Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kota di Asia yang Alami Overtourism, Ada Indonesia!

5 Kota di Asia yang Alami Overtourism, Ada Indonesia!
Shibuya di Tokyo, Jepang (unsplash.com/Jezael Melgoza)
Intinya Sih
  • Lima kota di Asia, termasuk Bangkok, Bali, Kyoto, Seoul, dan Tokyo, mengalami overtourism akibat lonjakan wisatawan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
  • Overtourism menimbulkan berbagai dampak negatif seperti kemacetan, sampah menumpuk, perilaku turis yang mengganggu warga lokal, serta tekanan terhadap lingkungan dan infrastruktur kota.
  • Beberapa pemerintah kota mulai menerapkan pembatasan kunjungan dan aturan ketat untuk menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kenyamanan warga setempat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kota-kota di Asia memang sudah lama jadi lokasi favorit banyak turis asing, terutama bagi mereka yang berasal dari Eropa dan Amerika. Pemandangan eksotis, cuaca yang hangat bersahabat, hingga budaya beragam membuat banyak kota di Asia jadi incaran turis untuk menghabiskan waktu liburannya.

Di satu sisi, kedatangan para turis ini memang ampuh banget dalam menggerakkan perekonomian warga lokal. Namun di sisi lain, kunjungan turis yang terlalu banyak alias overtourism juga bisa menyebabkan sejumlah masalah. Dari sekian banyak kota di Asia, berikut beberapa kota yang mengalami overtourism. Kota mana saja dan seberapa parah overtourism di kota-kota tersebut?

1. Bangkok, Thailand

Arun Wat di Bangkok, Thailand
Arun Wat di Bangkok, Thailand (unsplash.com/Sung Shin)

Menyandang status sebagai ibu kota membuat Bangkok menjadi gerbang kedatangan para pelancong yang ingin menghabiskan waktu liburannya di Thailand. Banyak dari mereka memulai agenda wisatanya dengan berkeliling kota sebelum pindah ke kota lainnya. Bangkok sendiri memang merupakan kota yang menarik.

Beda dengan ibu kota lainnya yang sarat akan modernitas dan gedung-gedung tinggi, di Bangkok, kamu masih bisa menemukan warna yang berbeda dari sejumlah kuil, seperti Kuil Buddha Wat Arun, Istana Kerajaan, hingga belanja di Chatuchak Market yang terkenal. Saking menariknya Bangkok di mata wisatawan, kota ini bahkan sampai dinobatkan sebagai kota paling banyak dikunjungi pada 2025 lalu dengan total kunjungan sekitar 30,3 juta. 

2. Bali, Indonesia

ilustrasi pemandangan pura di Bali
ilustrasi pemandangan pura di Bali (unsplash.com/Dika Pebriyanta)

Sejauh ini, Bali masih menjadi salah satu kota paling populer untuk dikunjungi di Indonesia. Gak bisa dipungkiri, Bali memang luar biasa dengan sejumlah pantai dan budayanya yang masih kental. Saking terkenalnya Pulau Dewata, banyak turis asing yang hanya tahu Bali tanpa tahu Indonesia.

Pada 2025 kemarin, tercatat ada lebih dari 7,05 juta pengunjung asing yang menginjakkan kakinya di Bali. Angka ini naik sekitar 11,3 persen dari tahun sebelumnya.

Sayangnya, kunjungan turis yang membludak gak selalu memberikan efek positif bagi Pulau Dewata. Kemacetan akibat parkir ilegal di dekat lokasi wisata populer, tumpukan sampah di pantai-pantai, hingga perilaku turis asing yang kadang seenaknya juga merusak Bali. Terakhir, pembangunan vila dan hotel yang pesat lambat laun juga berdampak negatif pada lingkungan alam Bali yang dulu dikenal asri.

3. Kyoto, Jepang

Distrik Gion di Kyoto, Jepang
Distrik Gion di Kyoto, Jepang (unsplash.com/Sorasak)

Kyoto sejak dulu dikenal sebagai kota yang tenang dengan kuil-kuil kuno serta sejarah masa lalu yang panjang. Ngomongin soal wisata, Kyoto memiliki sejumlah tempat menarik. Mulai dari Hutan Bambu Arashiyama, Kuil Fushimi Inari yang ikonik dengan gerbang berwarna oranye, hingga Distrik Gion yang merupakan distrik Geisha.

