Empat Hari Menjelajah Catalonia, Magnet Barcelona hingga Pesona Girona

- Perjalanan empat hari menjelajahi Catalonia menampilkan keindahan budaya, sejarah, dan gastronomi dari Barcelona hingga Girona, termasuk kunjungan ke situs ikonik seperti Sagrada Familia dan kota tua abad pertengahan Besalu.
- Rombongan jurnalis Asia Tenggara menikmati pengalaman unik di berbagai destinasi bersejarah seperti Museum Joan Miro, Teater-Museum Salvador Dali, Kastil Peralada, serta situs arkeologi Yunani-Romawi Empuries.
- Petualangan ditutup dengan eksplorasi kota tua Girona dan kunjungan ke Palau de La Musica serta hotel legendaris Casa Fuster di Barcelona yang memadukan pesona klasik dan kemewahan modern.
APA yang bisa kamu lakukan kalau hanya punya waktu empat hari mengunjungi wilayah Catalonia di Spanyol? Menyambangi markas pemain bola idolamu dari FC Barcelona di Camp Nou? Berkunjung ke Sagrada Familia? Atau, menikmati pertunjukkan di Palau de La Musica? Tapi itu baru di Barcelona saja. Dan, Catalonia bukan sekadar Barcelona.
Wilayah di timur laut Spanyol itu memiliki cerita yang lebih dalam dan besar dari sekadar satu kota. Mulai dari kota tua berusia ratusan tahun, pegunungan, garis pantai Mediterania hingga tradisi gastronomi yang kuat.
Tetapi sebelum menjelajahi Catalonia, ada baiknya kamu mengenal terlebih dahulu tentang kawasan ini. Laman Catalunya.com menjelaskan, secara geografis Catalonia berbatasan dengan Prancis dan Andorra di bagian utara, Laut Mediterania di timur, serta Valencia dan Aragon di bagian lain Spanyol. Luasnya 32.107 kilometer persegi yang terbagi dalam empat provinsi utama, yakni Barcelona, Girona, Tarragona, dan LIeida. Populasinya sekitar 8 juta orang dan 67 persen dari populasi ini menetap di kota metropolitan, Barcelona. Dalam percakapan sehari-hari, selain bahasa Spanyol mereka menggunakan bahasa Catalan, yang sudah mengakar sebagai identitas budaya.
Sedikitnya ada 14 lokasi di Catalonia yang dinyatakan sebagai taman alam, seperti Taman Nasional Aiguestortes i Estany de Sant Maurici dan Gunung Monserrat. Ada juga Delta Ebre, salah satu area lahan basah terpenting di Mediterania, yang merupakan rumah bagi hingga 330 spesies burung atau setengah dari jumlah spesies burung di seluruh Eropa.
Meskipun memiliki wilayah yang cukup luas, akses antar lokasi di Catalonia sangat mudah dijangkau, baik melalui kendaraan pribadi maupun transportasi umum, seperti kereta api umum, regional, jarak jauh, atau pun jalur metropolitan khusus untuk Barcelona. Selain itu jaringan taksi dan bus antar kotanya juga bisa diandalkan. Untuk memudahkan perjalanan dan tidak tersesat, sebelum memulai petualangan, kamu bisa mengunduh peta jalan seluruh wilayah Catalonia dari situs web Institut Kartologi dan Geologi Catalonia: www.icgs.cat.
Dalam perjalanan selama empat hari 27-30 April 2026 lalu atas undangan Singapore Airlines yang bekerjasama dengan Catalunya Tourism Board, IDN Times berkesempatan melihat lebih dekat sisi lain Catalonia. Rombongan kami terdiri dari lima jurnalis, yakni dua jurnalis dari Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Filipina.
Perjalanan dimulai dari Barcelona yang dinamis dan berakhir di Girona dengan kota tuanya yang seolah membawa kita kembali ke masa lalu, hingga menikmati berbagai pengalaman budaya dan gastronomi khas wilayah ini. Dengan jadwal yang padat, meski singkat, empat hari terasa cukup untuk memahami bahwa Catalonia bukan hanya sebuah destinasi, tetapi juga kumpulan cerita yang hidup dalam setiap sudutnya.
Yuk, kita mulai petualangannya!
Hari ke-1: Jejak Familia Torres di industri wine dunia, Sagrada Familia hingga makan malam La Plassohla

