Al-Balad Jeddah, Saksi Haru Perjuangan Jemaah Haji Nusantara

- Al-Balad di Jeddah menjadi gerbang maritim utama jemaah haji sejak abad ke-7 M, berperan penting sebagai pusat pertemuan budaya dan spiritual lintas bangsa termasuk dari Nusantara.
- Pada awal abad ke-20, kawasan ini berkembang sebagai melting pot intelektual Islam, tempat tokoh-tokoh seperti KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari menyerap gagasan pembaruan keislaman.
- Saat ini Al-Balad tetap hidup dengan proyek pemugaran besar, mempertahankan lebih dari 600 bangunan bersejarah serta menjadi simbol kesinambungan sejarah, spiritualitas, dan modernitas Jeddah.
Jeddah, IDN Times - Terletak di jantung kota pesisir Jeddah, Arab Saudi, Al-Balad bukan sekadar tumpukan bangunan kuno. Ia adalah saksi perjalanan epik para tamu Allah dari berbagai belahan bumi yang menjejakkan kaki pertama kali di Tanah Suci, jauh sebelum raungan mesin pesawat membelah angkasa.
Berdasarkan catatan UNESCO, kawasan bersejarah Jeddah ini mulai memegang peran krusial sejak abad ke-7 Masehi. Titik baliknya terjadi ketika Khalifah Utsman bin Affan menetapkan memindahkan pelabuhan utama dari Al-Shaiba ke pesisir ini sebagai gerbang maritim bagi jemaah haji (UNESCO, 2014). Sejak saat itu, Al-Balad berevolusi menjadi poros multikultural, tempat bertemunya para peziarah, saudagar, dan cendekiawan maritim dari jalur rute Samudra Hindia.
Anis Dyah Puspita, salah seorang Pembimbing Ibadah PPIH yang juga alumnus Al-Azhar Mesir, mengungkapkan bahwa jauh sebelum struktur modern Kerajaan Arab Saudi terbentuk, Al-Balad merupakan bagian vital dari wilayah Hijaz.
"Sekitar abad 19-an, (pelabuhan ini) sudah banyak dipakai oleh jemaah haji dari seluruh dunia termasuk dari Nusantara, dari berbagai pelabuhan seperti Batavia, Surabaya, hingga Aceh. Termasuk juga jemaah dari Mesir dan India, semuanya masuk melalui Al-Balad," ungkap Anis.
Kawah candradimuka kaum intelektual Islam

Kepadatan arus manusia di Al-Balad pada masa silam melahirkan fungsi sosiologis yang tak biasa. Kawasan ini bukan sebatas tempat transit logistik, melainkan kawah candradimuka bagi pertukaran diskursus Islam antarbenua.
Menurut penuturan Anis, pada awal abad ke-20 (sekitar tahun 1915-an dan setelahnya), Al-Balad mencapai puncak perannya sebagai melting pot intelektual. Rumah-rumah transit yang dulu menyerupai kompleks apartemen komunal mendadak menjadi ruang diskusi kelas dunia.
"Jemaah haji dari berbagai penjuru dunia datang bukan hanya untuk melaksanakan ibadah haji, tapi juga terjadi pertemuan intelektual antar tokoh-tokoh muslim. Di sana mereka bertukar pikiran mengenai fikih, perkembangan, dan pemikiran Islam," paparnya.
Bagi Nusantara, kedudukan Al-Balad sangatlah monumental. Di kawasan bertabur arsitektur karang inilah, transit para mahaguru bangsa seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy'ari, hingga pendahulu mereka, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Masa mukim dan transit tersebut memberikan asupan pembaruan yang kelak menjadi fondasi bagi organisasi-organisasi Islam terbesar di Indonesia dewasa ini.
Pesona Al Balad meruntuhkan ekspektasi