Sayangnya, menjadi salah satu kota paling populer di Jepang juga memberikan imbas buruk bagi kota ini. Sama seperti Tokyo, overtourism juga menjadi masalah besar bagi kota ini. Pada 2024, kunjungan wisatawan ke kota ini mencapai angka 10,88 juta jiwa dengan rata-rata 150.000 pengunjung per harinya.

Masalahnya, kunjungan wisatawan yang membludak berpengaruh buruk pada kehidupan warga lokal. Mulai dari transportasi umum yang penuh sesak hingga kepadatan di distrik populer seperti Higashiyama yang jadi sulit dilewati pada saat jam-jam sibuk. Gak hanya itu, banyak turis bersikap buruk dengan mengganggu calon Geisha yang lewat, menodai kuil, hingga menggeser pintu ke Machiya (rumah tradisional Jepang) yang sebetulnya merupakan rumah pribadi warga lokal. 

4. Seoul, Korea Selatan

Seoul, Korea Selatan
Seoul, Korea Selatan (unsplash.com/Yu Kato)

Berawal dari viralnya musik K-pop dan drama Korea, Seoul mengalami lonjakan wisatawan. Pada Juli 2025 lalu, kota ini dikunjungi oleh 1,36 juta turis asing dari berbagai negara di dunia. Sama seperti Bangkok, Seoul menjadi pilihan wisatawan karena kota ini menjadi pintu gerbang utama untuk memasuki Korea Selatan sekaligus juga markas besar para fans KPop.

Selain KPop, wisata di Seoul juga gak luput dari serbuan wisatawan. Salah satu yang populer adalah Gamcheon Hanok Village yang merupakan kompleks perumahan sejak zaman kerajaan. Namun, sama seperti yang dialami oleh Kyoto, keberadaan turis asing membuat penghuni Gamcheon Hanok Village terganggu. Gak sedikit pula warga lokal yang memutuskan pindah dari wilayah tersebut.

Untuk mengantisipasi berkurangnya penduduk di sana, pemerintah setempat mulai membatasi kunjungan dengan menerapkan jam malam. Bus wisata hanya boleh beroperasi hingga kawasan tertentu dan kunjungan wisata hanya boleh dilakukan dari pukul 10.00-17.00. Gak main-main, turis yang kedapatan masih berkeliaran di luar jam kunjungan juga akan dikenai denda sebesar 100.000 won Korea, lho!

5. Tokyo, Jepang

Shibuya di Tokyo, Jepang
Shibuya di Tokyo, Jepang (unsplash.com/Jezael Melgoza)

Overtourism memang menjadi salah satu masalah yang dihadapi oleh Jepang. Pada 2024 lalu, negara ini menerima sekitar 36,9 juta turis internasional dari berbagai negara. Kyoto bukan satu-satunya kota di Jepang yang mengalami overtourism, karena Tokyo juga mengalami hal yang sama.

Di Tokyo, overtourism sangat terasa, terutama di area distrik populer, seperti Shibuya. Selama momen liburan atau perayaan, persimpangan jalan paling terkenal di seantero Jepang ini bakal jadi terlalu ramai, sehingga menyebabkan kemacetan, tumpukan sampah, hingga suasana bising.

Gak hanya persimpangan Shibuya, sejumlah tempat, seperti Kuil Asakusa dan Disneyland Tokyo, juga akan jadi lebih padat. Antrean mengular di mana-mana, bahkan sebelum tempat tersebut dibuka. Di jalanan, gak sedikit turis yang berperilaku buruk dengan mabuk di jalanan, membuang sampah sembarangan, hingga mengganggu kawasan sekitar tempat mereka tinggal dengan berpesta dan membuat kebisingan semalam suntuk.

Kunjungan wisatawan berlebihan memang bisa mendatangkan masalah. Bukan hanya warga lokal yang merasa terganggu, bahkan turis yang berkunjung pun merasa gak nyaman dengan suasana yang terlalu ramai. Buat kamu yang mau berkunjung ke kota-kota di atas, sebaiknya hindari high season atau musim liburan lainnya supaya momen liburan jadi lebih menyenangkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Travel

See More