Kami tiba di Bandara Josep Tarredellas Barcelona el Prat, Senin 27 April 2026, sekitar pukul 06.55 pagi waktu setempat (di Jakarta 5 jam lebih cepat) setelah menempuh perjalanan 13 jam 20 menit melalui penerbangan langsung Singapura-Barcelona. Rampung mengurus bagasi, dari bandara minibus membawa rombongan menuju perkebunan anggur dan pembuatan wine terkenal di Spanyol, Familia Torres. Lokasi perkebunan dan pembuatan anggur ini berada di wilayah Vilafranca del Penedes, Barcelona, sekitar 45 menit dari bandara.
Turun dari minibus, pemandangan indah perkebunan anggur Familia Torres (Keluarga Torres) dan angin musim semi langsung menyapa. Sejuk dengan dingin yang sedikit menggigit.

Selama lebih dari satu abad, keluarga Torres berhasil menjaga tradisi pembuatan anggur yang jejaknya telah dimulai sejak abad ke-16. Kini, warisan tersebut dikelola oleh generasi kelima di bawah kepemimpinan Miguel Torres Maczassek. Nama keluarga ini juga menjadi bagian dari Primum Familiae Vini, asosiasi eksklusif yang beranggotakan 12 keluarga pembuat anggur tertua dan paling bergengsi di dunia.
Jejak keluarga Torres sebagai petani anggur bermula sejak tahun 1559, namun tonggak penting baru dimulai pada 1870, ketika dua bersaudara, Jaime dan Miguel Torres Vendrell, mendirikan kilang anggur di Vilafranca del Penedes. Dari sana, bisnis keluarga berkembang melampaui Penedes menuju berbagai wilayah penghasil wine ternama di Spanyol, seperti Rioja, Ribera del Duero, Rueda, dan Rías Baixas, bahkan hingga Chili dan California. Kuba tercatat menjadi negara pertama tujuan ekspor wine mereka, sebelum akhirnya anggur Torres menjelajah berbagai belahan dunia.
Namun keluarga Torres tidak hanya dikenal karena menghasilkan wine berkualitas. Inovasi juga menjadi bagian dari identitas mereka. Salah satu upaya terbesarnya adalah menemukan kembali varietas anggur kuno yang berhasil bertahan dari wabah phylloxera pada akhir abad ke-19, penyakit yang sempat menghancurkan kebun anggur di Eropa. Melalui penelitian panjang dan metodologi yang ketat, generasi kelima keluarga Torres kini telah mengembangkan lebih dari 60 varietas anggur, menghasilkan karakter rasa yang unik sekaligus menjaga warisan leluhur tetap hidup.

Seiring meningkatnya tantangan perubahan iklim, keluarga Torres juga memperkuat komitmennya terhadap lingkungan. Pada 2008, mereka meluncurkan program Torres & Earth, sebuah inisiatif untuk mengurangi jejak karbon sekaligus beradaptasi dengan realitas iklim baru. Upaya tersebut berhasil menurunkan emisi karbon per botol hingga 37 persen di seluruh rantai produksi antara tahun 2008–2023. Target berikutnya bahkan lebih ambisius: menurunkan emisi hingga 60 persen pada 2030 dan mencapai status Net Zero pada 2040.
Bukan hanya itu. Pada tahun 2021, keluarga Torres mulai menerapkan praktik budidaya anggur regeneratif di sejumlah kebun ikonik mereka seperti Mas La Plana, Mas de la Rosa, dan Milmanda. Hingga kini, lebih dari 600 hektar lahan telah menerapkan metode tersebut. Fokusnya bukan sekadar menanam anggur, melainkan menghidupkan kembali ekosistem tanah dengan meniru cara kerja alam. Semakin sehat tanah, semakin besar kemampuannya menyerap karbon dari atmosfer dan membantu menekan peningkatan suhu bumi.

