5 Gedung Bersejarah di Jakarta dengan Jejak Kependudukan Jepang

- Lima gedung bersejarah di Jakarta merekam pendudukan Jepang 1942–1945, ketika bangunan kolonial dialihfungsikan untuk administrasi, propaganda, pendidikan pemuda, dan persiapan kemerdekaan.
- Gedung Kesenian Jakarta menjadi panggung propaganda sekaligus ekspresi kebangsaan seniman, sedangkan Museum Joang ’45 menjadi basis penggemblengan pemuda Menteng 31.
- Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Gedung Pancasila, dan Gedung A.A. Maramis terkait perumusan kemerdekaan, sidang BPUPKI, serta pusat administrasi dan keuangan militer Jepang.
Jakarta tidak hanya kaya akan arsitektur peninggalan kolonial Belanda, tetapi juga menyimpan banyak saksi bisu dari periode pendudukan Jepang (1942–1945). Meski berlangsung singkat, hanya sekitar 3,5 tahun, masa kekuasaan Jepang memberikan pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Indonesia menuju kemerdekaan.
Pada masa tersebut, banyak gedung megah di Jakarta dialihfungsikan oleh tentara Jepang menjadi pusat administrasi, sarana propaganda, hingga markas pergerakan para pemuda. Berikut rekomendasi wisata gedung bersejarah di Jakarta yang menyimpan jejak penting pendudukan Jepang dan menarik untuk kamu kunjungi.
Table of Content
1. Gedung Kesenian Jakarta
Berlokasi di kawasan Pasar Baru, gedung bergaya neoklasik ini awalnya bernama Schouwburg Weltevreden pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Namun, ketika militer Jepang masuk pada 1942, bangunan ini beralih fungsi dan namanya sempat berganti menjadi Sinisi Gekijo.
Di bawah pengawasan badan kebudayaan Jepang atau Keimin Bunka Shidosho, Gedung Kesenian Jakarta difungsikan sebagai panggung pertunjukan drama, musik, dan sandiwara yang digunakan sebagai alat propaganda perang Pasifik. Meskipun dijadikan sarana propaganda, panggung ini juga dimanfaatkan oleh para seniman lokal Indonesia untuk menyisipkan pesan-pesan kebangsaan dan membakar semangat patriotisme masyarakat, lho.
Sampai sekarang ini, gedung yang terletak di Jalan Gedung Kesenian Nomor 1, Pasar Baru, Jakarta Pusat, ini masih berfungsi sebagai gedung pertunjukan seni, lho. Gaya bangunan klasiknya yang terjaga keindahannya dan kerapiannya menjadi daya tarik bagi para pencinta fotografi.
2. Museum atau Gedung Joang '45
Sebelum masa pendudukan Jepang, bangunan ini merupakan hotel mewah bernama Hotel Schomper. Ketika tentara Jepang menguasai Batavia, gedung sempat diambil alih dan pengelolaannya diserahkan kepada pihak militer Jepang untuk dijadikan sebagai Asrama Pemuda Menteng 31.
Di tempat ini, para pemuda pejuang, seperti Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, digembleng. Tokoh-tokoh nasional, seperti Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo, kerap memberikan pengajaran politik di sini. Meski berada di bawah pengawasan Jepang, Asrama Menteng 31 justru menjadi tempat pergerakan pemuda yang nantinya mendesak proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Koleksi mobil dinas pertama Presiden dan Wakil Presiden RI, foto-foto dokumentasi yang bersejarah, serta diorama perjuangan pemuda masih bisa kamu lihat dari dekat di museum yang berlokasi di Jalan Menteng Raya Nomor 31, Cikini, Jakarta Pusat, tersebut.
3. Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Gedung bergaya art deco yang megah di kawasan Menteng ini menyimpan jejak emas detik-detik kemerdekaan Indonesia. Pada masa invasi Jepang, rumah ini merupakan kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang (Kaigun).
Meskipun Maeda adalah seorang perwira tinggi militer asal Jepang, ia memiliki empati yang besar terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada malam tanggal 16-17 Agustus 1945, Maeda mengizinkan rumahnya dijadikan tempat aman bagi Soekarno, Hatta, dan para tokoh bangsa untuk merumuskan serta mengetik teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan Angkatan Darat Jepang (Rikugun).
Museum yang selalu dipadati wisatawan menjelang kemerdekaan RI ini berlokasi di Jalan Imam Bonjol No. 1, Menteng, Jakarta Pusat. Ruangan yang ditata persis sesuai kondisi aslinya seperti pada 1945, lengkap dengan replika mesin tik pengetik teks proklamasi, menjadi daya tarik utama dari Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
4. Gedung Pancasila
Terletak di dalam kompleks Kementerian Luar Negeri, Gedung Pancasila awalnya dibangun pada abad ke-19 sebagai kediaman Komandan Angkatan Bersenjata Kerajaan Belanda dan kemudian beralih fungsi sebagai Gedung Dewan Rakyat (Volksraad).
Saat Jepang berkuasa, gedung ini menjadi tempat sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/BPUPKI yang dibentuk oleh pemerintah militer Jepang. Di gedung ini, pada 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan pidato proklamasi kemerdekaan.
Meski kental dengan sejarah kemerdekaan, Gedung Pancasila yang berlokasi di Jalan Taman Pejambon Nomor 6, Senen, Jakarta Pusat, ini memiliki desain arsitektur pilar-pilar besar khas neoklasik yang jadi daya tarik terutama bagi pencinta seni dan fotografi.
5. Gedung A.A. Maramis
Gedung monumental yang terletak di Jalan Lapangan Banteng Timur Nomor 2, Pasar Baru, Jakarta Pusat, ini dahulunya dikenal sebagai Witte Huis (Rumah Putih) atau Istana Daendels. Dibangun pada awal abad ke-19, bangunan ini pernah dimanfaatkan sebagai pusat administrasi dan keuangan militer Jepang atau Gunseikanbu. Segala urusan regulasi ekonomi dan tata kelola keuangan kawasan yang dikuasai Jepang dikendalikan dari bangunan ini.
Setelah Indonesia merdeka, gedung ini difungsikan kembali sebagai Gedung Departemen Keuangan dan dinamai Gedung A.A. Maramis untuk menghormati Menteri Keuangan Indonesia yang kedua pada zaman tersebut.
Gedung-gedung bersejarah yang disebutkan tadi pernah menjadi saksi bisu masa pendudukan Jepang di Indonesia. Masih eksis hingga sekarang, gak ada salahnya menjelajahi satu per satu gedung-gedung bersejarah tadi untuk sekadar mencuci mata sekaligus menambah wawasan sejarah.