Saya datang ke Al-Balad dengan ekspektasi yang sejujurnya cukup rendah. Sebagai seseorang yang datang dari Yogyakarta—kota yang juga bernapas melalui denyut bangunan-bangunan bersejarahnya—saya awalnya mengira kunjungan ini tak akan jauh berbeda dengan sensasi menyusuri Jalan Malioboro lalu singgah di Benteng Vredeburg, atau sekadar menghabiskan sore di kawasan Kota Tua Jakarta. Sebuah wisata masa lalu yang oke namun statis.
Namun, di luar dugaan, Al-Balad membalikkan semua ekspektasi itu. Kawasan ini bukan sekadar museum terbuka yang terperangkap di abad lampau; ia adalah denyut nadi kota yang terus hidup dan berkembang. Deru proyek pemugaran dan perluasan yang masif terlihat di berbagai sudut, membuktikan komitmen serius untuk merawatnya, sekaligus menjadi untaian tali sejarah yang mengikat erat masa lalu dengan masa kini.
Menginjakkan kaki di jalanan berbatunya yang rapi, kita langsung ditawarkan untuk mengikuti Hajj Route—napak tilas jalur legendaris yang dulu dilalui jutaan jemaah haji usai armada kapal mereka berlabuh di pesisir Jeddah. Deretan toko suvenir, gerai perhiasan yang memantulkan cahaya senja, dan deretan kafe kekinian memang membuatnya terasa sedikit touristy. Tapi anehnya, hal itu tidak merusak esensi tempat ini.
Pesona khas masyarakat Hijaz tradisional terabadikan dengan sempurna dalam bangunan-bangunan karang antiknya. Fasadnya dihiasi oleh roshan (atau rawasheen)—jendela dan balkon kayu berukir rumit yang menjulang menutupi dinding. Secara historis dan arsitektural, roshan ini bukan sekadar ornamen estetika; ia adalah kecerdasan arsitektur vernakular Hijaz untuk mengalirkan angin laut yang sejuk ke dalam rumah di tengah teriknya iklim pesisir, sekaligus menjaga privasi penghuninya dari hiruk-pikuk jalanan.
Di tengah-tengah Al-Balad, Bayt Nassif berdiri gagah seolah menjadi poros kawasan ini. Dibangun pada akhir abad ke-19 (1881 Masehi), rumah megah berlantai empat ini menyimpan memori monumental sebagai kediaman Raja Abdulaziz tatkala pertama kali memasuki Jeddah pada 1925. Kini, ia bertransformasi menjadi museum sejarah. Memasuki Bayt Nassif adalah sebuah pilihan brilian bagi para pelancong yang cultured; menyusuri tangga kayunya yang landai—yang konon sengaja didesain tanpa undakan agar unta bisa naik hingga ke atap untuk mengantar perbekalan—seakan membawa kita melintasi lorong waktu ke era keemasan para saudagar Laut Merah.
Di seberang kemegahan Bayt Nassif, pemandangan kontras yang memikat menanti. Terdapat deretan kafe lokal yang menjadi oase bagi mereka yang sekadar ingin menikmati sore. Duduk di kursi kayu outdoor, menyeruput secangkir kopi Arab beraroma kapulaga atau manual brew v60 yang kini mendominasi kultur kopi anak muda Jeddah, sembari memandangi siluet bangunan bersejarah yang keemasan tertimpa matahari terbenam adalah sebuah kemewahan yang tak boleh dilewatkan.
Snapshot dari Al Balad
Bagaimanapun, denyut kesejarahan Al-Balad sama sekali belum mati. Sebagai wilayah yang dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, ia kini merawat lebih dari 600 bangunan berarsitektur langka. Eksplorasi sejarah dan spiritual di Al-Balad tidak akan paripurna tanpa melangkah ke rumah-rumah ibadahnya. Menyusup sedikit ke lorong distrik Al-Mazloum, berdirilah Masjid Al-Shafi'i, salah satu simpul penting dalam rute haji masa lampau. Di sinilah letak keutamaan spiritual kawasan ini. Diyakini sebagai masjid tertua di Jeddah yang pondasinya berasal dari abad ke-13 Masehi (era Ayyubiyah), arsitekturnya sangat memukau dengan tiang-tiang penyangga dari kayu ulin yang konon didatangkan langsung dari India.
Di masa lalu, setelah berbulan-bulan terombang-ambing dan selamat dari ganasnya badai laut, di halaman berlantai pualam masjid inilah para jemaah haji Nusantara dan belahan dunia lainnya merebahkan tubuh lelah mereka. Di tempat ini mereka bersujud syukur dan melangitkan doa sebelum melanjutkan perjalanan darat yang tak kalah berat menuju Makkah. Aura magis, ketenangan, dan sisa-sisa isak tangis rindu para peziarah itu seolah masih mengendap pekat di udara panas Jeddah, melampaui riuhnya suara ekskavator pemugaran di luar temboknya.
Perjalanan laut menantang maut