Tidak hanya beradaptasi dengan perubahan iklim, keluarga Torres juga melihat perubahan lain yang mulai membentuk industri wine: pergeseran perilaku konsumen. Generasi muda kini semakin memperhatikan gaya hidup sehat dan konsep mindful drinking atau “minum dengan bijak”. Mereka cenderung lebih sadar terhadap konsumsi alkohol, mencari pilihan yang lebih ringan, atau bahkan memilih minuman tanpa alkohol sama sekali.
Melihat perubahan tersebut, keluarga Torres mulai memikirkan bagaimana menghadirkan pengalaman menikmati wine tanpa harus mengorbankan gaya hidup yang lebih sehat. Dari sinilah lahir Natureo, merek wine non-alkohol pertama di Spanyol, yang kini hadir dalam berbagai varian seperti Muscat, Chardonnay, Rosé, Red, Sparkling, dan Sparkling Rosé. Produk ini berkembang pesat dan menjadi salah satu lini bisnis yang paling menjanjikan bagi perusahaan.
Menariknya, lahirnya Natureo berawal dari kisah personal di dalam keluarga. Saat mengandung anak pertamanya, Mireia Torres Maczassek mulai bertanya-tanya, apakah perempuan hamil tetap bisa menikmati segelas wine tanpa kandungan alkohol. Ia kemudian meyakinkan ayahnya, Miguel Agustín Torres Riera, untuk mengeksplorasi ide tersebut. Melihat kegigihan putrinya, sang ayah justru memberikan tantangan: ciptakan wine non-alkohol yang tetap mempertahankan karakter rasa seperti wine asli. Setelah melalui proses pengembangan selama tiga tahun sejak 2004, Natureo resmi diluncurkan pada 2008.

Keterbukaan keluarga Torres terhadap inovasi juga tercermin melalui pengalaman yang mereka tawarkan kepada publik. Sejak 1992, mereka membuka kesempatan bagi wisatawan untuk menjelajahi dunia wine dan gastronomi secara langsung di perkebunan Penedès. Dengan biaya mulai dari 39 euro untuk peserta dewasa, pengunjung dapat menikmati pengalaman yang membawa mereka lebih dekat dengan sejarah dan proses di balik setiap botol wine.
Di perkebunan seluas 29 hektar tersebut—yang sejak tahun 1964 ditanami Cabernet Sauvignon untuk menghasilkan Mas La Plana, salah satu wine merah ikonik Torres—pengunjung dapat menyaksikan proses pembuatan wine, mengunjungi museum keluarga, hingga mencicipi berbagai jenis wine dengan pendampingan para ahli.
Pengalaman ini terasa semakin lengkap dengan kehadiran El Celleret, restoran yang menyajikan hidangan khas Mediterania menggunakan bahan-bahan lokal pilihan. Dari sini, pengunjung dapat menikmati panorama Gunung Montserrat yang menjulang di kejauhan. Sementara itu, perjalanan kereta bertenaga surya membawa wisatawan melintasi kebun anggur regeneratif menuju Waltraud Winery, bangunan yang dirancang arsitek Javier Barba.

Waltraud Winery menghadirkan perpaduan menarik antara sejarah, arsitektur, dan keberlanjutan. Bangunan tiga lantai tersebut memanfaatkan pasir pantai di atas ruang penyimpanan barel untuk menciptakan efek albedo—kemampuan permukaan memantulkan kembali sinar matahari—serta menggunakan guci damajuana sebagai elemen dekoratif yang memperkuat identitasnya. Di tempat inilah berbagai wine dari perkebunan bersejarah Penedès dan Conca de Barberà dihasilkan.
Tidak jauh dari sana, pengunjung juga dapat melihat jejak inisiatif Torres & Earth yang menjadi bagian penting perjalanan keberlanjutan keluarga ini. Tentu saja, pengalaman seperti ini sulit diselesaikan hanya dalam waktu satu jam. Sedikitnya kami menghabiskan hampir tiga jam untuk menikmati seluruh rangkaian tur. Namun percayalah, waktu yang dihabiskan terasa sepadan dengan pengetahuan baru, pengalaman, dan kenikmatan yang didapat.
Tujuan kedua di hari pertama adalah Sagrada Familia, bangunan ikonik di tengah kota Barcelona yang dibangun 144 tahun lalu (1882) oleh Fransisco de Paula del Villar dengan mengikuti pedoman yang berlaku pada masa itu, elemen neo-Gotik, di mana jendelanya berbentul ogival, penopang, penopang terbang, dan menara lonceng runcing. Pada 1883, Antoni Gaudi mengambil alih pembangunan basilika ini. Saat itu ia baru berusia 31 tahun. Gaudi lalu mengubah desainnya menjadi perpaduan unik antara gaya Gothic dan Art Nouveau. Bangunan ini menjadi mahakarya Gaudi dan sampai sekarang masih dalam proses pembangunan.
Berbeda dengan arsitektur Gothic yang cenderung gelap dan berat, Gaudi menghadirkan nuansa hidup dan organik pada desain Sagrada Familia. Karya Gaudi dipenuhi garis melengkung alami serta bentuk yang terinspirasi dari alam, seperti tumbuhan dan bunga. Hal ini terlihat jelas pada detail fasadnya, termasuk ornamen buah-buahan berwarna-warni yang melambangkan musim, hasil bumi Catalonia, serta simbol spiritual.

