5 Etika Merayakan Galungan di Bali, Turis Wajib Tahu!

Hari Raya Galungan merupakan salah satu hari besar umat Hindu di Bali yang memperingati kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan). Perayaan ini juga menjadi momentum untuk mengenang terciptanya alam semesta.
Tahun ini, Galungan jatuh pada 17 Juni 2026. Sesuai dengan kalender Bali yang diperingati setiap 210 hari. Tepatnya pada hari Budha Kliwon Dungulan.
Saat perayaan Galungan berlangsung, suasana Bali terlihat berbeda dari biasanya. Sepanjang jalan, kamu akan melihat deretan penjor, yakni bambu hias yang menjulang tinggi dengan berbagai ornamen khas Bali. Penjor merupakan simbol rasa syukur dan kemakmuran.
Momen ini juga menjadi daya tarik Bali yang dikenal sebagai destinasi favorit turis mancanegara. Nah, bagi kamu yang ingin merayakan Galungan di Bali, simak beberapa etika yang perlu diperhatikan berikut ini!
Table of Content
1. Gunakan pakaian sopan saat berkunjung
Sebelum mengunjungi area pura atau menghadiri kegiatan perayaan Galungan, pastikan kamu mengenakan pakaian yang sopan. Pilih pakaian yang menutupi bahu dan lutut. Selain itu, hindari pakaian yang terlalu ketat, celana pendek, maupun rok pendek.
Bagi perempuan, disarankan mengenakan kain dan senteng yang dililitkan di pinggang sebagai bentuk penghormatan terhadap adat setempat. Sementara itu, laki-laki dapat mengenakan kain saput dan penutup kepala berupa udeng. Selain menunjukkan rasa hormat, berpakaian sesuai adat juga membuatmu lebih mudah berbaur dengan masyarakat lokal.
2. Jaga sikap dan hormati jalannya ibadah

Saat menyaksikan prosesi sembahyang atau upacara keagamaan, penting untuk menjaga sikap dan perilaku. Hindari berbicara dengan suara keras, bercanda berlebihan, atau mengeluarkan kata-kata kasar yang dapat mengganggu warga setempat.
Selain itu, jangan mengangkat telepon atau menyalakan suara dari handphone saat prosesi berlangsung. Jika ingin memasuki area pura, pastikan kamu meminta izin terlebih dahulu dan memahami aturan yang berlaku. Dengan begitu, kehadiranmu gak akan mengganggu jalannya upacara.
Bagi wanita, pastikan kamu tidak sedang haid jika ingin memasuki area pura. Sebab, wanita haid dilarang memasuki area pura.
3. Minta izin sebelum mengambil foto
Banyak wisatawan yang tertarik mengabadikan momen perayaan Galungan. Sebelum mengambil foto atau merekam video, sebaiknya minta izin terlebih dahulu kepada pemuka adat, panitia upacara, atau warga setempat.
Usahakan mengambil gambar dari jarak jauh. Hindari penggunaan flash karena dapat mengganggu jalannya prosesi. Pastikan juga kamu tidak berdiri di jalur iring-iringan upacara atau menghalangi orang yang sedang beribadah.
4. Jangan menyentuh atau menginjak canang

Selama di Bali, kamu akan sering menjumpai canang dan sesajen yang diletakkan di depan rumah, pura, toko, maupun pinggir jalan. Bagi sebagian orang, benda tersebut mungkin terlihat menarik dan bikin penasaran.
Penting untuk memahami bahwa canang merupakan bagian dari persembahan suci dalam tradisi Hindu Bali. Jadi, jangan menyentuh, memindahkan, mengambil, apalagi menginjak canang yang berada di sekitar kamu.
Sesajen tersebut memiliki makna sebagai ungkapan syukur, kemakmuran, dan kesejahteraan. Jadi, kamu harus menghormati keberadaan canang.
5. Ikuti petunjuk dari pemandu lokal
Menjelang dan selama Hari Raya Galungan, kondisi lalu lintas di beberapa wilayah Bali biasanya lebih padat dari hari biasa. Banyak warga yang pulang kampung dan wisatawan yang memadati berbagai tempat.
Oleh sebab itu, kamu harus mengikuti arahan dari pemandu lokal atau masyarakat setempat. Mereka biasanya memahami waktu dan jalan yang ramai, karena prosesi keagamaan. Sebaiknya hindari melewati jalur tertentu saat jam sembahyang, agar perjalananmu tetap nyaman dan tidak mengganggu kegiatan warga.
Itu dia beberapa etika merayakan Hari Raya Galungan di Bali yang perlu kamu pahami. Dengan menghormati adat yang berlaku, kamu juga turut menjaga kenyamanan dan kekhusyukan masyarakat yang sedang menjalankan ibadah. Selamat merayakan Hari Raya Galungan!

















