirkan rangkaian acara yang memadukan unsur tradisional dengan penyajian yang lebih modern. Pembukaan Grebeg Suro 2025 menggunakan teknologi video mapping untuk menampilkan kisah sejarah Reog Ponorogo melalui film animasi. Rangkaian lainnya mencakup Kirab Pusaka dan Pawai Lintas Sejarah yang menampilkan arak arakan budaya menggunakan kereta kuda.

4. Jember Fashion Carnaval

Jember Fashion Carnaval (kemenpar.go.id)

Jember Fashion Carnaval atau JFC merupakan festival tahunan di Jember yang menghadirkan parade kostum dalam skala besar. JFC menampilkan parade sepanjang 3,6 kilometer dengan ribuan peserta dan memadukan seni tari, musik, teater, serta teknologi visual. Kostum yang ditampilkan mengambil inspirasi dari berbagai tema, mulai dari alam, tradisi, sejarah, hingga teknologi modern.

Selain parade utama, JFC memiliki sejumlah rangkaian acara seperti WACI, PETS Carnival, Artwear Carnival, World Kids Carnival, dan Grand Carnival. Selain itu, program One Village One Product menghadirkan produk unggulan dari 28 kecamatan di area acara. Kehadiran kostum kreatif dan produk lokal membuat JFC mempertemukan seni pertunjukan dengan potensi ekonomi kreatif daerah.

5. Festival Ronthek Pacitan

Festival Ronthek Pacitan (sidita.disbudpar.jatimprov.go.id)

Festival Ronthek Pacitan merupakan festival seni tradisional yang berasal dari tradisi ronda sahur Ramadan dengan menggunakan alat musik bambu bernama rontek. Festival ini pertama kali digelar pada 2011 dan berkembang dari sebuah perlombaan menjadi ajang budaya tahunan. Pertunjukannya memadukan rontek dengan gamelan, tari, dan musik tradisional.

Keunikan festival ini terletak pada bagaimana tradisi ronda sahur berkembang menjadi pertunjukan seni yang lebih besar. Pada 2026, Festival Ronthek juga dilengkapi Gelar Produk Ekraf dan UMKM serta membuka partisipasi bagi masyarakat umum, komunitas seni, dan sanggar dari berbagai daerah. Rangkaian tersebut membuat rontek menjadi bagian dari identitas budaya Pacitan yang dipertunjukkan dalam agenda tahunan.

Kelima festival tersebut memperlihatkan bentuk budaya Jawa Timur yang beragam. Masing-masing memiliki konsep dan latar budaya yang berbeda sehingga pengalaman yang ditawarkan juga tidak seragam. Karena digelar secara tahunan, festival-festival tersebut menjadi bagian dari agenda budaya yang dapat dipertimbangkan dalam perjalanan ke berbagai wilayah Jawa Timur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article