Gaudi meninggal pada 1926 secara tragis. Pada tahun 1969, tujuh belas karyanya dinyatakan sebagai Monumen Artistik Sejarah yang Bernilai Budaya oleh Kementerian Kebudayaan Spanyol. Pada tahun 2005, bersamaan dengan Casa Vicens dan Casa Batlló, di Barcelona, dan ruang bawah tanah di Colònia Güell, di Santa Coloma de Cervelló, fasad Kelahiran dan ruang bawah tanah Kuil Penebusan Sagrada Família dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia. Semua elemen ini dikelompokkan bersama dalam daftar UNESCO yang disebut "Karya Antoni Gaudí".
Bagi turis, belum sah ke Barcelona kalau belum berkunjung ke Sagrada Familia. Setiap harinya bangunan gereja ini dikunjungi antara 13.500 hingga 16.000 orang. Tahun 2025 jumlah turis yang berkunjung tercatat lebih dari 4,8 juta. Pengunjung terbanyak berasal dari Amerika Serikat, disusul Tiongkok, Italia, Prancis, Korea Selatan, Inggris dan Jerman. Untuk masuk ke basilika, pengunjung bisa membayar 26 Euro sampai 30 Euro. Pendapatan dari tiket masuk ini digunakan untuk kelanjutan pembangunan yang sampai hari ini masih berlangsung.

Hari pertama ditutup dengan mengunjungi Ohla Barcelona, hotel ikonik di jantung kota yang memiliki roof-top dengan pemandangan indah kota Barcelona. Hotel ini juga disebut 'hotel mata' karena memiliki fasad yang unik, dengan ornamen 1.000 bola mata keramik.

Penciptaan karya ini berawal ketika arsitek hotel, Daniel Isern, mendekati pematung terkenal Frederic Amat dengan visi yang unik: membuat bangunan tersebut menonjol di tengah kemegahan arsitektur Via Laietana. Jalan ini memang dikenal dengan bangunan-bangunannya yang elegan dan kaya karakter. Lalu Amat merespons dengan menciptakan 'dialog visual' antara tamu dengan kehidupan kota Barcelona yang ramai. Para tamu seolah memandang keluar dari jendela mereka, sementara orang-orang yang terpikat fasad hotel akan membayangkan kisah-kisah di dalamnya.

Ohla Barcelona juga mengadopsi patung karya Samuel Salcedo yang ditempel di dinding dalam hotel untuk menciptakan narasi bisu, mengundang para tamu untuk menafsirkan emosi dan cerita di dalamnya. Hotel ini dilengkapi dengan roof-top yang mampu merekam pemandangan kota dari atas. Dari atap ini, pengunjung bisa melihat kemegahan Katedral Barcelona.

Desain Ohla Barcelona berbeda dengan Ohla Eixample yang menjadi lokasi menginap kami. Fasad Ohla Eixample lebih banya menonjolkan elemen keramik vertikal dan horizontal untuk menghasilkan efek unik. Berkat kolaborasi antara arsitek proyek Daniel Isern, seniman keramik Toni Cumella, dan Institut Arsitektur Lanjutan Catalonia, sebuah algoritma dikembangkan untuk mengontrol lengan robot yang mengukir setiap bagian keramik. Algoritma ini didasarkan pada reinterpretasi Max Richter terhadap Empat Musim karya Vivaldi. Setiap bagian mewakili delapan detik musik.

Di hotel ini, kami mendapat kesempatan wisata gastronomi dengan mencicipi makan malam di restoran La Plasshola yang bisa menampung 60 pengunjung. Hidangan yang disajikan dalam bentuk tapas dan hidangan kecil untuk berbagi, antara lain kroket udang, paprika padron, steak tartar klasik, tataki tuna sirip biru, apel titan dengan es krim vanila, dan truffle coklat hitam. Masakan diracik dengan kreativitas tinggi dengan mengeksplorasi beragam estetika gastronomi.
Terletak di lantai dasar Ohla Barcelona, restoran ini memiliki ruang terbuka dan santai dengan jendela besar yang menghadap Carrer Comtal dan Via Laietana, memungkinkan para tamu untuk menikmati ritme dan energi kota yang terbentang di luar.
Hari ke-2: Museum Joan Miro, melongok dapur Chef Jubany hingga desa abad pertengahan Besalu

Di hari kedua, 28 April 2026, kami mempersiapkan diri menjelajahi sejumlah destinasi menarik. Pukul 09.30 waktu setempat kami meninggalkan Ohla Eixample, tempat kami menginap, menuju Calldentes, Costa Brava. Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Namun dalam perjalanan kami menyempatkan diri mengunjungi Museum Joan Miro, salah satu seniman terkenal asal Catalonia yang berada di kawasan perbukitan Parc de Montjuïc, Barcelona, Spanyol.
Museum yang didirikan Yayasan Joan Miro ini buka hampir setiap hari dengan harga tiket sekitar Rp350 ribu. Pengunjungnya mulai dari anak-anak sekolah hingga orang dewasa.

