7 Jenis Kereta Api di Indonesia, Bikin Mobilitas Lebih Mudah

Kereta api (KA) sudah lama menjadi moda transportasi umum yang menghubungkan berbagai daerah di Indonesia. Kendati saat ini jalur kereta aktif hanya tersedia di Pulau Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Namun, beberapa tahun belakangan mengalami perkembangan pesat yang membuatnya masuk salah satu moda transportasi umum favorit berbagai kalangan.
Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya kebutuhan untuk mendukung mobilitas, jenis KA di Indonesia pun semakin beragam. Mau tahu ada berapa jenis kereta api penumpang yang saat ini beroperasi di Indonesia? Yuk, intip daftar berikut ini!
1. Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ)
Kereta api jarak jauh melayani tujuan antarkota maupun antarprovinsi yang ditarik oleh lokomotif. Kecepatan maksimalnya 120 km per jam dengan kapasitas penumpang sekitar antara 1.000–1.120 orang. Jenis kereta api ini beroperasi di Pulau Jawa, Sumatra, dan Sulawesi dengan jarak tempuh ratusan hingga lebih dari 1.000 km.
Sebelum naik KAJJ, penumpang dapat memilih kelas layanan yang dibagi menjadi ekonomi, bisnis, eksekutif, dan luxury. Semua kelas akan dilengkapi dengan fasilitas AC, toilet, gerbong restorasi (kereta makan), kompartemen atas, dan stop kontak. Sedangkan fasilitas tambahan yang hanya dijumpai pada kelas tertentu, antara lain meja lipat di setiap kursi, reclining seat, selimut, musala, dan televisi.
Selain menawarkan fasilitas di dalam kereta, KAJJ pun menawarkan pemandangan menarik di sepanjang rutenya. Gak heran kalau beberapa rangkaian KAJJ terdapat gerbong kereta panoramic. Gerbong kereta itu dengan sunroof dan jendela kaca lebih lebar supaya penumpang lebih leluasa melihat pemandangan.
2. Kereta Api Lokal
Sepintas KA lokal mirip dengan KAJJ yang sama-sama ditarik oleh lokomotif. Perbedaannya jelas terletak pada rute, kecepatan, dan kapasitas penumpang. Kereta api lokal hanya menghubungkan kota-kota dalam satu provinsi, kecepatannya 45–100 km per jam, dan kapasitas totalnya sekitar 750–800 penumpang.
Walau kini sebagian KA lokal menggunakan embel-embel Commuter Line, tapi ini berbeda dengan KRL. Jenis KA yang dioperasikan oleh KAI Commuter ini hanya tersedia kelas ekonomi dengan fasilitas standar. Misalnya saja, KA Commuter Line Dhoho dan Penataran yang melayani rute Surabaya–Blitar via Malang dan Kertosono.
3. Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line
Bagi penumpang dengan mobilitas tinggi di Yogyakarta, Solo, dan Jabodetabek tentu sudah tidak asing dengan KRL Commuter Line. Jenis KA ini menggunakan rel listrik atas kereta dengan kecepatan maksimal 95 km per jam. Kapasitas totalnya mencapai 2.000 penumpang.
Jenis kereta tersebut saat ini hanya beroperasi di Jabodetabek dan Yogyakarta–Solo. Terdapat 5 KRL Commuter yang menghubungkan Jabodetabek dan terintegrasi. KRL Commuter Line Bogor, Lingkar Cikarang, Rangkasbitung, Tanjung Priok, dan Tangerang.
Sedangkan KRL Commuter Line yang melayani Yogyakarta dan sekitarnya, saat ini hanya ada dua. Pertama, Commuter Line Yogyakarta dengan rute Yogyakarta–Palur (PP). Kedua, Commuter Line Prambanan Ekspress dengan rute Kutoarjo–Yogyakarta (PP).
4. Mass Rapid Transit (MRT)
Mass Rapid Transit (MRT) disebut pula Moda Raya Terpadu saat ini hanya beroperasi di Jakarta. Sama dengan KRL, kereta ini menggunakan rel listrik atas kereta. Kecepatan maksimalnya mencapai 110 km per jam dengan kapasitas total 1.950 penumpang.
Walau mirip KRL, tapi MRT menggunakan jalur bawah tanah yang menghubungkan wilayah Jakarta Pusat hingga Selatan. Kereta ini dirancang untuk jarak yang lebih panjang. Jadi pilihan ideal untuk mengurangi kemacetan dan lalu lintas padat di kota besar.
5. Light Rail Transit (LRT)
Masih menggunakan listrik, tapi LRT menggunakan rel listrik aliran bawah dengan kecepatan maksimal 90 km per jam. Kapasitas totalnya lebih kecil dibanding dua KRL dan MRT, yakni hanya 600 penumpang. Saat ini, LRT melayani rute di Palembang, Jakarta, dan Jabodebek.
Jenis kereta dengan sebutan lain Lintas Rel Terpadu ini, pertama kali beroperasi pada 2018 di Palembang untuk mendukung penyelenggaraan Asian Games. Pada tahun berikutnya mulai aktif melayani penumpang di Jakarta. Ciri khas yang membedakan dengan jenis kereta lainnya, yakni memiliki gerbong lebih kecil dan lintasan di atas tanah atau di jalur layang.
6. Kereta Bandara
Kereta api tidak hanya menghubungkan antarkota, kini sudah terintegrasi dengan moda transportasi lain. Adanya kereta bandara membuat mobilitasmu lebih mudah dan nyaman, sebelum melakukan perjalanan jarak jauh. Kereta bandara menggunakan rel listrik atas kereta dan kecepatan maksimalnya 75 km per jam.
Penumpang dapat menggunakan layanan kereta bandara yang saat ini masih tersedia untuk rute ke dan dari Bandara Kualanamu, Yogyakarta, dan Soekarno-Hatta. KA Bandara Kualanamu menghubungkan Kota Medan dan Bandara Kualanamu di Deli Serdang. KA Bandara Yogyakarta melayani rute Yogyakarta International Airport (YIA), Stasiun Yogyakarta, dan Stasiun Wates. KA Bandara Soekarno-Hatta melayani rute Stasiun Batu Ceper–Bandara Soetta (PP).
Meski ketiganya merupakan KA bandara, tapi pengelola dan cara pemesanan tiketnya sedikit berbeda. Kalau kamu ingin naik KA Bandara YIA Xpress, KA Bandara YIA, KA Bandara Kualanamu, dan KA Srilelawangsa dikelola oleh KAI Bandara, yang tiketnya dapat dipesan melalui laman RAILINK. Sedangkan KA Bandara Soetta dikelola oleh KAI Commuter yang tiketnya dapat dipesan melalui laman reservation.kci.id.
7. Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB)
Satu lagi nih jenis kereta api di Indonesia, kereta cepat generasi baru yang saat ini melayani rute Jakarta Bandung. Nama lainnya Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh. Kereta ini memiliki kecepatan maksimal 420 km per jam dengan kapasitas 601 penumpang.
Penumpang dapat menempuh perjalanan lebih cepat dari Jakarta ke Bandung maupun sebaliknya. Jarak 142,3 km membutuhkan waktu tempuh 36–46 menit dan hanya berhenti di Stasiun Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar. Saat ini, Whoosh memiliki 62 perjalanan per hari, meningkat signifikan dari sebelumnya yang hanya 14 perjalanan.
Ketujuh jenis kereta api di atas dapat memudahkan mobilitas untuk berbagai tujuan, baik di dalam kota maupun ke luar provinsi. Mayoritas sudah terintegrasi dan pembelian tiket secara nontunai. Mana yang jadi kereta api andalanmu?