Lebih dari sekadar romantisme intelektual, menengok Al-Balad di masa lalu berarti melihat tapak tilas sebuah "rute maut" yang mempertaruhkan nyawa. Sebelum era penerbangan modern dan aspal mulus mendominasi pada pertengahan abad ke-20, menunaikan haji menuntut pengorbanan di luar batas wajar.
Berbeda dengan jemaah era sekarang yang bisa tertidur pulas dalam penerbangan 9 hingga 11 jam dari Jakarta menuju Jeddah, jemaah di masa lalu harus menumpang kapal layar atau kapal bertenaga uap (stoomboot) dengan waktu tempuh minimal satu hingga tiga bulan lamanya, hanya untuk berangkat. Menurut Anis, akumulasi perjalanan pulang-pergi tak jarang menghabiskan waktu enam bulan hingga satu tahun akibat lamanya transit pelabuhan dan cuaca buruk.
"Dulu banyak jemaah haji yang kemudian meninggal dalam perjalanan. Entah karena wabah kolera, kelelahan akut, atau kecelakaan akibat teknologi transportasi laut yang masih terbatas," kenang Anis.
Hal tragis inilah yang menjadi alasan filosofis di balik tradisi sakral 'pamitan haji' di Indonesia. Berangkat ke Tanah Suci di masa itu bermakna jihad—sebuah kepergian yang dibayangi kemungkinan tidak akan pernah kembali lagi memeluk sanak saudara. Dan penderitaan belum usai sesampainya di pesisir Jeddah. Setelah singgah di Al-Balad, jemaah masih harus membelah padang pasir menuju Makkah dengan menunggangi unta, keledai, atau sekadar berjalan kaki.
Kini, fungsi utama pelabuhan Al-Balad bagi jemaah haji reguler mungkin telah tergantikan oleh kesibukan di Bandar Udara Internasional King Abdulaziz. Meski Anis menuturkan bahwa sempat muncul wacana untuk menghidupkan kembali rute pelayaran laut guna menekan biaya haji akibat fluktuasi geopolitik (seperti eskalasi Iran-Israel), hal itu untuk saat ini tampaknya masih tetap mengudara sebagai wacana publik.
Refleksi di ujung lorong waktu

Berjalan meninggalkan Al-Balad selepas azan Maghrib mulai bersahutan dari menara-menara tuanya, memberikan sebuah refleksi yang menampar kesadaran. Berdiri di antara lorong-lorong batu karang ini, saya menyadari bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang hanya tertulis tebal di buku teks atau diam membeku di dalam etalase museum.
Sejarah adalah jejak langkah dan embusan napas jutaan manusia yang datang dengan satu tujuan mulia; sebuah epik panjang tentang pengorbanan, perjumpaan lintas budaya, dan harapan yang tak pernah putus. Al-Balad menolak untuk sekadar menjadi tua dan usang. Ia memilih untuk terus merawat denyut nadinya, menceritakan ulang kisah-kisah lama dengan bangga, dan menyambut kita para musafir modern dengan secangkir kopi dan pelukan hangat angin Laut Merah.
Referensi
UNESCO World Heritage Centre. (2014). "Historic Jeddah, the Gate to Makkah."
Saudi Press Agency (SPA). (2023). "‘Rawasheen’: A Model of Traditional Saudi Wooden Architecture."
Saudipedia. (2024). "Nassif House: Historical Jeddah".
Saudi Cultures. (2025). "Where Pilgrims Passed and Kings Stayed: The Story of Al Balad."



