Joan Miro (1893–1983) adalah pelukis, pematung, dan perajin keramik. Sebagai salah satu seniman paling berpengaruh dalam seni abad ke-20, ia sangat terkenal karena gaya surealisnya yang menggabungkan bentuk-bentuk abstrak, fantasi seperti mimpi, dan motif kekanak-kanakan. Kamu bisa melihat karya-karyanya yang luar biasa di sini: bentuk-bentuk abstrak yang berputar, bagian tubuh yang melayang, dan hewan-hewan yang terdistorsi. Miro tidak hanya menuangkan karyanya di atas kanvas, tetapi juga dalam bentuk cetakan, patung, dan keramik hingga kaca patri, desain panggung, bahkan permadani. Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk menikmati karya-karyanya.

Kami meninggalkan Parc de Montjuïc pukul 11.30 waktu setempat dan melanjutkan perjalanan menuju restoran yang dikelola Chef Nandu Jubany di kawasan Calldetens. Nandu Jubany merupakan chef Catalan pertama yang bekerjasama dengan Singapore Airlines sebagai guest chef. Restorannya 'Can Jubany' berdiri sejak 1995 di atas tanah pertanian tradisional keluarga. Hanya butuh tiga tahun, Can Jubany berhasil memperoleh bintang satu dari Michellin.
Restoran berkapasitas 50 kursi ini menyajikan masakan tradisional berkualitas dan modern yang brilian. Inilah salah satu alasan SIA memilih Chef Nandu, karena ia mampu menggabungkan inovasi modern dengan akar tradisi Catalan yang kuat. Nandu yang sudah menjadi chef sejak usia 18 tahun mengelola restoran itu bersama istrinya, Anna Orte.

Restoran Can Jubany buka Selasa sampai Sabtu. Untuk hari kerja, tamu membutuhkan reservasi 1-1,5 bulan sebelumnya. Sedangkan pada hari Sabtu wajib reservasi enam bulan sebelumnya. Tapi percayalah, masa tunggu ini sepadan dengan apa yang kamu bisa nikmati di restoran ini. Menu-menu pembuka hingga penutup yang luar biasa memanjakan lidah. Sudah siap reservasi?

Setelah 3,5 jam di restoran Can Jubany, kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi wajib jika kamu ke Catalonia, yakni desa abad pertengahan, Besalu. Desa ini tepatnya ada di kawasan La Garrotxa. Desa ini terkenal dengan jembatan Romawi abad ke-12 yang ikonik, gang-gang berbatu, dan warisan sejarah Yahudi. Selain untuk menahan aliran Sungai Fluvia, jembatan ini juga merupakan benteng pertahanan di masanya.

Meski sempat hancur akibat perang saudara, kondisi Besalu kini sangat terawat. Terletak tidak jauh dari garis pantai Costa Brava, Besalu merupakan ibu kota pada abad ke-10 dan ke-11 dari sebuah wilayah independen yang membentang hingga ke barat sampai kota Cerdanya sebelum berada di bawah kendali Barcelona pada tahun 1111 M.
Desa ini memiliki warisan Yahudi dan Katolik, termasuk tiga gereja Romawi, dua komunitas yang hidup bersama dalam damai hingga orang Yahudi diusir pada tahun 1492. Yang paling indah dari semuanya adalah pemandangan fantastis desa di seberang jembatan berbenteng abad ke-11 yang berkelok-kelok yang melintasi sungai.

