Kenapa Wakayama Wajib Dikunjungi saat Musim Gugur?

Wakayama menawarkan puncak momiji lebih lama, diperkirakan 26 November–11 Desember 2026, sehingga cocok dikunjungi setelah Kyoto atau Osaka.
Suasana musim gugur di Wakayama cenderung lebih tenang, dengan momiji di Koyasan dan Negoro-ji serta pengalaman spiritual seperti shukubo dan shojin ryori.
Wisatawan dapat memetik mikan dan kesemek, menyaksikan hoshigaki, lalu menikmati lanskap pegunungan, pantai Shirahama, serta onsen dalam satu prefektur.
Jepang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan mancanegara. Negeri Matahari Terbit ini memiliki beragam daya tarik. Mulai dari budaya, kuliner, hingga pemandangan alam yang berbeda di setiap musim.
Salah satu wilayah yang sering menjadi tujuan alternatif selain Tokyo adalah Kansai. Terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati musim gugur di Jepang.
Para pelancong dapat menyaksikan keindahan alam sekaligus kekayaan budayanya yang masih kental. Selain itu, tiket pesawat untuk penerbangan dari Indonesia ke Bandara Kansai biasanya relatif lebih terjangkau dibanding ke Tokyo.
Nah, buat kamu yang berencana liburan ke Jepang dalam waktu dekat, sebaiknya mempertimbangkan untuk mengunjungi Wakayama. Kira-kira, kenapa Wakayama wajib dikunjungi saat musim gugur? Simak beberapa alasannya berikut ini!
1. Puncak momiji di Wakayama lebih lama daripada Osaka
Musim gugur identik dengan momiji, yakni daun maple yang berubah menjadi kuning, oranye, hingga merah. Setiap wilayah di Jepang memiliki periode momiji yang berbeda, tergantung kondisi geografisnya. Demikian pula dengan Wakayama, di mana puncak momiji di sana lebih akhir dan berlangsung lama daripada Osaka.
Melansir dari Japan Meteorological Corporation, puncak musim gugur di Wakayama tahun ini diperkirakan jatuh pada 26 November hingga 11 Desember 2026. Sementara itu, puncak musim gugur di Osaka terjadi beberapa hari lebih awal dan sedikit lebih pendek. Diperkirakan berlangsung pada 24 November hingga 4 Desember 2026.
Menariknya lagi, warna-warna momiji kerap kali masih dapat dijumpai hingga pertengahan Desember di kawasan pegunungan. Selisih waktu tersebut membuat Wakayama cocok untuk menjadi destinasi berikutnya setelah dari Kyoto dan Osaka. Terlebih kalau kamu ketinggalan puncak musim gugur di kedua kota sebelumnya.
2. Suasana momiji cenderung lebih tenang

Kuil Seiganto-ji, Wakayama (unsplash.com/pen_ash) Wakayama belum sepopuler Kyoto maupun Osaka di kalangan wisatawan mancanegara. Oleh karena itu, suasananya lebih tenang dan syahdu.
Salah satu tempat yang bisa kamu kunjungi adalah Koyasan, kota suci pusat Buddhisme Shingon yang menjadi situs Warisan Dunia UNESCO. Sepanjang jalan menuju Kompleks Okunion ditumbuhi pohon maple yang akan berubah menjadi merah dan keemasan saat musim gugur.
Jika ingin mengunjungi destinasi yang lebih tersembunyi, kamu bisa mengunjungi Negoro-ji di Iwade. Kuil ini berusia sekitar 900 tahun dengan pagoda yang berstatus sebagai National Treasure. Ada pula area Momiji Dani atau lembah maple di sekitar Sungai Otani yang jauh lebih lengang dibanding kuil-kuil di Kyoto maupun Osaka.
Suhu udara pegunungan yang sejuk juga membuat atmosfer spiritual di sejumlah tempat tersebut lebih kental. Kamu bisa berjalan santai sambil menikmati dedaunan yang berubah warna tanpa harus rebutan spot foto atau antre panjang.
Beberapa kuil, terutama di Koyasan menawarkan shojin ryori. Ini merupakan masakan vegetarian ala biksu Buddha sebagai bagian dari pengalaman menginap di Shukubo yang membuat musim gugur semakin berkesan.
3. Pengalaman berbeda untuk menikmati buah musim gugur
Cara menikmati musim gugur tidak hanya dengan momiji, lho. Ada aktivitas seru lainnya seperti memetik buah musim gugur.
Wakayama terkenal sebagai salah satu penghasil mikan (jeruk mandarin asal Jepang) dan kesemek terbesar di Jepang. Musim gugur hingga awal musim dingin merupakan musim panen buah-buahan seperti mikan, kesemek, dan plum.
Sejumlah kebun mikan menawarkan pengalaman petik buah untuk wisatawan. Dilengkapi dengan pemandangan kebun jeruk yang menghadap ke Samudra Pasifik.
Tidak hanya itu, kamu juga bisa menyaksikan tradisi hoshigaki, yakni mengupas kesemek dan menggantungnya untuk dikeringkan secara alami hingga menjadi camilan manis yang legit. Deretan kesemek oranye menggantung di teras rumah petani yang menjadi salah satu pemandangan khas pedesaan di Wakayama.
Di beberapa desa penghasil kesemek, wisatawan bisa ikut berpartisipasi dalam proses mengupas dan menggantung kesemek. Pengalaman budaya ini terasa lebih personal dibanding sekadar melihat pemandangan dari kejauhan. Aktivitas seperti ini jarang ditawarkan destinasi wisata musim gugur lainnya di Jepang, sehingga membuat pengalaman traveling lebih variatif.
4. Merasakan nuansa gunung dan pantai sekaligus saat musim gugur

Pantai Shirahama, Wakayama (instagram.com/insta_shirahama) Keunikan lain dari Wakayama adalah kamu bisa merasakan dua nuansa musim gugur yang berbeda di satu prefektur. Di Koyasan, kamu dapat melihat momiji dengan latar pegunungan dan jalur ziarah Kumano Kodo yang sejuk dan tenang.
Sementara itu, kamu bisa menikmati suasana pantai berpasir putih di Shirahama yang masih terasa hangat di bawah sinar matahari musim gugur. Destinasi ini bisa ditempuh hanya dalam beberapa jam perjalanan.
Kamu bisa menikmati keduanya dalam satu hari. Misalnya menyusuri jalur pegunungan yang berkabut saat pagi hingga siang hari. Kemudian, dilanjutkan dengan berendam di Shirahama Onsen, salah satu onsen tertua di Jepang.
Tak hanya itu, kamu juga bisa berendam di Katsuura yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik. Perpaduan antara suhu, warna, dan suasana antara pegunungan dan pesisir ini jarang bisa didapatkan dalam satu itinerary di daerah lainnya.
Jadi, kalau kamu masih bingung mau liburan musim gugur ke mana, Wakayama layak untuk dipertimbangkan. Selain periode momiji-nya lebih lama, kamu juga akan bisa memanen buah, menikmati suasana spiritual yang lebih khusyuk, hingga nuansa gunung dan pantai. Tertarik untuk memasukkan Wakayama ke dalam itinerary liburanmu?




















