Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Walking Tour di Kota Asia Justru Lebih Melelahkan?

ilustrasi walking tour
ilustrasi walking tour (commons.wikimedia.org/Herbertkikoy)
Intinya sih...
  • Iklim tropis membuat jalan kaki cepat menguras tenaga, terutama di kota-kota Asia seperti Jakarta dan Penang.
  • Jalan kota Asia sering memaksa pejalan kaki berhenti terus karena tata kotanya yang tidak rapi dan jalur yang tidak lurus.
  • Trotoar kota Asia belum sepenuhnya ramah pejalan kaki, sehingga walking tour terasa melelahkan dan memerlukan konsentrasi ekstra.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Walking tour sering dipromosikan sebagai cara santai untuk mengenal kota secara dekat, tetapi pengalaman di banyak kota Asia justru terasa lebih menguras tenaga. Aktivitas berjalan kaki di kawasan padat seperti Tokyo, Bangkok, atau Hanoi kerap menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan kota-kota Eropa.

Iklim, tata kota, hingga kebiasaan lokal membuat walking tour di Asia memiliki karakter tersendiri yang tidak selalu ramah bagi pejalan kaki. Meski tetap menarik secara visual dan budaya, aktivitas ini menuntut persiapan yang lebih matang. Berikut beberapa alasan yang menjelaskan mengapa walking tour di kota Asia terasa lebih berat dari yang dibayangkan.

1. Iklim tropis membuat jalan kaki cepat menguras tenaga

George Town
George Town, Penang, Malaysia (commons.wikimedia.org/Pangalau)

Walking tour di banyak kota Asia sering terasa melelahkan bukan karena jaraknya, melainkan karena cuacanya. Di kawasan seperti Kota Tua Jakarta atau George Town, Penang, panas dan lembap datang bersamaan sejak pagi. Meski belum lama berjalan, tetapi baju sudah basah oleh keringat. Kondisi ini membuat energi terkuras lebih cepat dibandingkan berjalan di kota beriklim sejuk.

Paparan matahari langsung memperparah situasi, terutama di ruas jalan yang minim pepohonan atau kanopi. Saat siang hari, trotoar berubah menjadi permukaan panas yang memantulkan suhu ke tubuh. Tidak mengherankan jika walking tour di Asia terasa jauh lebih berat dibandingkan Kyoto pada awal musim semi atau Seoul saat musim gugur.

2. Jalan kota Asia sering memaksa pejalan kaki berhenti terus

Hanoi Old Quarter
Hanoi Old Quarter (commons.wikimedia.org/Richard Mortel)

Banyak kota Asia tumbuh dari aktivitas dagang dan permukiman lama yang saling berhimpitan. Saat walking tour di Old Quarter Hanoi atau Mong Kok, Hong Kong, jalan bisa tiba-tiba menyempit, bercabang tanpa penanda jelas, atau berubah fungsi jadi area parkir dan lapak. Pejalan kaki jarang mendapat jalur lurus yang bisa ditempuh lama tanpa gangguan.

Langkah sering terputus oleh persimpangan kecil, kendaraan yang keluar-masuk gang, atau keramaian mendadak. Tanpa disadari, kamu lebih sering berhenti daripada berjalan. Kondisi inilah yang membuat walking tour terasa melelahkan, meskipun jarak tempuh di peta sebenarnya tidak jauh.

3. Trotoar kota Asia belum sepenuhnya ramah pejalan kaki

Little India, Singapura
Little India, SIngapura (commons.wikimedia.org/Marcin Konsek)

Trotoar di banyak kota Asia masih memiliki fungsi ganda. Di Little India, Singapura atau kawasan lama Bangkok, jalur pejalan kaki sering berbagi ruang dengan pedagang, parkir motor, atau tiang. Pejalan kaki kerap dipaksa turun ke badan jalan tanpa pilihan lain.

Situasi ini membuat walking tour tidak hanya mengandalkan stamina, tetapi juga konsentrasi. Setiap langkah perlu diperhatikan agar tidak tersandung atau bersinggungan dengan kendaraan. Energi yang seharusnya dipakai untuk menikmati kota justru habis untuk berjalan di jalur yang tidak ideal.

4. Jalan kaki di kota Asia sering kalah oleh keramaian

Shibuya Crossing, Tokyo
Shibuya Crossing, Tokyo (pexels.com/Boris K)

Walking tour di kota Asia jarang memberi kamu kesempatan untuk berjalan dengan tenang. Di Shibuya, Tokyo, pejalan kaki harus berbagi jalur dengan ribuan orang yang bergerak cepat ke arah berbeda. Di Orchard Road, Singapura, arus manusia berubah tiap beberapa meter karena pintu mal, halte, dan penyeberangan. Langkah jadi pendek-pendek, bukan karena capek, tetapi karena tidak ada ruang untuk melangkah secara normal.

Situasi ini membuat energi habis tanpa terasa. Baru jalan sebentar terus berhenti, mulai lagi, lalu berhenti lagi mengikuti arus sekitar. Fokus tidak pernah benar-benar santai karena harus membaca gerak orang lain. Walking tour akhirnya terasa melelahkan bukan karena jaraknya, tetapi karena situasi yang tak memungkinkan untuk menikmati suasana kota.

5. Di peta terlihat dekat tapi kenyataannya kamu harus memutar

Bangkok, Thailand
Bangkok, Thailand (commons.wikimedia.org/Fabio Achilli)

Di banyak kota Asia, peta digital sering memberi kesan semua tempat bisa dicapai dengan berjalan kaki. Kenyataannya, walking tour di pusat Kuala Lumpur atau Bangkok sering terhambat jalan besar tanpa penyeberangan langsung. Pejalan kaki harus mencari jembatan, underpass, atau memutar mengikuti arus kendaraan. Jarak yang terlihat 500 meter di layar bisa berubah menjadi hampir dua kilometer di lapangan.

Masalahnya bukan sekadar jauh, tetapi tidak terprediksi. Energi sudah dikeluarkan sebelum sampai tujuan karena jalurnya berputar dan tidak sesuai perkiraan. Di titik ini, walking tour terasa menguras tenaga karena ekspektasi sejak awal sudah keliru.

Walking tour di kota Asia memang menawarkan pengalaman budaya yang kaya dan detail yang sulit didapat dari kendaraan. Namun, kombinasi iklim, tata kota, dan fasilitas membuat aktivitas ini terasa lebih melelahkan dibandingkan destinasi lain. Dengan memahami karakter kota dan menyesuaikan rute serta waktu berjalan, pengalaman walking tour bisa tetap menyenangkan. Jadi, apakah kamu siap menyiapkan strategi yang lebih tepat sebelum menjelajah kota Asia dengan berjalan kaki?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in Travel

See More

5 Hal Sepele yang Bikin Gagal saat Interview Visa, Apa Saja?

04 Feb 2026, 08:06 WIBTravel