O ya, di desa ini juga masih terdapat Mikve (pemandian ritual Yahudi) yang dibangun pada abad ke-12 . Pemandian ini merupakan salah satu dari sedikit pemandian ritual bergaya Yahudi yang tersisa di Eropa. Bagi penganut Yahudi di Besalu, setidaknya sekali dalam hidup mereka melakukan ritual di pemandian ini.
Perjalanan hari kedua, ditutup dengan makan malam di Hotel Torremirona Golf Resort. Saya memesan Bacalla dari ikan kod yang dimasak ala Catalonia.
Hari ke-3: Pesona Salvador Dali, Peralada Castle, reruntuhan kuno Yunani-Romawi hingga gastronomi La Miranda

Jangan lewatkan Teater Museum Salvador Dali jika kamu mengunjungi Catalonia. Museum Dali dibangun di atas reruntuhan bekas Teater Kota Figueres, yang digagas dan dirancang sendiri oleh sang seniman. Diresmikan tahun 1974, Teater-Museum Dali adalah rumah bagi koleksi karya sang seniman terlengkap di dunia. Pengunjung bisa mempelajari karier Dali, dari pengalaman kreatifnya yang paling awal dan kreasi surealis ikoniknya hingga karya-karya di tahun-tahun terakhir hidupnya.

Kamu bisa menggunakan jasa pemandu untuk mendalami karya-karya Dali. Seperti para seniman besar Renaisans, karya kreatif Salvador Dali mencakup berbagai bidang. Meskipun ia dikenal sebagai salah satu pelukis hebat abad ke-20, ia juga unggul dalam seni patung dan karya tiga dimensi, menggambar dan seni grafis, bahkan film dan mode. Selain itu, ia juga seorang penulis yang produktif, khususnya esai dan novel. Singkatnya, Salvador Dali adalah seniman serba bisa yang meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam sejarah seni abad ke-20.

Membahas Dali, belum afdol jika belum membahas Gala, sang istri. Karya-karya Dali sangat dipengaruhi Gala. Bahkan, Gala tidak hanya menjadi istri tetapi juga inspirasi utama, model, dan manajer bisnisnya. Banyak kritikus seni meyakini bahwa kesuksesan dan karier Dali tidak akan sebesar itu tanpa dukungan Gala.
Wajah dan sosok Gala sering muncul dalam berbagai lukisan Dali, terkadang secara langsung sebagai subjek atau disembunyikan sebagai ilusi optik. Rasa cinta Dali kepada Gala banyak tertuang dalam karya-karyanya yang lain.

Dali sangat bergantung pada Gala secara emosional. Kehadiran Gala membantu menyalurkan dan mengendalikan imajinasi liar serta obsesi surealis Dali menjadi karya seni yang nyata.
Setiap karya Dali mengundang rasa ingin tahu, memprovokasi setiap orang untuk berpikir. Bahkan merenungkan bahwa sekeranjang roti bukan sekadar roti, tetapi melambangkan bahwa seni dimaksudkan untuk memberi makan semua orang, juga lukisan yang dibuatnya pada tahun 1972 dengan "When It Falls, It Falls". Ini membuat sedikit merinding, di mana angka-angka jam yang meleleh pada lukisan tersebut diyakini sebagai ramalan atas kematiannya.

Selepas dari Museum Teater Salvador Dali, kami mengunjungi Peralada Castle (Kastil Peralada) yang berada di jantung desa kecil Alt Empordà. Peralada sekilas tampak seperti kastil Renaisans Prancis, namun sebenarnya Peralada adalah benteng abad pertengahan dengan sejarah yang membentang hingga abad ke-13. Tahun 1870-an keluarga Rocaberti, mengubah menara utama abad pertengahan ini menjadi salah satu rumah megah paling mewah di Catalonia.
Kastil Peralada dibangun pada 1285. Selama berabad-abad berikutnya, kastil ini berfungsi sebagai kediaman para Pangeran Peralada yang berkuasa, berpindah tangan melalui beberapa keluarga bangsawan sebelum keluarga Rocaberti melakukan renovasi besar-besaran pada abad ke-19.
Saat ini, kastil tersebut menyimpan koleksi yang luar biasa. Museum Kaca yang memiliki lebih dari 4.000 koleksi, mulai dari bejana Romawi hingga karya seni kaca Katalan modern. Museum Kartu Remi adalah salah satu yang terbaik di dunia, dengan koleksi kartu langka yang berasal dari abad ke-15. Perpustakaan yang menyimpan sekitar 80.000 jilid buku, termasuk lebih dari 1.000 edisi Don Quixote, salah satu koleksi terbesar di dunia. Kastil ini dibuka untuk umum dengan harga tiket 10-15 Euro.

Peralada juga memiliki perkebunan anggur seluas 450 hektar dan tempat pembuatan wine sejak abad pertengahan, salah satu yang terbesar di Catalonia. Peralada menggabungkan teknologi paling modern untuk menciptakan anggur yang memanfaatkan tanah dan tanaman anggur Emporda. Kami mendapat kesempatan mengunjungi tempat penyimpanan anggur bawah tanahnya yang memanfaatkan teknologi modern.
Peralada mulai terhubung dengan dunia anggur pada 1647, di mana terdapat catatan transaksi pertama dari salah satu kilang anggurnya, Chivite. Keluarga Suque Mateu , pemilik Perelada & Chivite , berupaya mempertahankan identitas dari berbagai daerah penghasil anggur.
Hubungan langsung keluarga ini dengan dunia anggur berawal dari sosok Miguel Mateu , yang pada tahun 1923 membeli Kastil Perelada. Salah satu harapan utama mereka adalah untuk menghidupkan kembali tradisi pembuatan anggur yang berasal dari abad keempat belas, ketika para biarawan Karmelit yang tinggal di biara yang terhubung dengan kastil tersebut sudah memproduksi anggur berkualitas tinggi yang mereka pasok ke seluruh wilayah. Saat ini kendali perusahaan berada di tangan Javier Suque, sang cucu.
Di Peralada kami mendapat kesempatan mencicipi aneka jenis wine yang mereka produksi dan menikmati gastronomi dari chef andal mereka, antara lain sup lentil berempah.

Dari Kastil Peralada, kami menuju destinasi bersejarah lainnya, yakni reruntuhan bangunan kuno peninggalan Yunani dan Romawi yang berada di situs arkeologi Empuries. Situs ini terletak di L'Escala, Semenanjung Iberia, Costa Brava, yang menjadi satu-satunya jejak bahwa koloni Yunani (Emporion) dan kota Romawi (Emporiae) pernah hidup berdampingan secara damai.
Sejarah mencatat kota ini didirikan para pedagang Yunani pada 575 SM yang kemudian direbut dan diperuas oleh Kekaisaran Romawi. Situs ini terdiri dari dua bagian, yakni Neapolis (Yunani) yang saat ini sisa-sisa tembok kota, pemukiman, dan tempat suci dewa Asklepios dan Zeus masih bisa dilihat.
Bagian lainnya disebut Romana atau Romawi, di mana menampilkan tata kota bergaya Romawi, sisa-sisa forum, amfiteater, pemandian umum, dan vila-vila dengan lantai mozaik yang masih terpelihara dengan baik. Untuk menjaga kualitas mozaik, di musim-musim tertentu pengelola akan menutup rapat lantai untuk menghindari kerusakan.
Tidak hanya meninggalkan jejak bangunan, peradaban ini juga meninggalan jejak gastronomi. Wilayah ini dikenal dengan area pabrik pengasinan. Bangsa Romawi memproduksi garum, saus dari jeroan ikan yang menjadi penyedap rasa utama sebelum garam populer. Garum bisa ditemui di beberapa toko-toko di kawasan sekitar Costa Brava dengan harga antara 5-10 Euro.

Menikmati hidangan makan malam di restoran La Miranda menjadi penutup perjalanan kami di hari ketiga. Restoran ini terletak di sebuah bangunan yang sangat unik di jalan paling bersejarah dan ramai di Girona, Catalonia. Bangunannya dirancang dengan menghormati dan memulihkan elemen arsitektur aslinya, penuh detail dan elemen botani. Dindingnya masih terlihat alami dengan tumpukan batu dan bata tua tanpa plester dengan sentuhan modern.
Memasuki restoran suasana terlihat santai namun berkelas. Kami memilih kursi di sudut ruangan dengan jendela bawah tanah. Dari jendela ini kami bisa menyaksikan para pejalan kaki yang melintas.
Hari ke-4: Mengunjungi kota tua Girona, Palau de La Musica di Barcelona, dan hotel ikonik Casa Fuster

Hari terakhir di Catalonia, kami menghabiskan waktu di dua tempat, Girona dan Barcelona. Jangan pernah melewatkan lawatan ke kota tua Girona, jika kamu tidak mau menyesal. Kota ini meninggalkan jejak abad pertengahan yang sangat terawat dengan labirin jalan berbatu dan arsitektur bersejarahnya. Sambil menelusuri jalan berbatunya, kamu bisa membayangkan bagaimana ribuan tahun lalu orang-orang berjalan di jalan yang sama. Jalan di kota tua ini menjadi penghubung Spanyol dengan wilayah Eropa Barat. Karena setiap orang dari Eropa Barat yang ingin ke Spanyol harus melalui jalan setapak ini.
Di kawasan ini terdapat Katedral Girona yang dibangun pada abad ke-15. Katedral bernuansa gotik ini merupakan katedral terluas di dunia dan terkenal sebagai latar Sept of Baelor dalam Game of Thrones. Tidak heran jika setiap tahunnya turis membludak di kawasan ini, dan terus meningkat sejak dipakai sebagai lokasi syuting Game of Thrones.
Selain jejak abad pertengahan, Girona juga menyimpan sejarah Arab yang terlihat di wilayah Rambla. Di Girona juga terdapat Plaza Independent, yang menandai berakhirnya serangan Prancis ke Spanyol pada abad ke-19.
Kini Girona dikenal sebagai menjadi rumah bagi ratusan pembalap WorldTour, atlet triathlon, dan penggemar sepeda. Jadi jangan heran jika kamu menemui sejumlah atlet profesional. Kontur wilayah ini dinilai memiliki kombinasi sempurna buat mereka, yakni medan latihan yang sangat bervariasi mulai dari tanjakan Pegunungan Pyrenees hingga jalur datar pesisir, kondisi jalanan yang mulus dan sepi, cuaca Mediterania yang hangat sepanjang tahun, serta kultur komunitas yang mendukung gaya hidup atlet.

Puas mengelilingi Girona, siang harinya kami kembali ke Barcelona. Rombongan memiliki dua pilihan, menikmati waktu bebas atau berkunjung ke Palau de La Musica. Saya memilih yang kedua. Palau de La Musica berada di tengah kota. Tiket masuknya dibanderol sekitar Rp400 ribuan.
Auditorium Palau de La Musica Catalana adalah contoh mengagumkan dari arsitektur modernis. Dinding-dinding kaca patri, ukiran indah, warna-warni cerah, dan seni instalasi kaca berbentuk tetesan air di langit-langit menjadikannya salah satu atraksi terpopuler di Barcelona.
Palau de La Musica ditetapkan sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO. Berada di kawasan La Ribera, gedung ini dibangun dari 1905 hingga 1908 untuk paduan suara Orfeo Catala. Strukturnya dirancang arsitek Lluis Domenech i Montaner. Banyak seniman dan pengrajin kenamaan, seperti pelukis, pematung, dan seniman kaca patri dan mozaik, terlibat dalam pembangunan desain unik ini. Lantainya berpola bunga-bunga, begitu pula dengan tiang-tiangnya.

Hotel Casa Fuster menjadi persinggahan kami di hari terakhir lawatan ke Barcelona. Kami tidak bermalam di hotel legendaris ini. Namun sayang jika melewatkan sejarah lawas Casa Fuster. Kami disambut Amparo Palacin Colldecarrera, International Sales Manager Casa Fuster Hotel.
Amparo menjelaskan, hotel ini dirancang oleh arsitek legendaris Lluis Domenech i Montaner. Dibangun pada tahun 1908 sebagai simbol cinta Mariano Fuster untuk istrinya. Namun tingginya biaya pemeliharaan membuat keluarga Fuster pindah pada awal 1920-an. Bangunan ini lalu dibeli Jaume Ymbern Fort pada tahun 1922, di mana lantai dasar diubah menjadi Cafe Vienes, tempat berkumpulnya para seniman dan kaum elit.
Pada tahun 1962, sebuah perusahaan energi sempat berencana menghancurkan gedung ini untuk dibangun gedung pencakar langit, namun berhasil diselamatkan karena penolakan keras dari masyarakat. Bangunan ini lalu diakuisisi jaringan Hoteles Center pada tahun 2000 dan menjalani restorasi besar-besaran. Pada tahun 2004, Casa Fuster resmi dibuka kembali sebagai hotel mewah bintang lima yang memadukan pesona klasik dan fasilitas modern. Namun tangga yang menjadi pintu masuk utama saat gedung pertama kali dibangun masih dipertahankan hingga saat ini.
Casa Fuster juga memiliki roof-top yang sangat terkenal dengan pemandangan kota yang indah.

Amparo juga menemani kami menikmati hidangan makan malam khas Catalan dengan makanan pembuka sayuran panggang coca dengan anchovy dan carpaccio ikan kod dengan saus romesco, zaitun hitam, dan escarole. Sedangkan menu utamanya daging sapi muda fricando dengan jamur dan pure kentang panggang pedesaan. Dagingnya sungguh empuk dan langsung lumer di mulut. Hidangan ditutup dengan cream catalana dengan biskuit yang renyah.
Bagaimana? Kamu siap menjelajah Catalonia?



















